Hari ini Wandi dilantik menjadi TNI, dan Ari sudah
dari tahun lalu bekerja di kantor DPR. Mereka berdua telah membuktikan
kebenaran peramal itu. Peramal yang tak sengaja kami temui saat bermain di
pasar sore ketika kami masih duduk di bangku SMP. Sekelebat peristiwa itu
berputar dalam memoriku. Kami empat sekawan—Aku, Wandi, Ari dan Surya diramal tentang
masa depan kami. Surya si kriting diramal akan jadi seorang makelar. Ari si
kutu buku akan menjadi perangkat desa. Wandi si tubuh kekar akan jadi TNI, dan
aku yang paling apes. Aku diramalkan hanya akan menjadi tukang bakso keliling.
Aku hanya
diam. Speechless. Percaya tak
percaya, juga takut jika peramal itu benar.
Entahlah,
kenapa sekarang aku teringat dengan ramalan itu. Aku pun selalu galau
dibuatnya. Setidaknya peramal itu ada benarnya, walau nggak seluruhnya benar.
Bukannya aku percaya dengan peramal, tapi tanpa sengaja aku tersugesti tentang
ramalan itu. Apalagi setelah ramalan itu menjadi nyata pada kehidupan ketiga
sahabatku.
Ari menjadi
anggota DPR yang berarti lebih dari sekadar perangkat desa. Surya sudah
menekuni profesi makelar bersama bapaknya. Wandi sekarang dilantik menjadi TNI.
Tapi aku? Sudah sebulan aku nganggur. Sejak pabrik tekstil tempatku bekerja gulung
tikar, aku belum mendapatkan pekerjaan baru.
Aku menjadi
pesimis, tak bergairah menjalani hidup, jika akhirnya hanya akan menjadi tukang
bakso.
Dalam sunyi,
aku masih sering berkhayal tentang salju. Saat gerimis datang, salju pun tak
diundang masuk dalam imajinasiku. Kapan aku bisa bekerja di negara yang
terdapat salju? Rasanya itu tidak mungkin. Dari mana aku mendapatkan biaya
untuk bekerja kesana, jika sekarang saja aku tak punya penghasilan.
Mungkinkah
ucapan peramal itu akan menjadi kenyataan? Kemaren Om Supri menawariku untuk
jualan bakso gerobak, tapi aku belum menerima tawarannya. Oh Tuhan, apakah
memang takdirku menjadi tukang bakso?
Sore ini pertama kalinya aku jualan bakso. Setelah
kupikir-pikir daripada aku nganggur, tak apalah aku jualan bakso keliling. Buat
apa gengsi kalau memang ini sudah takdirku.
“Bakso…!!!
Bakso…!!!” teriakku sambil mendorong gerobak keliling kampung.
“Mas…Mas…beli
baksonya.” panggil seorang gadis dari depan rumahnya. Entah mengapa tiba-tiba
aku jadi malu. Aku benar-benar malu pada gadis itu. Ternyata tak mudah untuk
menakhlukan rasa gengsi ini. Hatiku merutuk diriku sendiri yang tak berguna,
aku benci dengan takdirku yang hanya bisa jadi tukang bakso.
Setelah
selesai membuatkan dua mangkok bakso untuk gadis itu, aku segera pergi. Kudorong
gerobak dengan terburu-buru. Langkahku berhenti di ujung desa, tepat di samping
jembatan sungai irigasi.
Awan hitam
masih bertengger di langit. Sesekali kilatan cahaya terpancar disertai gelugur
guruh. Angin bertiup kencang menggoyangkan dahan-dahan pepohonan. Malam yang
mencekam.
Pukul satu
dini hari, setelah membereskan gerobak dan membersihkan diri, aku beringsut
dibawah selimut kumal yang biasa menemani malam-malamku. Di luar, langit
perlahan menebar rinai air hujan. Semilir air, masuk menembus celah dinding
kayu kamarku. Masih dengan harapan bermimpi dengan salju, kurapalkan do’a-do’a
sebelum tidur.
Malam yang
indah. Langit menyebarkan salju-salju lembut ke daratan tempatku berpijak.
Dingin menelusup di sela-sela jaket, menusuk kulit. Gigi-gigiku gemeretak.
Sesekali kulipat tanganku kedepan agar lebih hangat. Namun, tetap saja terasa
dingin.
Aku berjalan
bersama seorang teman baru yang masih agak asing. Dalam waktu 15 menit kami
sampai di tempat kontrakan. Dia segera masuk kedalam. Namun, entah mengapa
kakiku berhenti di tengah padang salju. Pekarangan rumah kontrakan yang agak
luas, tertutup sempurna oleh salju yang sudah dua hari turun.
Aku mendongak
ke atas, membiarkan salju-salju menciumi wajahku. Kurentangkan kedua tangan,
membiarkan angin menerpa tubuhku. Mendekap erat dalam dingin. Kunikmati dingin
yang menjalar sampai ke ulu hati. Aku tersenyum, teringat sahabat karib pemburu
mimpi, Surya, Ari, dan Wandi.
Kami selalu
melakukan hal ini ketika hujan turun. Di tengah padang ilalang, di bawah air
hujan yang deras mengguyur bumi. Aku selalu berkhayal air itu adalah salju.
Setelah itu mereka bertiga akan mengejekku.
“Salju nenek
moyangmu!” ucap mereka serempak sambil menengul kepalaku. Aku menyeringai. Mereka
tahu, aku tergila-gila dengan salju, hingga mereka menjulukiku cucunya Mbah
Juju.
Aku masih tak
percaya dengan apa yang aku lakukan saat ini. Benarkah ini salju? Seperti
inikah dinginnya salju? Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan
salju. Loteng-loteng perumahan, jalan raya, pepohohan, semua tertutup salju.
Tuhan, apa
aku sedang bermimpi? Aku memukul kepalaku mencoba membuktikan bahwa ini hanya
mimpi, tapi aku marasakan sakit. Masih tak percaya, kucubit lengatku, ada bekas
merah dan sakit yang kurasakan. Ini sungguh nyata.
Aku tidak
sedang bermimpi, aku benar-benar sedang bersama salju. Salju yang selama ini
ingin kutemui. Kini aku bukan cucunya Mbah Juju lagi, penyakit gila itu sudah
tak melekat lagi padaku, karena aku telah menemukan penyembuhnya yaitu salju.
Sekarang aku benar-benar berada di padang salju, seperti khayalanku di masa
lalu.
Kakakku yang
bekerja di Taiwan membiayaiku untuk bekerja di Korea. Dia meminjamkan uangnya
kepadaku untuk biaya proses ke Korea dengan persyaratan aku akan mengembalikan
uangnya setelah aku bekerja.
Dengan segala
keuletan dan semangatku dalam belajar bahasa Korea, dalam satu tahun aku telah
berhasil melewati proses pemberangkatan yang lumayan sulit. Diantara kawan satu
desa yang ikut ujian bahasa korea, hanya aku yang lulus. Padahal mereka belajar
bahasa lebih lama dariku. Mungkin, inilah takdir Tuhan untukku. Nikmat dari
sebuah kesabaran dan perjuangan.
Aku telah
rela memilih menjadi tukang bakso daripada harus menganggur dan bergantung pada
orang lain. Dan sekarang, syukurlah Tuhan mengabulkan doa dan impianku untuk
bekerja di negara penghasil salju.
Sekarang aku
baru seminggu di Korea, bekerja di pabrik Samsung Electronics, perusahaan
pembuat perangkat elektronik terbesar di dunia yang berkantor pusat di Seocho
Samsung Town di Seoul, Korea Selatan. Bak gayung bersambut. Salju langsung
menyambut kedatanganku. Rindu yang mengendap selama 25 tahun mencair sudah.
Mimpi terbesar dalam hidupku terwujud menjadi nyata.
Note: Cerpen ini spesial buat teman-teman di kampung halaman
Lau Fhau
Shan, 29 Mei 2014





test :)
BalasHapus