Wajah Kuntilanak

Adakah di jaman modern seperti sekarang ini yang masih takut dengan hantu? Apalagi di negara Hong Kong tempat kita mengais dolar ini adalah salah satu negara maju dengan fasilitas tehnologi yang luar biasa canggih. Eits…tapi jangan salah lho...

Mengais Rezeki Tambahan Dihari Libur

Kebebasan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong yang mempunyai waktu libur sepekan sekali dan public holiday, banyak di manfaatkan BMI untuk mengais rejeki tambahan dengan berjualan. Walau sebenarnya BMI berjualan itu...

Tahun Baru

Gulir waktu kian menganga Menapak batas semesta Kerlip bintang tebarkan cahaya di gelap langit Memoles indah angkasa luas...

Tapak Perjalanan

Jelajahi tapak perjalanan masa lalu Seraya merajut harap pada sisa waktu Bermuhasabah Berbenah Berjuang dan berusaha menggapai yang belum tercapai...

Desaku

Kumandang adzan di ujung fajar Hembusan angin semerbak bau bawang Gemericik air dan cicit kenari di pematang ladang Mengukir indah bingkai kenangan...

Rabu, 12 November 2014

Jengkol Oh Jengkol


        Kerja pada majikan yang super baik dan tidak pelit itu sesuatu banget! Saya sangat bersyukur sekali mendapatkan majikan baik dan saya juga bisa bekerja serumah dengan kakak kandung saya satu-satunya yang super kocak dan gokil.
        Pembaca yang budiman, masih ingatkah cerita saya tempo hari tentang kakak kandung saya yang bernama Mbak Asri pecinta jengkol dan pete? Nah, kemaren dia bikin ulah lagi.
        Karena kami kerja serumah, tentunya kami juga tidur satu kamar. Biasanya saya tidur di ranjang bawah, dan Mbak Asri tidur di ranjang atas. Selain itu, kamar kami juga dilengkapi kamar mandi pribadi dan AC (hmmmm…dan nikmat manakah yang bisa saya dustakan?).
        Suatu malam yang melelahkan. Pasalnya, seharian saya nyapu kebun buah milik majikan. Apalagi pada musim gugur seperti sekarang ini, bisa dibayangkan seperti apa ngeresnya? Daun-daun kering berjatuhan di mana-mana. Belum lagi kebun buahnya yang sangat luas, ada 20 pohon buah leci, 2 pohon buah klengkeng, 3 pohon buah mangga, pear, pisang, jeruk, pokoknya lengkap dech segala macam pohon buah ada. Nyapu seharian, capeknya tuh di sini (nunjuk tangan dan kaki).
        Tepat pukul 4 dini hari, saya masih tidur dengan lelapnya. Tiba-tiba hidung saya kembang kempis mencium bau yang luar biasa menyengat! Nyawa saya yang sedang asyik berkelana di alam mimpi seketika terhembas ke alam nyata.
        “Mbak! Kamu lagi B’OL ya?”
        “Aduhhhh…perutku sakit banget nih.” Jawab Mbak Asri dari dalam toilet.
        OMG! Malam-malam B’OL bau jengkol lagi! Kao meng a…..

        Tak tahan dengan bau yang sungguh sangat menyengat, saya segera bangun lalu menyalakan jao hei sin (kipas penyedot) dan AC. Tak lupa saya juga membuka jendela lebar-lebar agar bau jengkolnya cepet keluar. Dan sebelum tidur kembali, saya semprotkan minyak wangi ke seluruh ruangan (alternative nggak ada pewangi ruangan, hahahaha…)
dimuat Apakabar Plus Edisi #17 Thn IX *8-21 November 2014

Rabu, 05 November 2014

Sebuah Perjuangan

Pertama kali terjun di dunia kepenulisan, saya masih sangat minim pengetahuan. Saya belum tahu banyak tentang dunia tulis menulis. Waktu itu saya ingat saat teman-teman saya di Forum Lingkar Pena Hong Kong menjuarai lomba menulis, pengen banget bisa seperti mereka. Sampai-sampai saya pinjam piala mereka untuk narsis. Di dalam hati, saya sembari berdoa, "Ya Allah semoga suatu hari nanti saya akan mendapatkan piala seperti ini.

 Nah, ini nich fotonya hehehe.....
Keajaiban Tuhan benar-benar datang ketika saya benar-benar berjuang pantang menyerah. setelah berbagai macam lomba menulis aku ikuti. Namun, tak satu pun yang lolos.

"Lu, kamu ikut lomba cerpen di Bintang Al-Ikhlas?" tanya Diani
"Pengen sih, tapi belum selesai. Ceritanya mentok nggak bisa dikembangkan." jawabku pesimis.
Hampir mendekati deadline baru saya paksakan untuk menyelesaikan cerpen yang akan saya ikutkan lomba tersebut.

Ah, biarin lah. Yang penting saya sudah mencoba. Juara atau tidak, yang penting saya sudah berusaha.
Minggu sore yang sangat sibuk, saya mendapat SMS dari Diani, "Lu, kamu juara 2 di Mbak Lintang."
Saya hampir tak percaya dengan SMS yang baru saja saya baca. Berulang kali saya baca SMS itu dengan hati berbunga-bunga. Saya tersenyum-senyum sendiri. Rasanya sudah tak tergambangkan. Bahagia tingkat dewa hehehe...Yes, akhirnya juaraaaaaaa!!!!!

foto saat saya pertama kali mendapat juara 2 lomba menulis cerpen
Alhamdulillah...semua adalah perjuangan. Buah dari sebuah usaha yang pantang menyerah. Sekali gagal, coba lagi. Gagal lagi, coba lagi, sampai berhasil. Ini adalah hasil dari sebuah kepercayaan. Percayalah jika Anda bisa, Anda pasti bisa! The Power of Positif Thinking!
Saat saya mendapat juara 2 lomba foto
Saat saya mendapat juara 3 lomba cerpen islami
Ini sedikit pengalaman saya di dunia kepenulisan, semoga menginspirasi, dan tetap semangat.
Salam Literasi! 

