![]() |
Oleh: NH. Lulu
Cinta itu anugrah Tuhan yang begitu aneh, meski
sudah banyak kata dan kalimat untuk mendefinisikan makna cinta, tapi seakan
masih saja kurang dan tak lengkap, apa sebenarnya makna cinta itu?
Bagi sebagian orang, cinta mungkin suatu
keindahan, kenikmatan, dan kebahagian. Namun, bagi Wulan—wanita lajang berusia
40 tahun itu, cinta adalah sebuah titik hitam dalam kehidupannya. Sebuah mozaik
penuh penyesalan.
Cahyo—cowok tampan, tinggi, mata bulat—adalah
seorang atlet basket sekolahan yang menjadi idaman para cewek di kelas. Tak
tanggung-tanggung, banyak kakak kelas yang bertekuk lutut kepadanya. Entah
mengapa, Wulan juga sama seperti cewek lain yang mengharapkan cinta Cahyo
mampir ke hatinya.
Wulan sendiri bingung dengan perasaannya. Kenapa
bisa benar-benar menyukai Cahyo, walau cowok itu sudah punya pacar. Gadis ayu
keturunan malay itu sudah mencoba menepis perasaanya terhadap Cahyo. Tapi cinta
itu semakin membakar dirinya.
Bayang-bayang Cahyo terus bersiponggang dalam
khayalan, selalu mengusik hari-harinya. Ketika jam pelajaran, Wulan tak bisa
kosentrasi belajar. Apalagi posisi tempat duduk Cahyo yang tak jauh darinya,
membuat dara remaja itu selalu mencuri pandang.
Menjelang kenaikan kelas, seorang kakak kelas
bernama Ardi datang menyatakan cinta kepada Wulan. Dia adalah cowok yang selama
ini sering memboncengkan Wulan ketika berangkat sekolah.
Jalur rumah Ardi dan Wulan yang searah membuat
mereka sering berangkat bersama. Setiap pagi Ardi sering mendapati Wulan
berdiri di tepi jalan sedang menunggu bus. Lalu, dengan senang hati Ardi akan
memboncengkan gadis itu sampai sekolahan. Hingga, tak disangka, tumbuh
benih-benih cinta di hati Ardi terhadap Wulan.
Wulan sangat heran, ketika suatu pagi yang
gerimis, ia bangun kesiangan hingga harus berlari-lari menuju ke halte bus dan
mendapati Ardi tengah menunggunya di sana.
“Mas Ardi, kok bisa di sini?”
“Yuk buruan udah telat nich!” ajak Ardi seraya
men-starter motor, lalu melaju cepat
mengejar waktu.
Wulan menelan ludah, duduk di belakang dengan
memendam pertanyaan yang tak terjawab. Jarak yang biasanya ditempuh selama 30
menit kini hanya mereka tempuh dalam 15 menit. Ardi memacu motornya dengan
kecepatan tinggi, namun tetap saja mereka telat sampai di sekolahan.
“Huft…telat
dech. Maafin aku Wulan, tak bisa membawamu lebih cepat,” ucap Ardi sedikit
kecewa. Wulan menyeringai, masih belum faham dengan apa yang sedang ia alami.
“Kenapa Kak Ardi bisa menungguku?” tanya Wulan
masih penasaran.
“Karena aku ingin selalu mengantarmu ke
sekolah. Syukur-syukur jika kamu bersedia pulang bareng aku.”
“Tapi….” Pertanyaan Wulan terputus oleh satpam
sekolah yang menyuruh mereka masuk.
Hari itu Wulan benar-benar merasa aneh dengan sikap
Ardi. Namun, penasaran di hatinya terjawab ketika jam istirahat Ardi menemui
Wulan dan mengungkapkan perasaannya.
“Jika kamu menerimaku, pulanglah bersamaku. Kutunggu
di parking belakang.” pinta Ardi sebelum pergi menuju kelas XII IPA 1, kelas yang
berada paling ujung.
Saat jam perlajaran terakhir, Wulan mulai
gelisah. Pikirannya melayang pada sosok Ardi yang atletis mirip seperti pujaan
hatinya, Cahyo Adi Nugroho. Tapi Ardi lebih pendiam dari Cahyo, yang periang
dan suka iseng tur gokil.
Teng
teng teng…! Bel tanda
berakhirnya pelajaran berbunyi. Kelas yang semula sunyi berubah gaduh. Para
siswa mengemasi buku dan beranjak pulang. Wulan masih terdiam memandang pias
isi kelas yang mulai sepi.
“Yuk pulang, Lan,” ajak Ria teman sebangkunya.
