Semburat
Jingga
Empat
tahun silam, kutinggalkan buah hatiku bersama neneknya. Membawa luka dan
kepedihan yang teramat, kakiku melangkah pergi, meninggalkan Nanda dan Marsya
yang terus melambai.
Butiran
air mata terus bergulir pecah berderai di senja yang kian tenggelam. Detik
waktu seakan berlari membawaku pergi jauh ke tempat yang sangat asing. Tempat
yang kemudian merubahku menjadi wanita lain.
Perubahan
kecil dimulai saat aku masih di penampungan. Penampilanku yang agak tomboy dan
pemberani, ternyata membuat yang lain tertarik denganku. Satu persatu dari
mereka menaruh perhatian terhadapku. Mereka berkenalan dan ingin menjadi
temanku.
Karena
terlalu disegani, aku pun merasa hebat hingga lupa diri. Aku lupa tujuan awalku
pergi meninggalkan rumah, meninggalkan kedua anakku. Bahkan aku sempat
berbohong bahwa aku masih single.
Perubahan
demi perubahan terus menutup jati diriku, menjadikan diriku wanita liar dan
bebas. Apalagi di Hong Kong, sudah tak terhitung manusia yang menjadi korban
mode dan pergaulan bebas sepertiku.
Sekarang,
di negara asing ini, aku biasa dipanggil Raka, seperti nama cowok. Sesuai
dengan penampilanku yang tomboy, rock
n’roll. Namun, meski aku berpenampilan tomboy, aku tidak tertarik untuk
berpacaran sesama jenis. Tak terhitung cewek-cewek centil yang mendekatiku,
semua aku tolak. Pernah juga mereka sampai cakar-cakaran berebut perhatianku.
“Wuihhh…Raka,
mantap sekali penampilanmu hari ini. Apakah kau ingin hadir ke pesta
pertunangannya Rendi dan Lusi?”
“Ya, tapi sebelum kesana aku ada urusan
sebentar.” Aku meninggalkan teman-temanku bersama pasangan-pasangan mereka
sesama jenis. Sesampainya di taman belakang Central Library Hong Kong, HP-ku
berdering. Kukira dari Linda yang sudah menungguku terlalu lama, tapi ternyata
bukan.
Privat Number!
Ku-reject
panggilan itu karena aku tak sudi mengangkat telefon dari orang yang tak
kukenal. Namun, sampai tiga kali HP-ku terus berdering.
“Wai. Pinko a?” jawabku ketus menanyakan
siapa gerangan yang menelefonku dengan privat
number.
“Ma, Ma, ini Nanda Ma.”
“Maaf salah sambung.” hampir kumatikan
telefon itu, tapi suara di sebrang sana memberondongku tanpa jeda.
“Ma…ini Nanda, jangan dimatiin Ma!”
hening sebentar, lalu anak sulungku melanjutkan kalimatnya. “Sudah lama Mama tidak
menelefon Nanda, dan Dek Marsya. Apa yang terjadi dengan Mama? Nanda kangen Ma!”
deg! Aku seperti kejatuhan bogem
tepat di jantungku. Nafasku tercekat, saluran pernafasan dalam tubuhku menjelma
ruang hampa udara. Aku hampir limbung, tapi aku berusaha untuk menguasai diri.
Aku melangkah ke kursi kayu di ujung taman, seraya mendengarkan keluhan buah
hatiku.
“Pulanglah Ma, kami tak butuh uang, tapi
kami butuh kasih sayang Mama. Nanda malu melihat penampilan Mama. Teman-teman
mengejek Nanda, mereka bilang ‘Mamanya Nanda tomboy kayak preman’. Nanda ingin
Mama pulang. Nanda sayang Mama….” Klik.
Suara Nanda terputus.
Ah…mungkin
pulsanya habis. Nanda, dari mana kau tahu keadaan Mama, Nak. Siapa yang
memberitahumu nomer HP Mama? Hatiku bergejolak, terjadi perang bathin yang
dasyat di hatiku.
