Wajah Kuntilanak

Adakah di jaman modern seperti sekarang ini yang masih takut dengan hantu? Apalagi di negara Hong Kong tempat kita mengais dolar ini adalah salah satu negara maju dengan fasilitas tehnologi yang luar biasa canggih. Eits…tapi jangan salah lho...

Mengais Rezeki Tambahan Dihari Libur

Kebebasan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong yang mempunyai waktu libur sepekan sekali dan public holiday, banyak di manfaatkan BMI untuk mengais rejeki tambahan dengan berjualan. Walau sebenarnya BMI berjualan itu...

Tahun Baru

Gulir waktu kian menganga Menapak batas semesta Kerlip bintang tebarkan cahaya di gelap langit Memoles indah angkasa luas...

Tapak Perjalanan

Jelajahi tapak perjalanan masa lalu Seraya merajut harap pada sisa waktu Bermuhasabah Berbenah Berjuang dan berusaha menggapai yang belum tercapai...

Desaku

Kumandang adzan di ujung fajar Hembusan angin semerbak bau bawang Gemericik air dan cicit kenari di pematang ladang Mengukir indah bingkai kenangan...

Senin, 28 September 2015

Sekuntum Kamboja di Pusara Ayah


        Langit tak berhenti merinaikan hujan, sesekali halilintar menggelegar. Tubuhku kian menggigil oleh terjangan angin, tapi aku masih tak bergeming untuk tetap jongkok di samping pusara ayah.
        Sebagai anak tunggal yang terlahir dikeluarga kaya, aku hidup berkecukupan. Segala apa yang kuinginkan selalu dituruti oleh kedua orangtuaku. Ibuku seorang wanita karier yang sukses. Dia selalu sibuk di kantor sehingga jarang di rumah.
        Ayah adalah seorang pialang saham yang handal. Walau dia sering berada di rumah, tapi waktunya selalu habis untuk nongkrong di depan layar komputer. Mungkin baginya di dalam komputer itu ada harta karun yang bernilai milyaran rupiah, sehingga ia tak bosan-bosan untuk menghabiskan waktu di sana.
        Sebagai anak tunggal saya sangat kesepian, hanya Bi Minah yang masih peduli dan mau menemaniku bermain. Tetapi seiring usiaku yang beranjak dewasa, aku lebih suka bermain di luar bersama dengan teman-temanku, karena jika di rumah aku selalu kesepian.
        Ayah dan ibu tak pernah memerdulikan dengan siapa aku bergaul, yang penting aku mendapat nilai bagus di sekolah dan tidak mengganggu kerjaan mereka. Tak heran jika akhirnya aku terperosok dalam pergaulan bebas.
        Diusiaku yang masih belia aku sudah mengenal rokok dan minuman setan. Memasuki bangku kuliah pergaulanku semakin kelam. Aku merambah barang haram yang bernama ganja dan sabu-sabu. Namun, hidup dalam pergaulan bebas seperti ini, aku tetap masih bisa mempertahankan hartaku yang paling berharga.
Jogja Kota Pelajar, tapi sebagian besar pelajarnya sudah tidak perawan. Ini sudah menjadi rahasia umum. Sungguh luar biasa jika dalam lingkup pergaulan bebas ini aku masih bisa mempertahankan keperawanan.
        Ujian semester pertama, ayah dan ibuku sangat bangga kepadaku karena aku mendapat nilai terbaik di kelas. Ternyata otakku mewarisi kepintaran kedua orangtuaku. Kami sekeluarga pergi ke restoran Bong KOPITOWN, restoran bernuansa suram bergaya Penjara Hong Kong tahun 60-an yang tak jauh dari rumah tinggal kami.
        Aku sangat bahagia malam itu, karena sudah lama kami bertiga tidak makan bersama. Namun, ternyata kebahagian itu hanya sekejap mata. Setelah malam itu berlalu, beruntun musibah demi musibah menghantam keluargaku. Ayah mengalami kebangkrutan karena harga saham turun drastis. Perekonomian Indonesia morat-marit akibat krisis ekonomi global. Ayah stress berat. Dia sering melamun ditemani botol-botol minuman.
        Bersamaan dengan itu ibu mendapat tugas di luar kota selama satu bulan. Dia tak bisa menolak tugas tersebut karena tugas itu sangat penting bagi perkembangan kariernya. Dan ibu malah menyuruhku menjaga ayah.
        “Bu, haruskah ibu pergi disaat ayah seperti ini?” protesku saat ibu mengemasi barang-barangnya.
        “Lisa, ini demi karier ibu sayang. Ini semua juga demi keluarga kita.” ucapnya membujukku sambil memasukan barang ke dalam koper. Aku berlalu dengan kesal karena percuma aku bicara panjang lebar jika ibu pun akhirnya akan pergi.
        Aku merasa kasihan pada ayah. Apakah dia juga merasakan kesepian seperti yang kurasakan. Seminggu setelah kepergian ibu, keadaan ayah semakin parah. Kadang ayah terlihat emosi membanting-banting barang di kamarnya. Bi Minah juga kemaren malam ijin pulang ke desanya karena ibunya sakit.
        Malam yang sunyi. Rumah tiga lantai ini sepi seperti tak berpenghuni. Ayah sejak siang tadi belum keluar kamar. Aku beranjak dengan malas naik ke lantai 2, mengetuk kamar ayah.
        “Ayah! Sedang apa, Yah?” tanyaku dibalik pintu kamar. Hening, tak ada jawaban. Tanganku meraih gagang pintu, menariknya pelan-pelan lalu mendorongnya. Aku celingukan melihat ke dalam. Ayah duduk selonjor di lantai menghadap jendela. Banyak barang-barang berantakan di sana sini. Selimut bantal berserakan di atas lantai.
        Kakiku melangkah masuk, menghampiri sosok ayah.
        “Yah, apa yang terjadi? Kenapa Ayah seperti ini?” tanyaku pelan takut membuatnya marah. Ayah hanya tersenyum getir. “Aku sudah melihat beritanya di TV Yah. Bukan hanya ayah saja yang jatuh, tapi semua pialang saham di seluruh Indonesia. Ini bukan akhir dari segalanya. Bukankah tahun besok masih ada kemungkian naik? Biasanya Ayah akan bilang seperti itu jika saham jatuh seperti sekarang.” lanjutku menghibur ayah.
        “Kau tak tahu apa-apa soal ini Lisa.” jawabnya singkat tanpa memandangku. Tangannya mencokolkan botol minuman ke mulut. Aku jengah. Malas untuk berkata lagi. Ayah dan ibu sama saja, mereka dari dulu tak pernah mau mendengarkan kata-kataku.
        Kuraih botol minuman di samping ayah, kuminum sampai hampir setengah. Dan tengukan yang kedua aku berhasil menghabiskannya. Ayah memandangku heran. Baru pertama kalinya dia melihatku meminum minuman setan ini.
        “Ternyata kau kuat juga seperti Ayah.” tak kuhiraukan ucapkan ayah, aku mengambil botol ke-2 ke-3 dan ke-4. Tak lama kemudian mataku mulai berkunang-kunang. Samar-samar kulihat ayah juga masih terus minum. Tubuhku seringan kapas, aku seperti melayang, dan semuanya mengambang. Sampai tiba-tiba seperti ada seseorang yang meraih tubuhku. Meraba dan menjamah penuh nafsu.
        Dia mulai melumat mulutku, seraya menanggalkan pakaianku. Namun kini, tubuhku sudah tak berdaya untuk meronta. Tanganku seperti tak bertulang. Lalu aku tak merasakan apa-apa lagi. Gelap.
        Saat aku membuka mata, kepalaku sangat sakit. Pening. Kupandangi sekeliling seraya mengedip-ngedipkan mata. Ruangan yang tak biasa, ini bukan kamarku. Saat kesadaranku sepenuhnya kembali, aku menjerit. Kaget.
        “Tiiiidaaaaaakkkkk…!!!” aku berinsut tanpa busana di bawah selimut kamar ibu. Menangis tersedu-sedan. Hatiku hancur lembur. Harta terbesarku yang selama ini kujaga mati-matian telah dirampas oleh ayah kandungku sendiri. “Bajingan! Manusia terkutuk!!!” rutukku penuh dendam.
        Aku menghilang. Berusaha melarikan diri dari segala permasalahan ini.

