Jumat, 14 Maret 2014

Gara-gara Darah

Malam itu aku mengantar mbak Parti ke dokter gigi, memeriksakan giginya yang berlubang. Dari MTR Jordan exit C2 kami berjalan lurus sampai ke pasar kemudian belok kiri. Tepat jam 6 sore aku dan kakak perempuanku itu sampai di tempat praktek dokter gigi langganan majikanku.
Nyonyaku Ms. Lee sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter, jadi sesampainya kami di klinik, kami langsung disuruh masuk menemui dokter.
Kami berdua masuk keruangan Dr. Wong,
“Lei tei hai mai yannei yan? (Apakah kalian orang Indonesia?)” Tanya dokter.
“Ya,” jawabku.
Kemudian dokter tanya siapa yang sakit gigi, aku menunjuk ke arah mbak Parti. Dokter lalu menyuruh mbak Parti berbaring di kursi pemeriksaan, mbak Parti membuka mulutnya dan dokter memeriksa gigi mbak Parti yang berlubang.
“Wah, ko lung ho tai wo. Lei yat ting mok co goe a. (Wah, lubangnya besar sekali, gigimu harus di cabut.)” Ucap dokter memerintah sambil mempersiapkan peralatannya.
Aku tersentak, mbak Parti terlihat sangat gugup juga takut. Kami tidak diberi kesempatan untuk berfikir, dokter langsung saja mencabut gigi mbak Parti tanpa persetujuan kami.
Dug…dug…dug…!! Berdetak jantungku menyaksikan pencabutan gigi itu, mbak Parti meringis kesakitan saat dokter menyuntikkan obat bius di gusinya. Lima menit kemudian mbak Parti berteriak kesakitan, dokter sedang menarik giginya dengan alat pencabut. Kulihat darah mengalir di mulut wanita yang berbaring di depanku, tiba-tiba kepalaku berputar-putar, lalu gelap. Aku hampir terjatuh tapi aku berusaha mengendalikan diri, dan duduk di kursi. Wajahku pucat, tanganku dingin. Dokter bingung melihatku, yang giginya di cabut masih bisa teriak-teriak, kok yang nganter malah pingsan?
Aku memang takut melihat darah, dulu waktu tanganku teriris pisau dan mengeluarkan darah, aku juga langsung pingsan di dapur sampai majikanku kaget.
        Setelah pencabutan gigi selesai, aku dan mbak Parti disuruh menunggu obat di ruang tunggu. Aku duduk bersandar, tanganku masih dingin seperti es, tubuhku lemas, mbak Parti duduk di sebelahku sambil memegangi pipinya.
        Ketika suster memanggil untuk memberitahu bagaimana cara meminum obatnya, mbak Parti menyuruhku maju karena dia masih kesakitan, akhirnya aku maju walau keadaanku sendiri masih setengah sadar, kudengarkan penjelasan suster, saat suster bilang,
“Kalau bekas cabutannya masih berdarah, sumpal lagi dengan kain ini.” Kata suster itu sambil menunjuk kain putih dalam kantong obat.
Mataku tiba-tiba buram, bayangan darah tadi muncul kembali, kemudian gelap. Aku terjatuh, spontan mbak Parti yang duduk di belakang bangkit menopangku.
Suster kaget dan heran, setelah dokter menceritakan kejadian tadi, suster itu jadi senyum-senyum pengen ketawa. Akhirnya suster berpesan pada mbak parti suruh jagain aku takut pingsan lagi di jalan.
Ini orang, bukan yang sakit yang seharusnya dijaga malah yang sakit yang disuruh njagain, pengennya mbantu malah ngrepotin.
“Wkwkwkwkwk….” Aku ketawa sendiri saat mengingat peristiwa ini. 

0 komentar:

Posting Komentar