Selasa, 24 Desember 2013

Mimpi Untuk Berbagi


Oleh: NH. Lulu

        “Sedih banget Sri, rasanya pengen segera pulang.” tutur Lia di seberang telepon. Aku menghela nafas, asaku melayang ke masa lalu. Saat situasi yang sama dulu pernah kualami. Ketika ibu sakit dan aku berada jauh di tanah rantau. Ingin rasanya segera terbang pulang dan menemui ibu, tapi kenyataannya tak semudah itu. Banyak sekali berbagai alasan yang memaksaku harus bertahan. Meski sedih, inilah kenyataan yang tak mampu dipungkiri.
        “Sabar, Lia. Do’akan anakmu biar cepat sembuh.” hiburku kepada sahabat lama yang dulu tinggal di sebelah rumahku, saat aku masih berkerja di Hong Kong.
        Aku melangkah menuju jendela kamar. Memandangi rerumputan hijau yang yang tumbuh subur di halaman rumah. Pucuk-pucuknya tertutup embun yang berkilauan oleh sinar fajar. Bocah-bocah berseragam merah putih berlarian menuju sekolah.
        Lia, perjuanganmu untuk keluarga tak akan sia-sia. Lihatlah itu, salah diantara bocah-bocah yang berlarian, ibu mereka juga berada jauh di rantau. Ibu mereka sama sepertimu, bekerja di luar negeri untuk membantu keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Engkau adalah satu di antara ribuan pahlawan yang sedang berjuang untuk negeri ini.
        Sepertiku yang dulu berjuang untuk mencari modal masa depan. Mencari penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Enam tahun aku perjuangkan kehidupan yang sekarang kujalani. Kehidupan yang layak dan bisa berbagi dengan yang lain.
        Aku sama sepertimu Lia. Seperti para buruh migran lainnya yang bersusah payah di negeri orang untuk mencari sesuatu yang diinginkan. Rela bersakit-sakit menahan tikaman perasaan yang entah datangnya dari diri pribadi atau orang lain.
        Rela tunduk dan patuh pada peraturan majikan untuk memperjuangkan impian. Terkadang direndahkan dan dilecehkan. Namun, kita harus bangkit. Maju pantang mundur. Karena hidup kita berada di tangan kita.
        “Udah siap Mbak? Ini kan hari pertama training menjahit untuk karyawan baru di pabrik.” tanya Luna, menyadarkanku dari lamunan.
        “Oh iya, semua udah siap, tolong modul yang kemaren kamu print, bawa keruang training ya.”
        “Ok, siap Mbak. Semoga training hari ini lancar dan sukses. Kalau butuh bantuan, panggil aku aja.” Luna berlalu meninggalkan kamar untuk mengambil modul training menjahit di ruang kerjanya.
Pagi ini akan ada lima orang gadis muda lulusan SMP yang mengikuti training. Training yang segajaku selenggarakan untuk menjaring anak-anak muda yang putus sekolah dan membutuhkan pekerjaan.
        Cita-citaku untuk bisa membangun usaha dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi golongan masyarakat menengah ke bawah, kini sudah mulai terlihat perkembangan yang signifikan. Rencana membangun usaha ini sebenarnya sudah kurintis sejak masih bekerja sebagai seorang buruh migran di Hong Kong.
        Sejak awal Luna sangat mendukung rencanaku, walau sebelumnya ibu dan bapak sangsi dengan rencanaku.
        Sejak lima tahun yang lalu ketika aku masih bekerja di Hong Kong, aku mengabdikan diri untuk mewujudkan impianku membangun pabrik garmen ini. Di waktu-waktu senggang kugali bakat terpendam yang ada pada diriku, dan berlatih menjahit. Di hari libur aku ikut kursus menjahit dan sulam, agar bakatku semakin berkembang.
Kini tiga tahun sudah pabrik garmen ini berdiri. Harapanku kedepannya pabrik ini bisa menopang perekonomian keluarga, juga bisa membantu menyediakan lapangan pekerjaan sehingga akan mengurangi angka pengangguran negeri ini, terutama pengangguran di sekitar tempat tinggalku.
***
“Selamat pagi. Selamat bergabung kawan-kawanku semua, mari kita belajar bersama.” sapaku sambil membagikan modul kepada peserta training. Training ini saya bikin tidak terlalu formal. Saya ingin menciptakan suasana akrab, sehingga peserta training akan lebih nyaman dalam belajar.
“Oh iya Mbak, kenalkan nama saya Wina. Saya sama sekali belum tahu apa-apa tentang jahit-menjahit.”
“Oh, itu tak masalah Wina, itulah tujuan saya menggelar training ini. Saya ingin kawan-kawan yang belum bisa, tapi berminat untuk belajar, silahkan kita belajar bersama di sini. Siapa tahu kalian ada teman lain yang berminat, silahkan ajak mereka ke sini, entar siapa diantara kalian yang bisa cepat menguasai materi, kalian akan saya angkat menjadi karyawan di pabrik ini.”
“InsyaAllah, terima kasih Mbak Asri.” jawab Wina dan 4 peserta yang lain. Senangnya hatiku hari ini bisa berbagi dengan mereka. Inilah sesuatu yang kuinginkan selama ini, bisa berbagi dan membuka lapangan pekerjaan sehingga mereka tak usah jauh-jauh bekerja ke luar negeri untuk mencari pekerjaan.
Memang, tidak ada salahnya bekerja di luar negeri, tapi jika di dalam negeri ada lapangan pekerjaan, tentunya semua orang pun memilih untuk bekerja di negeri sendiri, sehingga bisa berkumpul dengan keluarga.
Pukul 12 siang training selesai. Aku segera ke ruang kerja Luna. Dia masih berkutat di depan komputer mengurus dokumentasi pabrik dan menghandel penjualan secara online.
Aku salut kepada adikku yang bersedia membantuku mengelola pabrik ini. Walau sebenarnya minat dia di bidang lain. Aku juga salut kepada karyawan-karyawan lainnya yang bergabung di pabrik ini. Latar belakang mereka semua rata-rata sama denganku, bukan lulusan sarjana. Namun, semangat mereka dan kegigihan merekalah yang membuat pabrik ini semakin meningkat dari hari ke hari.
Dengan kreatifitas dan inovasi-inovasi baru yang kami lakukan untuk usaha ini. Sekarang pabrik ini sudah mempunyai sepuluh karyawan dan menghasilkan prodak pakaian yang semakin berkualitas. Aku yakin, dengan tekad dan kegigihan yang tinggi pabrik garmen ini akan semakin besar dan berkembang.
Yuen Long, 14 Oktober 2013
Juara 2 Lomba Menulis Cerpen yang diadakan Perpus BAI (Bintang Al-Ikhlas) Hong Kong

4 komentar: