Rabu, 12 Maret 2014

Segitiga Cinta Hitam



Oleh: NH. Lulu
Cinta itu anugrah Tuhan yang begitu aneh, meski sudah banyak kata dan kalimat untuk mendefinisikan makna cinta, tapi seakan masih saja kurang dan tak lengkap, apa sebenarnya makna cinta itu?
Bagi sebagian orang, cinta mungkin suatu keindahan, kenikmatan, dan kebahagian. Namun, bagi Wulan—wanita lajang berusia 40 tahun itu, cinta adalah sebuah titik hitam dalam kehidupannya. Sebuah mozaik penuh penyesalan.
Cahyo—cowok tampan, tinggi, mata bulat—adalah seorang atlet basket sekolahan yang menjadi idaman para cewek di kelas. Tak tanggung-tanggung, banyak kakak kelas yang bertekuk lutut kepadanya. Entah mengapa, Wulan juga sama seperti cewek lain yang mengharapkan cinta Cahyo mampir ke hatinya.
Wulan sendiri bingung dengan perasaannya. Kenapa bisa benar-benar menyukai Cahyo, walau cowok itu sudah punya pacar. Gadis ayu keturunan malay itu sudah mencoba menepis perasaanya terhadap Cahyo. Tapi cinta itu semakin membakar dirinya.
Bayang-bayang Cahyo terus bersiponggang dalam khayalan, selalu mengusik hari-harinya. Ketika jam pelajaran, Wulan tak bisa kosentrasi belajar. Apalagi posisi tempat duduk Cahyo yang tak jauh darinya, membuat dara remaja itu selalu mencuri pandang.
Menjelang kenaikan kelas, seorang kakak kelas bernama Ardi datang menyatakan cinta kepada Wulan. Dia adalah cowok yang selama ini sering memboncengkan Wulan ketika berangkat sekolah.
Jalur rumah Ardi dan Wulan yang searah membuat mereka sering berangkat bersama. Setiap pagi Ardi sering mendapati Wulan berdiri di tepi jalan sedang menunggu bus. Lalu, dengan senang hati Ardi akan memboncengkan gadis itu sampai sekolahan. Hingga, tak disangka, tumbuh benih-benih cinta di hati Ardi terhadap Wulan.
Wulan sangat heran, ketika suatu pagi yang gerimis, ia bangun kesiangan hingga harus berlari-lari menuju ke halte bus dan mendapati Ardi tengah menunggunya di sana.
“Mas Ardi, kok bisa di sini?”
“Yuk buruan udah telat nich!” ajak Ardi seraya men-starter motor, lalu melaju cepat mengejar waktu.
Wulan menelan ludah, duduk di belakang dengan memendam pertanyaan yang tak terjawab. Jarak yang biasanya ditempuh selama 30 menit kini hanya mereka tempuh dalam 15 menit. Ardi memacu motornya dengan kecepatan tinggi, namun tetap saja mereka telat sampai di sekolahan.
Huft…telat dech. Maafin aku Wulan, tak bisa membawamu lebih cepat,” ucap Ardi sedikit kecewa. Wulan menyeringai, masih belum faham dengan apa yang sedang ia alami.
“Kenapa Kak Ardi bisa menungguku?” tanya Wulan masih penasaran.
“Karena aku ingin selalu mengantarmu ke sekolah. Syukur-syukur jika kamu bersedia pulang bareng aku.”
“Tapi….” Pertanyaan Wulan terputus oleh satpam sekolah yang menyuruh mereka masuk.
Hari itu Wulan benar-benar merasa aneh dengan sikap Ardi. Namun, penasaran di hatinya terjawab ketika jam istirahat Ardi menemui Wulan dan mengungkapkan perasaannya.
“Jika kamu menerimaku, pulanglah bersamaku. Kutunggu di parking belakang.” pinta Ardi sebelum pergi menuju kelas XII IPA 1, kelas yang berada paling ujung.
Saat jam perlajaran terakhir, Wulan mulai gelisah. Pikirannya melayang pada sosok Ardi yang atletis mirip seperti pujaan hatinya, Cahyo Adi Nugroho. Tapi Ardi lebih pendiam dari Cahyo, yang periang dan suka iseng tur gokil.
Teng teng teng…! Bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi. Kelas yang semula sunyi berubah gaduh. Para siswa mengemasi buku dan beranjak pulang. Wulan masih terdiam memandang pias isi kelas yang mulai sepi.
“Yuk pulang, Lan,” ajak Ria teman sebangkunya.
“I-iya…aku ada janji ama teman, kamu duluan aja.” Sekarang tinggal Wulan sendiri di dalam kelas. Di luar juga mulai sepi, sesekali ada beberapa siswa yang berjalan santai sambil ngobrol dengan kawan-kawannya.
Wulan berjalan gontai menuju parkir kendaraan di belakang. Ia melangkah antara yakin dan bimbang. Pria yang ia suka adalah Cahyo, namun cowok itu sudah mempunyai pacar. Haruskah ia terus mencintai cowok yang jelas-jelas sudah menjadi milik orang?
Tepat di ujung toilet sebelum ke area parkir, Wulan tiba-tiba berbelok dan lari menuju gerbang sekolahan. Ardi masih menunggunya di samping motor Suzuki birunya. Sesekali melirik jam yang bertengger di tangannya dan menoleh ke kanan kiri. Namun, gadis yang ia tunggu tak jua datang. Hingga pukul 4 sore Ardi menunggu dan pergi membawa harapan kosong.
Pagi itu Wulan segaja berangkat awal agar tidak berpapasan dengan Ardi, tapi ternyata Ardi malah sudah menunggunya di tepi jalan. Betapa kaget dan tak percaya sepagi itu Ardi sudah menunggunya di sana.
“Kak…Kak Ardi kok bisa ada di sini?” tanya Wulan kikuk. Seperti biasa, Ardi hanya tersenyum simpul dan memberi kode agar Wulan naik ke motornya. Tapi kali ini Wulan menolak.
“Apa sekarang kamu juga sudah tak sudi berangkat sekolah bareng aku?” tanya Ardi datar.
“Bukan seperti itu, Kak.”
“Lantas?”
“Aku…Aku masih bingung.”
“Kenapa bingung, bukankah setiap pagi kita selalu berangkat bersama? Emmm…aku tahu, kamu masih memikirkan ucapanku yang kemaren? Sudahlah Wulan, jika kamu tak bersedia pulang bersamaku, cukup mengantarmu ke sekolah seperti biasanya aku sudah senang.”
“Tapi, aku tak mau menyakitimu.”
“Hatiku sudah sakit sejak kemaren, tapi aku masih bersedia menunggumu pagi ini. Jika kita tak bisa bersama, bukankah kita masih bisa berteman.”
Wulan menunduk, tak mampu lagi untuk melawan. Hatinya berdesir, terharu oleh ketulusan Ardi.
Suzuki biru melaju pelan melintasi jalan Soekarno, menembus semilir udara pagi. Roda motor Ardi meliuk di pertigaan menuju jalur pantai Kota Sendang. Melewati beberapa sekolah SMP swasta dan STM, melaju lurus sampai ke SMA N 1 Weleri. Ardi menurunkan Wulan di depan lobi sekolahan.
“Tunggu aku di parkir belakang, pulang sekolah.” ucap Wulan lalu berlari menuju kelas. Ardi tersenyum, hatinya berbunga. Berjuta rasanya.
Sejak hari itu mereka jadian, Wulan mencoba untuk mencintai Ardi sebagaimana Ardi tulus mencintainya. Setiap hari Ardi mengantar jemput Wulan ke sekolah. Hari-hari di sekolah mereka lewati bersama, seakan waktu pun begitu cepat berlalu. Berlari, tanpa bisa kembali.
***
Cinta Ardi kini laksana taman bunga yang bermekaran, indah nian elok. Namun, lain halnya dengan Wulan. Meski sudah dua bulan menerima Ardi sebagai kekasih, Wulan masih belum sepenuhnya mencintai Ardi. Apalagi dua hari yang lalu Cahyo putus dengan pacarnya dan “nembak” Wulan.
Wulan dilanda dilema yang teramat. Cahyo adalah cinta pertama Wulan, dan sekarang dia ingin menjadikan Wulan sebagai kekasihnya. Siapa sih cewek yang nggak seneng jika “ditembak” dengan cowok yang dicintai? Oops! Tapi gimana dengan Ardi?
“Kenapa sih, udah dua hari ini kamu sering melamun?”
“Eh, apa? Tadi Kakak bilang apa?” Wulan gelagapan, terpergok.
“Tuh, kan. Melamun lagi.” Ardi mendengus. Merasa Wulan benar-benar Aneh.
“Maaf Kak, aku kepikiran pelajaran, sebentar lagi kan tes akhir semester.” Ardi mengendik, mencoba menerima alasan Wulan.
“Kak, nanti ayah mau jemput, jadi kakak nggak usah nungguin aku,” ucap Wulan sebelum kembali ke dalam kelas.