Selasa, 21 Oktober 2014

Tahu Goreng Lalap Pete

Seperti apakah makan siang yang menggairahkan menurut kalian, Kawan? Apakah ketika perut lapar karena habis ngungyan, atau pas lauknya enak, cucok dengan selera? Nah, kalau menurut Mbak Asri, kakak saya—yang gokil dan inspiratif (sering jadi objek inspirasiku maksudnya hehehe) baru saja mendapat paketan makanan nusantara terfavorit (menurut versi dia pribadi ya…) pun merujuk pada kenyataan di sekeliling yang sering saya jumpai setiap ada kawan BMI yang pulang ke kampung dan kembali lagi ke negeri beton ini, kebanyakan mereka membawa makanan harum nian lezat ini yaitu pete dan jengkol.
Siang itu Mbak Asri menyantap nasi kuah sayur bayam dan tahu goreng dengan lahapnya. Apalagi menu siang ini ditambah pete dan sambel terasi asli dari tanah jawi.
“Ueennak…tenan, Dek. Pete ne muaaantep, maknyusss!” katanya sambil tak berhenti mengunyah nasi.
Aku hanya mangguk-mangguk mengiyakan. Walau saya doyan pete, tapi pete ini sangat tua, jadi rasa dan baunya cetar cetar di mulut. Aku hanya melalap satu butir saja.
Namun, tahukah kawan? Entah sangking sukanya sama pete, atau karena sudah lama nggak makan Mbak Asri melahap begitu banyak pete siang itu. Tak puas, setelah semua nasi raib dari piringnya, dia melahap tahu goreng lalap pete! Alamak...bisa-bisa mendem pete nieh orang. Nggak kebayang kan? Kalau tahu goreng lalap cabe itu biasa, tapi kalau tahu goreng lalap pete itu baru luarrrrr biasa. Mungkin baru Mbak Asri saja yang pernah mencoba.
Alhasil, malamnya dia megap-megap sendiri saat keluar dari toilet sangking harumnya bau air kencingnya sendiri. Huahuahua!
“Kosek’o dewe WC mu, Mbak!” hueekkkkk…jleb!
dimuat Apakabar Plus edisi #16 Thn IX *18-7 November 2014 

Semburat Jingga


Semburat Jingga

Empat tahun silam, kutinggalkan buah hatiku bersama neneknya. Membawa luka dan kepedihan yang teramat, kakiku melangkah pergi, meninggalkan Nanda dan Marsya yang terus melambai.
Butiran air mata terus bergulir pecah berderai di senja yang kian tenggelam. Detik waktu seakan berlari membawaku pergi jauh ke tempat yang sangat asing. Tempat yang kemudian merubahku menjadi wanita lain.
Perubahan kecil dimulai saat aku masih di penampungan. Penampilanku yang agak tomboy dan pemberani, ternyata membuat yang lain tertarik denganku. Satu persatu dari mereka menaruh perhatian terhadapku. Mereka berkenalan dan ingin menjadi temanku.
Karena terlalu disegani, aku pun merasa hebat hingga lupa diri. Aku lupa tujuan awalku pergi meninggalkan rumah, meninggalkan kedua anakku. Bahkan aku sempat berbohong bahwa aku masih single.
Perubahan demi perubahan terus menutup jati diriku, menjadikan diriku wanita liar dan bebas. Apalagi di Hong Kong, sudah tak terhitung manusia yang menjadi korban mode dan pergaulan bebas sepertiku.
Sekarang, di negara asing ini, aku biasa dipanggil Raka, seperti nama cowok. Sesuai dengan penampilanku yang tomboy, rock n’roll. Namun, meski aku berpenampilan tomboy, aku tidak tertarik untuk berpacaran sesama jenis. Tak terhitung cewek-cewek centil yang mendekatiku, semua aku tolak. Pernah juga mereka sampai cakar-cakaran berebut perhatianku.
“Wuihhh…Raka, mantap sekali penampilanmu hari ini. Apakah kau ingin hadir ke pesta pertunangannya Rendi dan Lusi?”
        “Ya, tapi sebelum kesana aku ada urusan sebentar.” Aku meninggalkan teman-temanku bersama pasangan-pasangan mereka sesama jenis. Sesampainya di taman belakang Central Library Hong Kong, HP-ku berdering. Kukira dari Linda yang sudah menungguku terlalu lama, tapi ternyata bukan.
Privat Number!
        Ku-reject panggilan itu karena aku tak sudi mengangkat telefon dari orang yang tak kukenal. Namun, sampai tiga kali HP-ku terus berdering.
        “Wai. Pinko a?” jawabku ketus menanyakan siapa gerangan yang menelefonku dengan privat number.
        “Ma, Ma, ini Nanda Ma.”
        “Maaf salah sambung.” hampir kumatikan telefon itu, tapi suara di sebrang sana memberondongku tanpa jeda.
        “Ma…ini Nanda, jangan dimatiin Ma!” hening sebentar, lalu anak sulungku melanjutkan kalimatnya. “Sudah lama Mama tidak menelefon Nanda, dan Dek Marsya. Apa yang terjadi dengan Mama? Nanda kangen Ma!” deg! Aku seperti kejatuhan bogem tepat di jantungku. Nafasku tercekat, saluran pernafasan dalam tubuhku menjelma ruang hampa udara. Aku hampir limbung, tapi aku berusaha untuk menguasai diri. Aku melangkah ke kursi kayu di ujung taman, seraya mendengarkan keluhan buah hatiku.
        “Pulanglah Ma, kami tak butuh uang, tapi kami butuh kasih sayang Mama. Nanda malu melihat penampilan Mama. Teman-teman mengejek Nanda, mereka bilang ‘Mamanya Nanda tomboy kayak preman’. Nanda ingin Mama pulang. Nanda sayang Mama….” Klik. Suara Nanda terputus.
Ah…mungkin pulsanya habis. Nanda, dari mana kau tahu keadaan Mama, Nak. Siapa yang memberitahumu nomer HP Mama? Hatiku bergejolak, terjadi perang bathin yang dasyat di hatiku.
Tak kusangka, Nanda telah beranjak dewasa. Dia tumbuh menjadi anak lelaki yang cerdas dan peka terhadap lingkungan. Aku malu dengannya. Bocah yang baru berusia 10 tahun, bisa lebih tegar dariku. Jika anak lelaki sekecil itu bisa merasa malu, bagaimana denganku.
Ya Allah…kenapa aku bisa seperti ini.
Dretttt…dreeettt…dreeettt…HP-ku bergetar, panggilan masuk dari Linda. Aku sudah tak bersemangat lagi untuk menemuinya, ku-reject panggilan darinya lalu kumatikan HP. Aku hanya ingin sendiri, mengenang masa lalu. Mengenang buah hatiku, orang tuaku dan keluargaku yang lain. Hati ini teriris-iris, sakit. Segumpal penyesalan seketika datang menyesakkan hati.
Matahari sudah mulai menyengat, aku masih duduk termangu. Memutar memori, mencari jejak, dan impian yang telah lama hilang. Hingga matahari berubah jingga di ujung barat, semburatnya memancarkan bayangan bocah berusia 6 dan 4 tahun yang terus melambai. Aku seperti memasuki mesin waktu 4 tahun silam. Senja yang menjadi saksi kepergianku, kini telah mengingatkanku untuk kembali. Pada senja yang sama air mata ini tumpah dalam senandung rindu. Nanda, Marsya, Mama akan segera pulang Nak!
***
        Rumah majikanku sudah gelap. Tuan dan nyonya sudah masuk ke kamar masing-masing. Tiba saatnya aku mandi. Kupandangi cermin di depanku, terlihat wajah lelaki gaul dengan gaya rocker. Lama kupandangi wajah itu, jariku meraba perlahan, lalu menghapus make-up yang melekat di wajah itu. Kupencet facial foam, lalu kucuci mukaku.
Kini, wajah di cermin itu berubah menjadi seorang perempuan. Perempuan yang malang. Terlihat Kristal bening mengalir deras di ujung matanya.
        Nanda, Mama takkan membuatmu malu lagi Nak. Sekarang takkan ada lagi yang mengejekmu karena penampilan Mama. Mama akan segera pulang, sayang. Mencintai dan menyayangimu.
***
        “Raka? Kau tak salah kostum hari ini?” tanya Rendi terkejut.
        “Iya, Ren. Saya ingin berubah. Oh iya maaf, kemaren aku tak datang ke acaramu.”
      “Wow! Surprise! Ini akan menjadi berita besar buat anak-anak. Tapi nggak masalah Ka, ini adalah pilihan.”
    “Ok, aku pergi dulu ya.” kutinggalkan Rendi dan Lusi yang masih tercengang melihat penampilanku yang mencoba menjadi wanita feminim. Mereka pasti merasa sangat aneh, sama seperti yang kurasakan. Malah, aku sendiri merasa seperti banci. Ah…biarlah, aku hanya ingin berubah. Ingin menjadi wanita seutuhnya.
        Kakiku terus melangkah. Menyisir jalan yang sangat asing. Belum pernah kulewati jalan ini, meski sudah 4 tahun aku bekerja di Hong Kong, tepatnya di daerah Wan Chai. Sesekali kubertanya pada anak Indonesia yang kebetulan lewat, hingga aku sampai di sini. Tempat yang kucari, Masjid Ammar Wan Chai. Aku ingin bersujud dan memohon ampun kepadaNya, Sang Pemilik Kehidupan.