Tak
kusangka, Nanda telah beranjak dewasa. Dia tumbuh menjadi anak lelaki yang
cerdas dan peka terhadap lingkungan. Aku malu dengannya. Bocah yang baru
berusia 10 tahun, bisa lebih tegar dariku. Jika anak lelaki sekecil itu bisa
merasa malu, bagaimana denganku.
Ya
Allah…kenapa aku bisa seperti ini.
Dretttt…dreeettt…dreeettt…HP-ku
bergetar, panggilan masuk dari Linda. Aku sudah tak bersemangat lagi untuk
menemuinya, ku-reject panggilan
darinya lalu kumatikan HP. Aku hanya ingin sendiri, mengenang masa lalu.
Mengenang buah hatiku, orang tuaku dan keluargaku yang lain. Hati ini
teriris-iris, sakit. Segumpal penyesalan seketika datang menyesakkan hati.
Matahari
sudah mulai menyengat, aku masih duduk termangu. Memutar memori, mencari jejak,
dan impian yang telah lama hilang. Hingga matahari berubah jingga di ujung
barat, semburatnya memancarkan bayangan bocah berusia 6 dan 4 tahun yang terus
melambai. Aku seperti memasuki mesin waktu 4 tahun silam. Senja yang menjadi
saksi kepergianku, kini telah mengingatkanku untuk kembali. Pada senja yang
sama air mata ini tumpah dalam senandung rindu. Nanda, Marsya, Mama akan segera
pulang Nak!
***
Rumah majikanku sudah gelap. Tuan dan
nyonya sudah masuk ke kamar masing-masing. Tiba saatnya aku mandi. Kupandangi
cermin di depanku, terlihat wajah lelaki gaul dengan gaya rocker. Lama
kupandangi wajah itu, jariku meraba perlahan, lalu menghapus make-up yang
melekat di wajah itu. Kupencet facial foam, lalu kucuci mukaku.
Kini,
wajah di cermin itu berubah menjadi seorang perempuan. Perempuan yang malang.
Terlihat Kristal bening mengalir deras di ujung matanya.
Nanda, Mama takkan membuatmu malu lagi
Nak. Sekarang takkan ada lagi yang mengejekmu karena penampilan Mama. Mama akan
segera pulang, sayang. Mencintai dan menyayangimu.
***
“Raka? Kau tak salah kostum hari ini?” tanya
Rendi terkejut.
“Iya, Ren. Saya ingin berubah. Oh iya
maaf, kemaren aku tak datang ke acaramu.”
“Wow! Surprise! Ini akan menjadi berita besar buat anak-anak. Tapi nggak
masalah Ka, ini adalah pilihan.”
“Ok, aku pergi dulu ya.” kutinggalkan
Rendi dan Lusi yang masih tercengang melihat penampilanku yang mencoba menjadi
wanita feminim. Mereka pasti merasa sangat aneh, sama seperti yang kurasakan.
Malah, aku sendiri merasa seperti banci. Ah…biarlah, aku hanya ingin berubah.
Ingin menjadi wanita seutuhnya.
Kakiku terus melangkah. Menyisir jalan
yang sangat asing. Belum pernah kulewati jalan ini, meski sudah 4 tahun aku
bekerja di Hong Kong, tepatnya di daerah Wan Chai. Sesekali kubertanya pada
anak Indonesia yang kebetulan lewat, hingga aku sampai di sini. Tempat yang
kucari, Masjid Ammar Wan Chai. Aku ingin bersujud dan memohon ampun kepadaNya,
Sang Pemilik Kehidupan.
Yuen
Long, 3 September 2014. 21:04 p.m.
(Cerpen Juara 3 lomba menulis cerpen islami di milad FKMPU tahun 2014)





So touching
BalasHapus:-D
Hapus