“I-iya…aku ada janji ama teman, kamu duluan
aja.” Sekarang tinggal Wulan sendiri di dalam kelas. Di luar juga mulai sepi,
sesekali ada beberapa siswa yang berjalan santai sambil ngobrol dengan
kawan-kawannya.
Wulan berjalan gontai menuju parkir kendaraan di
belakang. Ia melangkah antara yakin dan bimbang. Pria yang ia suka adalah
Cahyo, namun cowok itu sudah mempunyai pacar. Haruskah ia terus mencintai cowok
yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang?
Tepat di ujung toilet sebelum ke area parkir,
Wulan tiba-tiba berbelok dan lari menuju gerbang sekolahan. Ardi masih
menunggunya di samping motor Suzuki birunya. Sesekali melirik jam yang
bertengger di tangannya dan menoleh ke kanan kiri. Namun, gadis yang ia tunggu
tak jua datang. Hingga pukul 4 sore Ardi menunggu dan pergi membawa harapan
kosong.
Pagi itu Wulan segaja berangkat awal agar tidak
berpapasan dengan Ardi, tapi ternyata Ardi malah sudah menunggunya di tepi
jalan. Betapa kaget dan tak percaya sepagi itu Ardi sudah menunggunya di sana.
“Kak…Kak Ardi kok bisa ada di sini?” tanya
Wulan kikuk. Seperti biasa, Ardi hanya tersenyum simpul dan memberi kode agar
Wulan naik ke motornya. Tapi kali ini Wulan menolak.
“Apa sekarang kamu juga sudah tak sudi
berangkat sekolah bareng aku?” tanya Ardi datar.
“Bukan seperti itu, Kak.”
“Lantas?”
“Aku…Aku masih bingung.”
“Kenapa bingung, bukankah setiap pagi kita
selalu berangkat bersama? Emmm…aku tahu, kamu masih memikirkan ucapanku yang
kemaren? Sudahlah Wulan, jika kamu tak bersedia pulang bersamaku, cukup mengantarmu
ke sekolah seperti biasanya aku sudah senang.”
“Tapi, aku tak mau menyakitimu.”
“Hatiku sudah sakit sejak kemaren, tapi aku
masih bersedia menunggumu pagi ini. Jika kita tak bisa bersama, bukankah kita
masih bisa berteman.”
Wulan menunduk, tak mampu lagi untuk melawan.
Hatinya berdesir, terharu oleh ketulusan Ardi.
Suzuki biru melaju pelan melintasi jalan
Soekarno, menembus semilir udara pagi. Roda motor Ardi meliuk di pertigaan
menuju jalur pantai Kota Sendang. Melewati beberapa sekolah SMP swasta dan STM,
melaju lurus sampai ke SMA N 1 Weleri. Ardi menurunkan Wulan di depan lobi
sekolahan.
“Tunggu aku di parkir belakang, pulang
sekolah.” ucap Wulan lalu berlari menuju kelas. Ardi tersenyum, hatinya
berbunga. Berjuta rasanya.
Sejak hari itu mereka jadian, Wulan mencoba
untuk mencintai Ardi sebagaimana Ardi tulus mencintainya. Setiap hari Ardi
mengantar jemput Wulan ke sekolah. Hari-hari di sekolah mereka lewati bersama,
seakan waktu pun begitu cepat berlalu. Berlari, tanpa bisa kembali.
***
Cinta Ardi kini laksana taman bunga yang
bermekaran, indah nian elok. Namun, lain halnya dengan Wulan. Meski sudah dua
bulan menerima Ardi sebagai kekasih, Wulan masih belum sepenuhnya mencintai
Ardi. Apalagi dua hari yang lalu Cahyo putus dengan pacarnya dan “nembak”
Wulan.
Wulan dilanda dilema yang teramat. Cahyo adalah
cinta pertama Wulan, dan sekarang dia ingin menjadikan Wulan sebagai
kekasihnya. Siapa sih cewek yang nggak seneng jika “ditembak” dengan cowok yang
dicintai? Oops! Tapi gimana dengan
Ardi?
“Kenapa sih, udah dua hari ini kamu sering
melamun?”
“Eh, apa? Tadi Kakak bilang apa?” Wulan
gelagapan, terpergok.
“Tuh, kan. Melamun lagi.” Ardi mendengus.
Merasa Wulan benar-benar Aneh.
“Maaf Kak, aku kepikiran pelajaran, sebentar
lagi kan tes akhir semester.” Ardi mengendik, mencoba menerima alasan Wulan.