Yuen Long, 3 September 2014. 21:04 p.m.
(Cerpen Juara 3 lomba menulis cerpen islami di milad FKMPU tahun 2014) 

Senin, 15 September 2014

Pemburu Mimpi

Hari ini Wandi dilantik menjadi TNI, dan Ari sudah dari tahun lalu bekerja di kantor DPR. Mereka berdua telah membuktikan kebenaran peramal itu. Peramal yang tak sengaja kami temui saat bermain di pasar sore ketika kami masih duduk di bangku SMP. Sekelebat peristiwa itu berputar dalam memoriku. Kami empat sekawan—Aku, Wandi, Ari dan Surya diramal tentang masa depan kami. Surya si kriting diramal akan jadi seorang makelar. Ari si kutu buku akan menjadi perangkat desa. Wandi si tubuh kekar akan jadi TNI, dan aku yang paling apes. Aku diramalkan hanya akan menjadi tukang bakso keliling.

Aku hanya diam. Speechless. Percaya tak percaya, juga takut jika peramal itu benar.

Entahlah, kenapa sekarang aku teringat dengan ramalan itu. Aku pun selalu galau dibuatnya. Setidaknya peramal itu ada benarnya, walau nggak seluruhnya benar. Bukannya aku percaya dengan peramal, tapi tanpa sengaja aku tersugesti tentang ramalan itu. Apalagi setelah ramalan itu menjadi nyata pada kehidupan ketiga sahabatku.

Ari menjadi anggota DPR yang berarti lebih dari sekadar perangkat desa. Surya sudah menekuni profesi makelar bersama bapaknya. Wandi sekarang dilantik menjadi TNI. Tapi aku? Sudah sebulan aku nganggur. Sejak pabrik tekstil tempatku bekerja gulung tikar, aku belum mendapatkan pekerjaan baru.

Aku menjadi pesimis, tak bergairah menjalani hidup, jika akhirnya hanya akan menjadi tukang bakso.

Dalam sunyi, aku masih sering berkhayal tentang salju. Saat gerimis datang, salju pun tak diundang masuk dalam imajinasiku. Kapan aku bisa bekerja di negara yang terdapat salju? Rasanya itu tidak mungkin. Dari mana aku mendapatkan biaya untuk bekerja kesana, jika sekarang saja aku tak punya penghasilan.

Mungkinkah ucapan peramal itu akan menjadi kenyataan? Kemaren Om Supri menawariku untuk jualan bakso gerobak, tapi aku belum menerima tawarannya. Oh Tuhan, apakah memang takdirku menjadi tukang bakso?

Sore ini pertama kalinya aku jualan bakso. Setelah kupikir-pikir daripada aku nganggur, tak apalah aku jualan bakso keliling. Buat apa gengsi kalau memang ini sudah takdirku.

“Bakso…!!! Bakso…!!!” teriakku sambil mendorong gerobak keliling kampung.
“Mas…Mas…beli baksonya.” panggil seorang gadis dari depan rumahnya. Entah mengapa tiba-tiba aku jadi malu. Aku benar-benar malu pada gadis itu. Ternyata tak mudah untuk menakhlukan rasa gengsi ini. Hatiku merutuk diriku sendiri yang tak berguna, aku benci dengan takdirku yang hanya bisa jadi tukang bakso.

Setelah selesai membuatkan dua mangkok bakso untuk gadis itu, aku segera pergi. Kudorong gerobak dengan terburu-buru. Langkahku berhenti di ujung desa, tepat di samping jembatan sungai irigasi.

Awan hitam masih bertengger di langit. Sesekali kilatan cahaya terpancar disertai gelugur guruh. Angin bertiup kencang menggoyangkan dahan-dahan pepohonan. Malam yang mencekam.

Pukul satu dini hari, setelah membereskan gerobak dan membersihkan diri, aku beringsut dibawah selimut kumal yang biasa menemani malam-malamku. Di luar, langit perlahan menebar rinai air hujan. Semilir air, masuk menembus celah dinding kayu kamarku. Masih dengan harapan bermimpi dengan salju, kurapalkan do’a-do’a sebelum tidur.

Malam yang indah. Langit menyebarkan salju-salju lembut ke daratan tempatku berpijak. Dingin menelusup di sela-sela jaket, menusuk kulit. Gigi-gigiku gemeretak. Sesekali kulipat tanganku kedepan agar lebih hangat. Namun, tetap saja terasa dingin.

Aku berjalan bersama seorang teman baru yang masih agak asing. Dalam waktu 15 menit kami sampai di tempat kontrakan. Dia segera masuk kedalam. Namun, entah mengapa kakiku berhenti di tengah padang salju. Pekarangan rumah kontrakan yang agak luas, tertutup sempurna oleh salju yang sudah dua hari turun.

