Oleh: NH. Lulu
Lebaran telah tiba, inilah saat yang
amat dinanti oleh umat Muslim yang, di sepanjang Ramadhan, melaksanakan ibadah
puasa. Sayangnya, hari kemenangan itu seringkali juga ditandai dengan perilaku
sebagian Buruh Migran (BMI) yang jor-joran alias konsumtif dalam membelanjakan
uang. Ada yang dikirim ke kampung halaman tanpa kalkulasi cermat, tidak sedikit
pula yang dibelanjakan percuma di Hong Kong.
Tulisan ini tidak focus membahas
fenomena jor-joran di saat Lebaran. Namun, mencoba menariknya lebih luas,
terkait dengan seringnya kita jumpai BMI yang pulang ke kampung halaman tanpa
membawa hasil, atau fenomena BMI yang selalu putus-sambung kontak—sudah
bertahun-tahun bekerja di luar negeri tapi tidak mendapat apa-apa, lantaran
gaji yang di dapat selalu habis begitu saja tak jelas dimana rimbanya. Aneh,
tapi itulah kenyataan yang banyak kita jumpai di sekeliling kita.
Bahkan ada yang bilang, semakin lama
bekerja bukan semakin kaya tapi semakin banyak hutang. Di koran-koran dan media
massa banyak diberitakan BMI yang terjerat hutang sampai puluhan juta, ada juga
yang sampai depresi karena tak kuat membayar utang yang bertumpuk-tumpuk.
Lantas, apakah penyebab dari permasalahan-permasalahan di atas? Tentu, beragam
alasan dan penyebab.
Salah-satu penyebab utamanya, itu tadi,
perilaku jor-joran alias konsumtif, yang diperparah dengan ketidakmampuan me-manage
keuangan dengan baik. Meskipun me-manage keuangan dianggap sepele, ternyata
sangat banyak sekali manfaatnya bagi BMI untuk menyelamatkan gajinya.
Dengan me-manage keuangan dengan baik,
akan memudahkan kita dalam mengontrol pengeluaran-pengeluaran setiap bulan,
sehingga kita akan tahu ke mana saja perginya uang yang telah kita keluarkan.
Dengan begitu kita bisa memangkas pengeluaran-pengeluaran yang kurang penting
sehingga bisa lebih berhemat.
Cara paling mudah: buatlah catatan
sederhana tentang keuangan. Catat setiap pemasukan dan pengeluaran kita setiap
bulannya untuk mengecek saldo keuangan kita. Seimbang atau tidak antara
pemasukan dan pengeluaran, usahakan jangan sampai terjadi ‘besar pasak daripada
tiang’ besar pengeluaran daripada pendapatan.
Untuk
mengantisipasi hal itu biasakan untuk selalu berhemat, hindari pola hidup
konsumtif, budaya foya-foya dan gaya hidup glamour.
Termasuk, dengan selektif menggelontorkan uang di “musim” Lebaran sekalipun. Usahakan
untuk menyisihkan minimal 10 persen dari gaji kita untuk ditabung setiap bulan,
jika bisa lebih banyak, maka itu akan lebih baik.
Percaya atau tidak, banyak BMI tidak
bisa mengendalikan diri dari pola kehidupan orang Hong Kong yang konsumtif dan
serba mewah. Mereka selalu memburu gadget
wah, ponsel terbaru, pakaian bermerk, dan barang-barang branded lainya. Tak segan-segan BMI terpaksa berhutang di lembaga
keuangan (finance company) untuk
membeli sesuatu yang ia inginkan dan untuk memenuhi gengsi.
Jikalau
keadaan seperti itu dibiarkan terus berlanjut, kondisi keuangan akan semakin
terpuruk. Dan, saat tiba waktunya finish
kontrak, mereka tidak mempunyai uang, malahan masih menanggung utang. Ujungnya
mau tidak mau harus menyambung kontrak. Itu sebabnya, kita sebagai BMI harus
berhati-hati dalam bergaul, karena lingkungan amat-sangat berpengaruh pada diri
kita. Jika kita bergaul dengan orang-orang baik, niscaya kita juga akan baik,
begitu sebaliknya.
Selain me-manage keuangan dengan baik,
kita juga harus pintar dalam memilih sarana berinvestasi yang bagus. Ini
penting, agar uang yang telah kita peroleh dengan susah payah mempunyai nilai
dan semakin bertambah. Sekarang ini, menabung saja tidak cukup, karena
rata-rata kenaikan bunga bank tidak signifikan untuk melawan inflasi (kenaikan
harga barang).
Oleh
karena itu, kita harus berinvestasi agar uang kita tidak tergerus oleh inflasi.
Misalnya, kita bisa membeli tanah atau emas untuk investasi, karena harga tanah
dan emas cenderung naik setiap tahun. Jadi, kita akan mendapatkan keuntungan
dari kenaikan tersebut. Atau, bisa juga dana tersebut kita investasikan untuk
membuka usaha, maupun sarana-sarana investasi lain yang memberi keuntungan.
Untuk memperbanyak pengetahuan tentang
manajemen keuangan, kita bisa belajar dari seminar-seminar atau workshop keuangan dan wirausaha, belajar
dari buku-buku. Kita beruntung, selain ada perpustakaan Negara, di Hong Kong
banyak perpustakaan lehesan milik BMI. Kita bisa memanfaatkannya dengan baik. Disampaing
kita juga bisa mencari segudang artikel seputar keuangan di internet.
Dengan me-manage keuangan secara baik,
semoga para “pahlawan devisa negara” dapat pulang ke kampung halaman dengan
membawa hasil dan modal yang cukup untuk memulai hidup bersama keluarga di
rumah. Dan, hemat saya, Lebaran tahun ini bisa kita jadikan momentum untuk
menata diri. Utamanya, terkait dengan pentingnya memperbaiki manajemen keuangan
pribadi kita.nkalau bukan kita sendiri yang memulai, siapa lagi?
Apakabar Ditambah # * THN VIII * 3-23 Agustus 2013





0 komentar:
Posting Komentar