“Kak, nanti ayah mau jemput, jadi kakak nggak
usah nungguin aku,” ucap Wulan sebelum kembali ke dalam kelas.
Siang yang terik, matahari begitu garangnya
memanggang bumi. Wulan ingin segera pulang ke rumah dan istirahat. Hari ini
begitu melelahkan, selain tadi ada pelajaran olahraga, Wulan juga pusing
memikirkan masalah cintanya.
“Wulan, tunggu!” Ia merandek, mencari siapa
yang memanggilnya. “Mau nggak kuantar kamu pulang?” Wulan menelengkan kepala.
“Wulan, sampai kapan kamu seperti ini? Aku tahu
kamu mencintaiku, sejak dulu kamu selalu mencuri pandang kepadaku. Jangan kira
aku nggak tahu Wulan.” cecar Cahyo dengan nada mendesak. Wulan
menggeleng-geleng dan mencoba berlari, tapi Cahyo lebih dulu meraih tangannya.
“Apakah karena kakak kelas itu, kamu nggak mau
nrima aku?” Deg! Pukulan bogem seolah
mendarat tepat diulu hatinya. Sakit. Sesak rasanya.
“Jika kamu memang mencintainya, terima saja.
Aku tak akan menghalangimu.” Wulan terkejut, kenapa tiba-tiba Ardi muncul di hadapannya.
Dia benar-benar tak mampu untuk menjelaskan. Semua berjalan begitu cepat, Wulan
pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
“Kak, bukan seperti itu….” Ardi telah melesat
pergi. Wulan merasa tubuhnya membeku, kaki-kakinya seraya dirayapi jutaan semut
yang membuatnya lumpuh. Ia menatap nanar punggung pacarnya yang berlari dan
menghilang dibalik tembok kelas XI B. Matanya yang berkaca-kaca pecah
menitikkan setetes embun Kristal. Berjuta rasa teraduk di dalam hatinya, galau!
***
Tes
akhir semester telah usai. Liburan panjang menyambut para siswa kelas X dan XI
SMA N 1 Weleri. Kelas XII yang sudah lulus mengucapkan perpisahan kepada dewan
guru, kawan karib, handai taulan. Wulan ingin sekali mengucapkan perpisahan dan
berjuta kata maaf kepada Ardi, karena ia sudah melukai cintanya yang begitu
tulus. Sejak mereka putus, Wulan jarang bertemu dengan Ardi, bahkan berpapasan
di sekolah atau pas nunggu bus saat berangkat sekolah pun tak pernah. Ardi
seakan menghilang jauh, meski mereka masih satu sekolahan.
Wulan
memberanikan diri ke kelas XII IPA 1. Beberapa kakak kelas yang sedang bersenda
gulau menoleh karena kedatangannya.
“Maaf,
Mbak. Kak Ardi hari ini masuk nggak ya?” tanya Wulan pada kakak kelas yang
duduk di samping pintu.
“Tadi
aku lihat dia di kantin.”
“Oh,
kalau gitu saya ke sana saja. Terima kasih ya Mbak.” Wulan menyusuri koridor
kelas XII lalu belok ke kiri menuju kantin. Benar saja, Ardi sedang makan bersama
kawan-kawannya.
“Kak
Ardi, bisa bicara sebentar?” Ardi mengikuti Wulan keluar kantin, duduk di
bangku kayu di samping lapangan basket yang tak jauh dari kantin.
Setelah
selesai mengucapkan perpisahan dia segera pergi, seraya menyembunyikan air
matanya. Wulan ke toilet untuk menumpahkan luapan air mata yang sudah tak
terbendung lagi. Wulan tak ingin siapa pun melihatnya menangis, terutama Ardi.
Ardi
telah memutuskannya sejak dia tahu Cahyo adalah cinta pertama Wulan. Tapi bagi
Wulan Cahyo hanyalah cinta masa lalu, karena ternyata kenangan saat-saat
kebersamaan mereka—bersama Ardi tak mampu ia enyahkan dari ingatannya. Semakin
hari, Wulan semakin merindukan kebersamaan itu. Ia sangat merindukan perhatian
dan cinta tulus Ardi.
Hingga
sekarang Wulan masih merindu dan menunggu Ardi datang kembali, meski usianya
sudah tak muda lagi. Cahyo sudah punya anak dua, teman-teman sebayanya hampir
sudah menikah semua, tapi Wulan tetap merindu dan menunggu cint aArdi yang
entah ada di mana.
Yuen Long, 30 Januari 2014
Dimuat di Tabloid Apakabar Ditambah Edisi # 01 Thn IX * 8-21 Maret 2014





0 komentar:
Posting Komentar