Aku mendongak ke atas, membiarkan salju-salju menciumi wajahku. Kurentangkan kedua tangan, membiarkan angin menerpa tubuhku. Mendekap erat dalam dingin. Kunikmati dingin yang menjalar sampai ke ulu hati. Aku tersenyum, teringat sahabat karib pemburu mimpi, Surya, Ari, dan Wandi.

Kami selalu melakukan hal ini ketika hujan turun. Di tengah padang ilalang, di bawah air hujan yang deras mengguyur bumi. Aku selalu berkhayal air itu adalah salju. Setelah itu mereka bertiga akan mengejekku.

“Salju nenek moyangmu!” ucap mereka serempak sambil menengul kepalaku. Aku menyeringai. Mereka tahu, aku tergila-gila dengan salju, hingga mereka menjulukiku cucunya Mbah Juju.

Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lakukan saat ini. Benarkah ini salju? Seperti inikah dinginnya salju? Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan salju. Loteng-loteng perumahan, jalan raya, pepohohan, semua tertutup salju.

Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Aku memukul kepalaku mencoba membuktikan bahwa ini hanya mimpi, tapi aku marasakan sakit. Masih tak percaya, kucubit lengatku, ada bekas merah dan sakit yang kurasakan. Ini sungguh nyata.

Aku tidak sedang bermimpi, aku benar-benar sedang bersama salju. Salju yang selama ini ingin kutemui. Kini aku bukan cucunya Mbah Juju lagi, penyakit gila itu sudah tak melekat lagi padaku, karena aku telah menemukan penyembuhnya yaitu salju. Sekarang aku benar-benar berada di padang salju, seperti khayalanku di masa lalu.

Kakakku yang bekerja di Taiwan membiayaiku untuk bekerja di Korea. Dia meminjamkan uangnya kepadaku untuk biaya proses ke Korea dengan persyaratan aku akan mengembalikan uangnya setelah aku bekerja.

Dengan segala keuletan dan semangatku dalam belajar bahasa Korea, dalam satu tahun aku telah berhasil melewati proses pemberangkatan yang lumayan sulit. Diantara kawan satu desa yang ikut ujian bahasa korea, hanya aku yang lulus. Padahal mereka belajar bahasa lebih lama dariku. Mungkin, inilah takdir Tuhan untukku. Nikmat dari sebuah kesabaran dan perjuangan.

Aku telah rela memilih menjadi tukang bakso daripada harus menganggur dan bergantung pada orang lain. Dan sekarang, syukurlah Tuhan mengabulkan doa dan impianku untuk bekerja di negara penghasil salju.

Sekarang aku baru seminggu di Korea, bekerja di pabrik Samsung Electronics, perusahaan pembuat perangkat elektronik terbesar di dunia yang berkantor pusat di Seocho Samsung Town di Seoul, Korea Selatan. Bak gayung bersambut. Salju langsung menyambut kedatanganku. Rindu yang mengendap selama 25 tahun mencair sudah. Mimpi terbesar dalam hidupku terwujud menjadi nyata.

Note: Cerpen ini spesial buat teman-teman di kampung halaman

Lau Fhau Shan, 29 Mei 2014 

Kamis, 03 April 2014

Wajah Kuntilanak

Adakah di jaman modern seperti sekarang ini yang masih takut dengan hantu? Apalagi di negara Hong Kong tempat kita mengais dolar ini adalah salah satu negara maju dengan fasilitas tehnologi yang luar biasa canggih.
Eits…tapi jangan salah lho, di daerah-daerah pedesaan wilayah New Teritories masih banyak juga tempat yang sepi bin serem. Seperti rumah majikan teman saya yang tinggal di Mong Tseng Tsuen. Ketika malam tiba tempat itu sangat sunyi, hanya derik binatang malam yang sering terdengar bersahut-sahutan di semak-semak. Di sana masih banyak lahan kosong dengan rumput-rumput liar setinggi dada.
Panggil saja Husna, teman saya ini bertahan bekerja di tempat serem seperti itu lantaran dia hanya tinggal sendirian di rumah, jadi dia mempunyai kebebasan berekspresi. Apalagi majikannya yang kaya raya itu juga sering keluar negeri, semakin betah saja Husna berlama-lama bekerja di sana.
Kembali ke cerita mistik di rumah itu, sebenarnya hampir tiga tahun Husna tinggal sendirian di rumah itu, dia belum pernah sama sekali bertemu dengan hantu atau sejenisnya. Walau sering terjadi hal-hal aneh seperti pintu gerbang terbuka sendiri, anjing penjaga rumah yang menggonggong padahal nggak ada orang lewat dan dering telepon tengah malam.
“Hmmm…paling juga pintu gerbangnya eror, jadi terbuka sendiri,” hibur Husna pada dirinya sendiri seraya membuang rasa takut ketika tiba-tiba pintu gerbang rumahnya terbuka sendiri di malam hari. Lalu dia mematikan sambungan listrik pada mesin penggerak pintu gerbang yang biasanya bisa dibuka dengan menggunakan remote control. Jika sambungan listriknya diputus maka pintu gerbang itu tidak dapat dibuka menggunakan remote tapi harus didorong secara manual.
Suatu malam Husna sedang asyik memoles masker di wajahnya agar mulus semulus bulus. Hehe…tiba-tiba dia ingat harus membalas inbok temannya. Karena di dalam kamarnya tidak ada sinyal, terpaksa Husna harus keluar sampai ke depan rumah untuk mencari sinyal yang mungkin masih tersangkut di tiang atau pohon Leci  di depan rumahnya, maklum begitulah resiko tinggal di daerah pelosok yang sulit terjangkau jaringan internet.
Setelah dia berhasil online, segera ia membuka akun facebook-nya lalu menulis pesan untuk temannya. Tak lupa dia juga ‘mampir jalan-jalan’ di beranda, kemudian muncul keinginan untuk update status, dia harus berfikir ekstra untuk mendapatkan kalimat yang cantik dan ampuh menarik jempol dan perhatian teman-temannya di facebook. Dia mulai garuk-garuk kepala, karena nggak ketemu juga ide yang best of best seperti keinginannya itu, matanya berputar lirik sana-sini, siapa tahu ada sesuatu yang bisa memberinya inspirasi.
Tiba-tiba pandangannya berhenti tepat di pintu kaca, matanya membelalak hampir lompat keluar, Husna melihat bayangan wajah putih, bulat, dengan rambut panjang tergerai seperti kuntilanak. Husna menjerit sejadi-jadinya lalu lari terbirit-birit, hmm…aneh tapi nyata bayangan itu pun berlari mengikutinya. Oalah, Jeng, itukan bayanganmu sendiri yang memakai masker wajah, hahaha…ada ada aja kamu! 

