Oleh NH.
Lulu
Pernikahan lintas negara (beda negara) sudah
tidak lagi menjadi hal yang tabu lagi bagi masyarakat modern sekarang ini.
Meskipun belum ada perlindungan khusus dalam pernikahan beda Negara, tetapi
banyak juga pasangan pria dan wanita yang tetap melakukan pernikahan tersebut.
Seringkali kita melihat berita di
televisi atau koran tentang berita pernikahan beda negara di kalangan artis.
Namun, ternyata pernikahan beda negara tidak hanya terjadi di kalangan artis,
melainkan di segala lapisan masyarakat. Bahkan, sekarang semakin marak pernikahan
antara TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dengan pria luar negeri. Biasanya mereka
menikah dengan majikan atau kerabat majikan tempat mereka bekerja.
Contohnya di Hong Kong, negara tempat
kita bekerja sekarang. Banyak kita jumpai teman-teman TKI yang menjalin
hubungan dengan pria berkebangsaan Pakistan, India, atau pria bule.
Pada hari Minggu, mayoritas pekerja
asing di Hong Kong mendapatkan hak libur. Hari itulah banyak kita jumpai teman-teman
TKI berkencan dengan pasangannya di taman-taman, mal, atau di tempat-tempat
hiburan malam yang ada di Hongkong.
Minat pria bule terhadap TKI sekarang
juga semakin meningkat. Mereka tidak segan-segan menikahi TKI bila sudah merasa
cocok setelah menjalani masa pacaran.
Alasan yang mendasari pernikahan beda
negara sangatlah kompleks. Salah satunya karena sudah terlanjur cinta. Pasangan
yang sudah terlanjur jatuh cinta dan merasa cocok untuk menjalani hidup
bersama, biasanya mereka akan memutuskan untuk menikah.
Alasan lain, bisa saja mereka memutuskan
menikah karena masalah ekonomi. Bisa saja TKI itu sedang terbelit utang, atau
keluarganya di Indonesia sedang membutuhkan uang, sehingga mencari suami bule
berkantong tebal agar bisa membantu memperbaiki perekonomian keluarga. Ada juga
yang memang sengaja pengen nyari bule kaya raya agar bisa menaikkan derajatnya
dalam masyarakat. Atau, karena kekecewaan terhadap pacar atau suami di
Indonesia, sehingga menimbulkan kebencian terhadap pria dari negaranya sendiri,
dan memilih menjalin hubungan dengan pria dari negara lain.
Terlepas dari belum adanya perlindungan
khusus tentang pernikahan beda negara, agama juga melarang keras pasangan pria
dan wanita untuk melakukan pernikahan jika keduanya menganut agama dan
kepercayaan yang berbeda.
Perlu diketahui, bahwa pernikahan beda
negara atau menikah dengan orang asing adalah suatu hal yang sangat pelik. Belum
lagi perbedaan bahasa, budaya, gaya hidup dan pola pikir. Permasalahan
imigrasi, perjanjian pranikah, KDRT(kekerasan dalam rumah tangga), tantangan
dari negara (kebijakan, aturan hukum dan perundang-undangan), pandangan
masyarakat, maupun keluarga sendiri.
Menurut Pasal 26 ayat (1) dan ayat (3)
UU kewarganegaraan Indonesia, apabila hukum negara asal si suami (WNA)
memberikan kewarganegaraan kepada pasangan akibat perkawinan campuran (beda
negara), maka istri yang WNI dapat kehilangan kewarganegaraan Indonesia,
kecuali jika dia mengajukan pernyataan untuk tetap menjadi WNI.
Peraturan ini sangat perlu diperhatikan
sebelum kita menikah dengan pria asing. Jangan sampai kita kehilangan
kewarganegaraan Indonesia. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk melakukan pernikahan
tersebut, ada baiknya dipikirkan terlebih dahulu, bekali pengetahuan yang
cukup. Tentu saja, semua itu dimaksudkan untuk menghindari hal yang tidak
diinginkan di kemudian hari. Apalagi, tidak sedikit wanita yang akhirnya
menjadi korban.
Banyak wanita yang ditelantarkan begitu
saja oleh suami, sehingga kebingungan mencari bantuan. Belum lagi jika sudah
mempunyai anak dan suami tidak mau mengakui, bagaimanakah nasib sang anak? Atau
jika kita menikah dengan pria Pakistan yang bekerja di Hong Kong, kemudian pria
itu kembali ke negara asal sementara kita masih di Hong Kong dan ternyata pria
itu tidak kembali lagi, bagaimana nasib kita?
Nah, sebelum kita bergaul dengan pria
asing, sebelum terjerat pencintaan beda Negara, sebelum memutuskan menikah, yuk,
pikirkan terlebih dahulu baik buruknya. Kita harus selektif dan cakap dalam
memilih pasangan hidup. Hidupmu ada di tanganmu. Ini semua kembali pada diri
kita masing-masing.
Dimuat di Tabloid Apakabar Plus





0 komentar:
Posting Komentar