Siang yang terik, matahari begitu garangnya memanggang bumi. Wulan ingin segera pulang ke rumah dan istirahat. Hari ini begitu melelahkan, selain tadi ada pelajaran olahraga, Wulan juga pusing memikirkan masalah cintanya.
“Wulan, tunggu!” Ia merandek, mencari siapa yang memanggilnya. “Mau nggak kuantar kamu pulang?” Wulan menelengkan kepala.
“Wulan, sampai kapan kamu seperti ini? Aku tahu kamu mencintaiku, sejak dulu kamu selalu mencuri pandang kepadaku. Jangan kira aku nggak tahu Wulan.” cecar Cahyo dengan nada mendesak. Wulan menggeleng-geleng dan mencoba berlari, tapi Cahyo lebih dulu meraih tangannya.
“Apakah karena kakak kelas itu, kamu nggak mau nrima aku?” Deg! Pukulan bogem seolah mendarat tepat diulu hatinya. Sakit. Sesak rasanya.
“Jika kamu memang mencintainya, terima saja. Aku tak akan menghalangimu.” Wulan terkejut, kenapa tiba-tiba Ardi muncul di hadapannya. Dia benar-benar tak mampu untuk menjelaskan. Semua berjalan begitu cepat, Wulan pun tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
“Kak, bukan seperti itu….” Ardi telah melesat pergi. Wulan merasa tubuhnya membeku, kaki-kakinya seraya dirayapi jutaan semut yang membuatnya lumpuh. Ia menatap nanar punggung pacarnya yang berlari dan menghilang dibalik tembok kelas XI B. Matanya yang berkaca-kaca pecah menitikkan setetes embun Kristal. Berjuta rasa teraduk di dalam hatinya, galau!
***
Tes akhir semester telah usai. Liburan panjang menyambut para siswa kelas X dan XI SMA N 1 Weleri. Kelas XII yang sudah lulus mengucapkan perpisahan kepada dewan guru, kawan karib, handai taulan. Wulan ingin sekali mengucapkan perpisahan dan berjuta kata maaf kepada Ardi, karena ia sudah melukai cintanya yang begitu tulus. Sejak mereka putus, Wulan jarang bertemu dengan Ardi, bahkan berpapasan di sekolah atau pas nunggu bus saat berangkat sekolah pun tak pernah. Ardi seakan menghilang jauh, meski mereka masih satu sekolahan.
Wulan memberanikan diri ke kelas XII IPA 1. Beberapa kakak kelas yang sedang bersenda gulau menoleh karena kedatangannya.
“Maaf, Mbak. Kak Ardi hari ini masuk nggak ya?” tanya Wulan pada kakak kelas yang duduk di samping pintu.
“Tadi aku lihat dia di kantin.”
“Oh, kalau gitu saya ke sana saja. Terima kasih ya Mbak.” Wulan menyusuri koridor kelas XII lalu belok ke kiri menuju kantin. Benar saja, Ardi sedang makan bersama kawan-kawannya.
“Kak Ardi, bisa bicara sebentar?” Ardi mengikuti Wulan keluar kantin, duduk di bangku kayu di samping lapangan basket yang tak jauh dari kantin.
Setelah selesai mengucapkan perpisahan dia segera pergi, seraya menyembunyikan air matanya. Wulan ke toilet untuk menumpahkan luapan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Wulan tak ingin siapa pun melihatnya menangis, terutama Ardi.
Ardi telah memutuskannya sejak dia tahu Cahyo adalah cinta pertama Wulan. Tapi bagi Wulan Cahyo hanyalah cinta masa lalu, karena ternyata kenangan saat-saat kebersamaan mereka—bersama Ardi tak mampu ia enyahkan dari ingatannya. Semakin hari, Wulan semakin merindukan kebersamaan itu. Ia sangat merindukan perhatian dan cinta tulus Ardi.
Hingga sekarang Wulan masih merindu dan menunggu Ardi datang kembali, meski usianya sudah tak muda lagi. Cahyo sudah punya anak dua, teman-teman sebayanya hampir sudah menikah semua, tapi Wulan tetap merindu dan menunggu cint aArdi yang entah ada di mana.

Yuen Long, 30 Januari 2014


 Dimuat di Tabloid Apakabar Ditambah Edisi # 01 Thn IX * 8-21 Maret 2014

0 komentar:

Posting Komentar