Mengais Rezeki Tambahan di Hari Libur

        Kebebasan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong yang mempunyai waktu libur sepekan sekali dan public holiday, banyak di manfaatkan BMI untuk mengais rejeki tambahan dengan berjualan. Walau sebenarnya BMI berjualan itu dilarang oleh pemerintah Hong Kong, tapi dengan kecerdikan dan kekreatifan mereka mampu menghindari pantauan polisi imigrasi yang berpatroli di tempat-tempat yang menjadi pusat liburan BMI.
        Demi mencari tambahan dolar untuk mencukupi kebutuhan, banyak BMI yang mempertaruhkan diri dengan ancaman penjara jika mereka tak sengaja tertangkap oleh polisi imigrasi. Walau terpaksa harus main kucing-kucingan dengan polisi imigrasi, tak sedikit BMI yang berjualan di hari libur seperti jualan makanan, pulsa (voucher isi ulang), pakaian, aksessoris, buku, majalah dsb.
        Perkembangan teknologi internet juga tak terlewatkan dimanfaatkan BMI untuk usaha online. Jejaring sosial facebook yang sekarang ini sangat populer di kalangan BMI juga sering dimanfaatkan untuk promosi kepada pelanggan di dunia maya.
        “Hasilnya lumayan, apalagi di waktu menjelang lebaran, pasti banyak order, hampir dua kali lipatnya dari hari biasa,” ujar Alfi salah satu BMI yang menekuni usaha pakaian online saat diwawancara BHSI via telepon (5/2).
Beda dengan Yani, BMI yang berjualan pulsa, mengaku selain hari Minggu dia mengaku banyak mendapatkan order pada malam hari. “Saya sering sekali terganggu kalau ada teman yang malam-malam minta pulsa, tapi saya juga senang karena usaha saya laku. Biasanya mereka malam-malam kepepet butuh pulsa, jadi pilihannya ya saya, karena nggak mungkin malam-malam mereka keluar rumah beli pulsa.” Ujar Yani yang sudah 3 tahun berjualan pulsa. Tak hanya berjualan, sebagian BMI juga memanfaat kegiatan lain seperti menjadi tenaga pengajar kursus, pelatih olah raga, dan menjadi penulis atau kontributor media, untuk menambah isi kantong mereka.
Sebuah pemanfaatan waktu libur yang baik dan positif, tapi jangan pernah lupa dan selalu waspada, bagaiman pun menurut peraturan pemerintah Hong Kong, kegiatan mencari tambahan penghasilan atau part time itu dilarang. Dan seyogyanya sebagai teman sesama BMI bisa saling menjaga, agar jangan sampai ada yang menjadi korban dan tertangkap polisi imigrasi karena ini semua demi kebaikan sesama BMI.

Sabtu, 22 Maret 2014

Tahun Baru



Gulir waktu kian menganga
Menapak batas semesta
Kerlip bintang tebarkan cahaya di gelap langit
Memoles indah angkasa luas

Dingin menggigit kelu.
Hati rindu rasa di ujung samudera
Bayang hanya bisa dikenang
Dalam hubungan tanpa pertemuan

Merenung diujung batas waktu
Bersiap membuka lembaran baru
Gelugur kembang api tabuhi gulir malam
Mengantar jiwa pada harapan baru
Dalam indahnya pesona malam tahun baru
Happy New Near 2014…with love and dream!

Winter, diperhujung tahun 2013

Tapak Perjalanan


Jelajahi tapak perjalanan masa lalu
Seraya merajut harap pada sisa waktu
Bermuhasabah
Berbenah
Berjuang dan berusaha
menggapai yang belum tercapai

Detik-detik telah bergulir
Sisa usia kian cepak ke batas akhir
Namun, bekal belumlah seberapa
Hingga jiwa dituntut tingkatkan taqwa

Harapku untuk ibu
yang melahirkan dan membesarkan
dengan penuh pengorbanan
Baktiku sepanjang batas waktu
Kasihku sampai jiwa terpejam

Make a wish…
My Special day, 1 Februari 2014

Desaku


Kumandang adzan di ujung fajar
Hembusan angin semerbakbau bawang
Gemericik air dan cicit kenari di pematang ladang
Mengukir indah bingkai kenangan

Kaki mengayuh sepeda juluk
Tatap mata berbinar tenang
Nikmati keindahan alam pedesaan
Alami bukan buatan

Nian jauh di sudut negeri
Bumi serupa tatanan beton
Megah, busungkan kesombongan
Kakikaki melangkah cepat
Acuh kan tapak tertinggal lari
Erangan bagai gonggongan anjing
: Individualisme

Desaku….
Di sanalah ujung rindu
Dalam keterbatasan dan kesederhanaan
Di sanalah tempat kembali jiwajiwa rantau

