Malam
itu aku mengantar mbak Parti ke dokter gigi, memeriksakan giginya yang
berlubang. Dari MTR Jordan exit C2 kami berjalan lurus sampai ke pasar kemudian
belok kiri. Tepat jam 6 sore aku dan kakak perempuanku itu sampai di tempat
praktek dokter gigi langganan majikanku.
Nyonyaku
Ms. Lee sebelumnya sudah membuat janji dengan dokter, jadi sesampainya kami di
klinik, kami langsung disuruh masuk menemui dokter.
Kami
berdua masuk keruangan Dr. Wong,
“Lei
tei hai mai yannei yan? (Apakah kalian orang Indonesia?)” Tanya dokter.
“Ya,”
jawabku.
Kemudian
dokter tanya siapa yang sakit gigi, aku menunjuk ke arah mbak Parti. Dokter
lalu menyuruh mbak Parti berbaring di kursi pemeriksaan, mbak Parti membuka
mulutnya dan dokter memeriksa gigi mbak Parti yang berlubang.
“Wah,
ko lung ho tai wo. Lei yat ting mok co goe a. (Wah, lubangnya besar sekali,
gigimu harus di cabut.)” Ucap dokter memerintah sambil mempersiapkan peralatannya.
Aku
tersentak, mbak Parti terlihat sangat gugup juga takut. Kami tidak diberi
kesempatan untuk berfikir, dokter langsung saja mencabut gigi mbak Parti tanpa
persetujuan kami.
Dug…dug…dug…!!
Berdetak jantungku menyaksikan pencabutan gigi itu, mbak Parti meringis
kesakitan saat dokter menyuntikkan obat bius di gusinya. Lima menit kemudian
mbak Parti berteriak kesakitan, dokter sedang menarik giginya dengan alat
pencabut. Kulihat darah mengalir di mulut wanita yang berbaring di depanku,
tiba-tiba kepalaku berputar-putar, lalu gelap. Aku hampir terjatuh tapi aku
berusaha mengendalikan diri, dan duduk di kursi. Wajahku pucat, tanganku
dingin. Dokter bingung melihatku, yang giginya di cabut masih bisa
teriak-teriak, kok yang nganter malah pingsan?
Aku
memang takut melihat darah, dulu waktu tanganku teriris pisau dan mengeluarkan
darah, aku juga langsung pingsan di dapur sampai majikanku kaget.
Setelah pencabutan gigi selesai, aku dan
mbak Parti disuruh menunggu obat di ruang tunggu. Aku duduk bersandar, tanganku
masih dingin seperti es, tubuhku lemas, mbak Parti duduk di sebelahku sambil
memegangi pipinya.
Ketika suster memanggil untuk
memberitahu bagaimana cara meminum obatnya, mbak Parti menyuruhku maju karena
dia masih kesakitan, akhirnya aku maju walau keadaanku sendiri masih setengah
sadar, kudengarkan penjelasan suster, saat suster bilang,
“Kalau
bekas cabutannya masih berdarah, sumpal lagi dengan kain ini.” Kata suster itu
sambil menunjuk kain putih dalam kantong obat.
Mataku
tiba-tiba buram, bayangan darah tadi muncul kembali, kemudian gelap. Aku
terjatuh, spontan mbak Parti yang duduk di belakang bangkit menopangku.
Suster
kaget dan heran, setelah dokter menceritakan kejadian tadi, suster itu jadi
senyum-senyum pengen ketawa. Akhirnya suster berpesan pada mbak parti suruh
jagain aku takut pingsan lagi di jalan.
Ini
orang, bukan yang sakit yang seharusnya dijaga malah yang sakit yang disuruh
njagain, pengennya mbantu malah ngrepotin.
“Wkwkwkwkwk….” Aku ketawa sendiri saat mengingat peristiwa ini.





0 komentar:
Posting Komentar