Lau Fau Shan, 04122013, 12:45 p.m

Wisata Religi ke Guangzhou, Cina


Islam pertama kali masuk ke Cina dibawa oleh panglima besar islam, Saad bin Abi Waqqas, bersama sahabat lainnya pada tahun 616 M. Kini 20 juta muslim tersebar di Cina, dengan pusat terbesar di Xinjian (I/6 wilayah Cina) serta Ninxia. Dan sebanyak 34. 000 masjid serta institut Islam ada di Cina.
Di kota Guangzhou, ibu kota provinsi Guangdong berdiri masjid tertua di china, yaitu Masjid Huaisheng. Nama Huaisheng yang berarti kenangan untuk sang pemula yang dibangun sebagai penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW. Masjid ini berusia sekitar 1.300 tahun, arsitekturnya perpaduan gaya Timur Tengah dan gaya tradisional Suku Han. Huaisheng adalah satu dari empat masjid paling popular di Cina. Tiga lainnya adalah Yangzhou Crane, Quanzhou Kylin dan Hangzhou Phoenix.
Luas area Masjid Huaisheng sekitar 3.000 meter persegi. Pintu masuk masjid ini terletak di Guangta Road. Dari luar masjid ini seperti bangunan biasa, kecuali tanda gerbang pintu masuk yang dibuat dengan tumpukan bata merah dan menara yang menyembul di sisi kanan dari balik tembok ini tertulis huruf Cina yang menyebut bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan sejarah yang berada di bawah lindungan pemerintah.
Komplek masjid ini terdiri dari koridor berbentuk U yang melingkupi halaman gedung yang dikelilingi tembok dan berakhir dengan bangunan utama di dalam masjid. Masjid ini juga dinamai Light Tower Mosque karena memiliki sebuah menara yang pernah digunakan sebagai mercusuar untuk kapal-kapal yang berlayar di sungai Zhujiang. Para pelaut dulu sering memanjat menara ini untuk melihat kondisi cuaca.
Masih di Guangzhou juga terdapat makam Saad bin Abi Waqqas, penyebar agama islam di Cina dan diyakini sebagai paman Nabi Muhammad SAW dari pihak ibu. Untuk memasuki makam Saad bin Abi Waqqas, pengunjung masih harus berjalan kaki sekitar 100 meter dari pintu utama. Setelah masuk pintu makam, ada dua pintu lagi yang mesti dilewati untuk menuju makam Saad bin Abi Waqqas. Makam tersebut ditempatkan dalam bangunan sehingga terlindungi dari panas dan hujan. Di sekitarnya, ada sejumlah makam lainnya yang terlindung di bawah naungan pohon beringin.
Masjid Huaisheng dan Makam Saad bin Abi Waqqas ini kerap dikunjungi warga muslim dari berbagai Negara, oleh karena itu tidak ada salahnya Anda mencoba mengunjungi tempat-tempat bersejarah tersebut sebagai agenda wisata religi Anda.
Sebelum ke Guangzhou Anda juga bisa mampir dulu ke Shenzhen, kota yang berpenduduk sekitar 13 juta jiwa ini adalah salah satu daerah tujuan wisata utama di Cina yang ditunjang fasilitas pendukung sangat memadai, salah satunya adalah Taman Mini Cina, seperti TMII di Jakarta. Di sini juga ada teater berkapasitas 3.000 pengunjung dengan setting seperti Keong Mas TMII. Pengunjung bisa memungkasi kunjungan dengan menonton sebuah parade budaya Cina yang dipaket secara kolosal dengan setting panggung yang kolosal pula, dalam label Splended of China.
Shenzhen juga masih mempunyai lokasi wisata yang elok dan memesona yaitu Window of The Word yang berarti jendela dunia! Semua keajaiban dunia tersaji di sini, mulai dari Borobudur, Angkot Wat, hingga menara Eiffel. Window of The Word ditata sangat mengagumkan, berikut music etnik lokasi keajaiban dunia yang dipamerkan. Seperti bunyi gamelan dan gending Jawa di miniatur Borobudur.
Jika teman-teman BMI-HK tertarik untuk wisata religi ke Guangzhou ikutlah paket travel yang murah dan terpercaya, biasanya sekitar HKD 250-300, itu sudah termasuk makan siang di restoran halal di Cina. Selamat mencoba.
(dari berbagai sumber)

Jumat, 21 Maret 2014

Majulah Negeri Pertiwi


Kapan kubisa melihatmu makmur?
Negara Indonesiaku yang subur
Jika pejabatpejabat tak pernah jujur
Kejahatan terjadi setiap hari
Bencana tak pernah teratasi
Dan para koruptor menjadi petinggi negeri

Kini, saatnya bagimu memperbaiki diri
Menegakkan hukum tinggi-tinggi
Memberantas segala kolusi
Melangkah mensejajarkan negeri
Menjadi negeri dengan segudang prestasi
Majulah negeri pertiwi…..

Bentangkan kemakmuran
Disetiap kepulauan, dari sabang sampai merauke
Ciptakan kesejahteraan
Di semua aspek kehidupan

Yuen Long, 18 April 2013

Memoar Sang Pemimpi


Anganku melonjak malang melintang
Dalam jiwa yang telah lama hilang
Karena duka yang tak berujung

Asa menyembul lewat jemari
Melukis segala imajinasi
Tentang memoar sang pemimpi

Adat pasang beruntun naik
Berpudak-pudak keluar lembah
Mencari gading bertuah

Mengisi masa di ujung senja
Sebelum akhir menutup mata

Tuen Mun, 15/11/12

Mengejar Mimpi


Kala sang fajar bersinar
Elok cahaya jingga terpendar
Kilau pancarannya hangatkan bumi
Menyambut hari dengan penuh arti

Cakrawala terbentang lebar
Samudra luas membentang
Segudang asa tetap kugenggam
Dalam batas keterbatasan

Tak gentar jiwa berjuang
Terjatuh dan tergelincir
Dalam jalan yang kutapaki
Demi mengejar mimpi yang kian berlari

Yuen Long, 10 Januari 2013

Senja


Letih jiwa dan ragaku
Setelah seharian bergelut dengan waktu
Dalam perjalanan pulang
Di dalam kereta kulihat senja di balik jendela
tersenyum indah dalam pancaran sinarnya.
Adakah kau letih menyinari bumi? tanyaku.
Merenungi jejak kehidupan
dan hakikat hidup
Apa yang kita cari?
Kapan semua akan berhenti?
Kembali kepada Sang Illahi....

Spring, 21 Maret 2014

Pesona Keindahan Alam


Gemerisik daun tertiup angin
Deru binatang langka terngiang
Di keindahan alam

Batu terpahat dengan indahnya
Langit biru berhiaskan awan
Semilir angin menyejukkan
Menambah pesona pegunungan

Aku terkagum
Oleh kehebatan Sang Pencipta
Langit terbentang
Bumi terhampar
Atas kekuasaanNya

Po Toi Islands, 2 September 2012

Ibu


Kurajut kata demi kata
Lukiskan rasa yang menggelora
Indah menakjubkan hati
Air tenang mengalir ketepian sungai
Gemiricik air merdu mendayu-dayu
Mengiringi rasa rindu akan dirimu
Duhai ibuku....
Istana roma dan emas permata
Tak penting bagiku
Kasih sayangmu lebih berharga
Laiknya darah dalam tubuhku
Daun pun bersiul
Ranting berdendang
Bunga-bunga bermekaran
Kala jumpa denganmu
Penuh bahagia dan gembira....

Spring, 2012

Melukis Rindu


Rasa ini berjalan tertatih
Menyusup relung hati
Menembus sanubari
Hari berganti hari
Musim silih berganti
Tapi…kecewa masih tetap terpatri
Dalam nisan kisah sejati

Engkau hadir dalam kelabu
Menapak tilas kenangan masa lalu
Kisah yang pernah ada
Kini telah berdebu
Cinta tinggal bayang-bayang semu

Dalam perih yang menggebu
Pedih semakin menderu
Melukis rindu pesonamu
Di negri tirai bambu

Yuen Long, 14 September 2012

Kamis, 20 Maret 2014

Selayang Rindu

   
Seperti langit yang tak berujung
Seperti mentari menyinari Bumi
Seperti kasih Dua sejoli
Terangkai dalam, melodi
 Selayang rindu untuk bunga yang telah Layu
Yang pernah memberi Keindahan
Yang pernah menebar keharuman
Yang pernah menjadi kebahagiaan
Terikat dalam rangkaian
 Selayang rindu untuk waktu yang telah berlalu
Yang pernah memberi kesempatan
Yang pernah menjadi Pedoman
Yang pernah melukis kedamaian
Tersimpan dalam kenangan
 Cinta suci kekal abadi
Walau jasad termakan bumi
Wajah telah terbingkai
Dan Nama terukir 
Di Atas nisan pekuburan ....
        Yuen Long, September 2012

Happy Investing!


Pernahkah kita dengar pertanyaan, siapa suka shoping? Pastinya jawaban sebagian besar orang adalah suka! Tapi lain lagi jika kita bertanya, siapa suka investasi? Pasti macem-macem jawabanya, bahkan ada juga yang tidak bisa jawab karena dia tidak tahu apa itu sebenarnya investasi?
        Nah, sekarang mari kita belajar bersama tentang apa itu investasi. Investasi adalah mengeluarkan sejumlah uang atau menyimpan uang pada saat sekarang yang bertujuan mendapatkan keuntungan pada masa akan datang.
        Contoh investasi adalah pembelian aset finansial seperti obligasi, reksadana, dan saham. Pembelian barang seperti emas, sawah/ladang, rumah, tanah/kebun. Dan investasi usaha bisnis seperti MLM (Multi Level Marketing), usaha pakaian, usaha makanan, usaha peternakan, usaha tranportasi dll.
        Teman-teman sekarang kita sudah tahu apa itu investasi. Nah coba sekarang jawab pertanyaan di atas tadi. Bersyukur sekali bagi anda yang sudah menjawab suka, tapi bagi anda yang belum menjawab suka, mari kita cari tahu apa manfaat investasi.
        Manfaat investasi adalah:
1.      Mendorong diri kita untuk berhemat.
Dengan berinvestasi kita akan terdorong untuk menyisihkan sebagian penghasilan kita tiap bulan untuk keperluan masa depan, sehingga penghasilan kita tidak dihabiskan semua pada bulan itu.
2.      Membahagiakan keluarga.
Kita semua pasti ingin membahagiakan keluarga tapi, tidak semua orang bisa melakukannya sekarang, dengan berinvestasi kita dapat mengumpulkan uang untuk membahagiakan keluaraga. Seperti mengajak liburan/jalan dan membelikan barang yang disukai anggota keluarga.
3.      Menghindari hutang.
Separti kita ketahui dalam hidup sering ada hal-hal yang datang tanpa kita sadari seperti penyakit atau musibah. Pengeluaran-pengeluaran tidak diduga seperti tagiahan listrik, air, gas, telepon yang melonjak dll. Jika kita tidak punya investasi atau tabungan maka tidak ada jalan lain selain kita berhutang kepada saudara, teman atau lembaga keuangan.
4.      Lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan.
Jika kita tidak punya rencana berinvestasi mungkin uang kita akan habis begitu saja, untuk belanja atau hanya sekedar hura-hura. Dengan investasi kita dituntut untuk mengatur keuangan, berapa untuk kebutuhan dan berapa untuk investasi, sehingga kita akan lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan.
5.      Mewujudkan impian.
Semua orang pasti punya impian. Untuk mewujudkan impian itu tidak mudah, apalagi kalau impian kita itu besar seperti ingin punya mobil atau rumah yang bagus. Mungkin bagi mereka yang gajinya besar tidak ada masalah. Tapi, bagi kita yang gajinya rendah atau menengah, benar-benar butuh pejuangan. Selain semangat juga perlu pengaturan keuangan untuk mewujudkannya yaitu dengan cara investasi.
Semoga penjelasan saya di atas bermanfaat dan kita semua menjadi suka yang namanya investasi. Sedikit-dikitnya mari kita usahakan 10% gaji kita tiap bulan untuk investasi dan berinvestasilah sesuai bakat dan minat anda. Selamat mencoba!

Sabtu, 15 Maret 2014

Malam Minggu Kelabu


Sebagai BMI Hongkong yang stay out (tinggal di luar) bagiku mempunyai kenikmatan tersendiri, setelah bekerja seharian kemudian bisa bebas ketika malam tiba, senangnya bagai baru keluar dari penjara.
        Alkisah, pada malam minggu pulang kerja sekitar pukul 6 sore, aku sedang asyik berjalan sambil berkhayal. Pulang kerja bareng sang kekasih, trus jalan-jalan lalu dinner bersama, uiiiiiiyyyy…romantisnya. Aku pun senyum-senyum sendiri kayak orang kurang waras. Tak sadar ternyata ada om-om dari cina daratan ngikutin aku, lalu om itu mendekat ngajak kenalan. “Oalah…ini orang, nggangguin aja, nggak tahu meh, aku lagi asyik berkhayal dengan Sang Arjuna,” gerutuku dalam hati, lalu aku terus berjalan tanpa menghiraukannya, tapi om itu tidak juga menyerah.
        “Lei kiu meng meng a leng loi? Namamu siapa cantik?” tanyanya sambil prengas-prenges.
        “Em wa pei lei dheng a. Nggak bakal tak kasih tahu kamu.” Jawabku cetus sangking sebelnya.
        “Tim kai a? Ngo yiu co lei bang yau a. Kenapa? Aku ingin jadi temanmu.”
        Kali ini aku tak menjawab, aku berusaha menghindar dengan sedikit berlari, eh…dia ikutan lari, aku berhenti dia ikut berhenti. Bener-bener pengen tak jotos ni orang, tanganku mengepal geram, tapi tak sampai hati aku melakukannya, bisa-bisa aku masuk penjara. Hehe
        Tiba-tiba dari arah depan melintas bus nomor 35. Pas banget, bus jurusan ke tempat tinggalku. Tanpa menunggu lama kulambaikan tangan agar busnya berhenti, tapi sopir bus tak menghiraukan lambaianku, bus tetap melaju melewatiku yang berdiri di pinggir jalan, ternyata penumpang sudah penuh. Anda kurang beruntung!!!
        Aku berhenti di halte bus, menunggu bus selanjutnya, om itu masih mengikuti dan menggodaku. Sudah lewat 15 menit, bus belum juga datang, sementara telingaku sakit mendengar kicauan makhluk kurang kerjaan di sampingku, akhirnya kuraih handset dari dalam tas, kuputar mp3 dengan volume tinggi agar aku tidak mendengar lagi kicauannya.
        Tak juga menyerah, om tadi pindah posisi berdiri di depanku dan semakin mendekat. Duh, semakin muak saja aku dibuatnya, kuarahkan pandanganku ke atas, pada senja yang merona. Pemandangan yang indah mempesona, diiringi lagu I Miss You by Irwansyah feat. Zaskia sedikit menghibur malam mingguku yang kelabu.
        Tepat pukul 6:30 bus datang, segera kuayunkan kakiku naik ke dalam bus tanpa kulirik sedikit pun makhluk aneh itu. Ya nasib ya nasib, mengapa begini, baru saja di goda makhluk langka, sekarang di dalam bus bertemu cowok pakistan yang sok cool dengan gayanya yang playboy mempersilahkanku duduk di sampingnya karena tinggal itu satu-satunya tempat duduk yang tersisa.
Ngapuntene duh Gusti…apes tenan malam ini. Ibarat pepatah bilang keluar dari bahaya masuk lubang buaya, tepuk jidat sambil duduk.
        Tak mau ambil pusing dengan cowok berhidung mancung di sebelahku, aku siap action berpura-pura tidur bersandar di kursi. Aman! Setidaknya aku terhindar dari rayuan gombal, xixixi… 

Jumat, 14 Maret 2014

Gara-gara Darah

Malam itu aku mengantar mbak Parti ke dokter gigi, memeriksakan giginya yang berlubang. Dari MTR Jordan exit C2 kami berjalan lurus sampai ke pasar kemudian belok kiri. Tepat jam 6 sore aku dan kakak perempuanku itu sampai di tempat praktek dokter gigi langganan majikanku.
Nyonyaku Ms. Lee sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter, jadi sesampainya kami di klinik, kami langsung disuruh masuk menemui dokter.
Kami berdua masuk keruangan Dr. Wong,
“Lei tei hai mai yannei yan? (Apakah kalian orang Indonesia?)” Tanya dokter.
“Ya,” jawabku.
Kemudian dokter tanya siapa yang sakit gigi, aku menunjuk ke arah mbak Parti. Dokter lalu menyuruh mbak Parti berbaring di kursi pemeriksaan, mbak Parti membuka mulutnya dan dokter memeriksa gigi mbak Parti yang berlubang.
“Wah, ko lung ho tai wo. Lei yat ting mok co goe a. (Wah, lubangnya besar sekali, gigimu harus di cabut.)” Ucap dokter memerintah sambil mempersiapkan peralatannya.
Aku tersentak, mbak Parti terlihat sangat gugup juga takut. Kami tidak diberi kesempatan untuk berfikir, dokter langsung saja mencabut gigi mbak Parti tanpa persetujuan kami.
Dug…dug…dug…!! Berdetak jantungku menyaksikan pencabutan gigi itu, mbak Parti meringis kesakitan saat dokter menyuntikkan obat bius di gusinya. Lima menit kemudian mbak Parti berteriak kesakitan, dokter sedang menarik giginya dengan alat pencabut. Kulihat darah mengalir di mulut wanita yang berbaring di depanku, tiba-tiba kepalaku berputar-putar, lalu gelap. Aku hampir terjatuh tapi aku berusaha mengendalikan diri, dan duduk di kursi. Wajahku pucat, tanganku dingin. Dokter bingung melihatku, yang giginya di cabut masih bisa teriak-teriak, kok yang nganter malah pingsan?
Aku memang takut melihat darah, dulu waktu tanganku teriris pisau dan mengeluarkan darah, aku juga langsung pingsan di dapur sampai majikanku kaget.
        Setelah pencabutan gigi selesai, aku dan mbak Parti disuruh menunggu obat di ruang tunggu. Aku duduk bersandar, tanganku masih dingin seperti es, tubuhku lemas, mbak Parti duduk di sebelahku sambil memegangi pipinya.
        Ketika suster memanggil untuk memberitahu bagaimana cara meminum obatnya, mbak Parti menyuruhku maju karena dia masih kesakitan, akhirnya aku maju walau keadaanku sendiri masih setengah sadar, kudengarkan penjelasan suster, saat suster bilang,
“Kalau bekas cabutannya masih berdarah, sumpal lagi dengan kain ini.” Kata suster itu sambil menunjuk kain putih dalam kantong obat.
Mataku tiba-tiba buram, bayangan darah tadi muncul kembali, kemudian gelap. Aku terjatuh, spontan mbak Parti yang duduk di belakang bangkit menopangku.
Suster kaget dan heran, setelah dokter menceritakan kejadian tadi, suster itu jadi senyum-senyum pengen ketawa. Akhirnya suster berpesan pada mbak parti suruh jagain aku takut pingsan lagi di jalan.
Ini orang, bukan yang sakit yang seharusnya dijaga malah yang sakit yang disuruh njagain, pengennya mbantu malah ngrepotin.
“Wkwkwkwkwk….” Aku ketawa sendiri saat mengingat peristiwa ini. 

Video Call dengan Enyak dan Babe



Kisah ini adalah kejadian lucu yang aku alami kemaren malam. Sebangai TKW yang tinggal jauh dari orangtua, pastinya kita selalu merindukan mereka. Ngobrol lewat sambungan telepon dengan orangtua yang ada di Indonesia adalah suatu hal yang biasa, tapi kalau lewat video call, mungkin masih belum terbiasa. Apalagi jika orang tua kita tinggal di desa, yang jaringan telepon dan internetnya masih belum memadahi.
            Sudah lama saya ingin video call dengan enyak dan babe, tapi sayang, HP mereka di rumah cuma HP jadul. Pengen tak beliin HP 3G, mereka juga nggak mau dengan alasan, buang-buang duit dan enyak yang dasarnya wong ndeso, nggak biasa dengan HP yang rumit-rumit. Alhasil, saya harus muter otak agar bisa video call dengan mereka.
            Ketika saya jalan-jalan di beranda facebook, tiba-tiba ada panggilan masuk dari teman saya di kampung, sebut saja namanya Stif…hehe biar keren dikit. Setelah itu saya minta tolong kepadanya, kalau ada waktu, datanglah kerumahku membawa laptop-nya agar saya bisa video call sama enyak dan babe. Namun sayang, Stif orangnya sibuk terus, tiap hari kerja dan kalau malam kuliah.
            Lagi-lagi saya harus kecewa. Keinginan ngobrol sambil melihat wajah enyak dan babe hanya tinggal harapan tanpa kepastian.
            “Kabare Non??” saya memulai obrolan facebook dengan Fela, tetangga rumah saya, karena kulihat dia lagi online.
            “Meh….” Jawaban yang tidak nyambung, tapi saya masih terus menunggu jawaban darinya, mungkin dia belum selesai nulisnya. Eh, nggak nyangka dia malah telepon. Setelah kutekan tombol jawab, layar laptop saya berubah buram dan ada sosok dua perempuan di depan saya dengan gayanya yang prengas-prenges.


            “Enyakk…!!!” Teriakku sambil menutup mulut karena terkejut. Lalu layar di depenku menggeser ke samping kemudian muncul wajah babe di samping enyak. Wow…senengnya tak terkira. Nggak cuma itu, ternyata di sana para tetangga juga lagi pada njadum di depan rumahku. Satu persatu mereka nampang di depan kamera, suasana menjadi rame, ngobrol kesana kemari, kemudian babe dengan polosnya bilang, “Kok iso weruh nang kono yo?” Wkwkwk…spontan kami semua ngakak. Babe-babe, dasar wong ndeso. Katrok’e jiannn!!!