Dirumah:
Ibu sangat kaget ketika pulang kerumah semuanya berantakan dan mendapati ayah yang sudah benar-benar gila. Bi Minah masih di kampung halamannya. Ibu berusaha meneleponku, tapi sia-sia. Nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif!
Aku telah membuang nomer itu dan mengganti dengan yang baru. Ibu panik, bingung. Dia segera menelepon rumah sakit jiwa.
Di dalam kamar ayah teriak-teriak seperti orang ketakutan. Setiap kali ibu menengoknya ia lari bersembunyi ke kolong tempat tidur. Untung ambulan segera datang dan membawa ayah kerumah sakit jiwa.
***
        Ibu tertegun seorang diri. Menatap pias ruangan demi ruangan yang nampak semakin lengang. Sepi. Semuanya membisu, hanya hembusan nafasnya sendiri yang terdengar naik-turun.
        Setelah lama tercenung, ibu mulai berfikir untuk mencariku. Menelepon semua teman-temanku. Tapi nihil, tak seorang pun sahabatku yang tahu keberadaanku. Akhirnya ibu menelepon polisi untuk membantu menyariku.
        Ibu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang berantakan. Kenangan-kenangan di rumah itu berputar-putar seperti slide foto yang sedang diputar. Dia merenungi kejadian-kejadian sebulan yang lalu sebelum ia pergi meninggalkan rumah.
        Terselip penyesalan di lubuk hatinya. Ibu merasa sangat egois karena tidak memerdulikan keluarganya. Dia memilih pergi disaat kondisi suaminya yang kurang baik. Dan sekarang dia harus menerima keadaan yang lebih buruk lagi yaitu keadaan suaminya yang sudah tak sadarkan diri dan kehilangan anak satu-satunya.
***
        Di siang yang mendung, kabut menutup permukaan bukit. Dingin. Biasanya jam segini masih banyak pengunjung telaga yang berdatangan dari berbagai penjuru. Namun, siang ini hanya ada beberapa saja. Mereka pun bersiap beranjak karena hujan mulai merinai. Permukaan telaga yang semula tenang mulai timbul tetesan-tetesan air, menghapus bayangan yang sedang terdiam di sana.
        Saat tubuhku hendak beranjak dari bangku kayu di tepi telaga, dari belakang seseorang meraih pundakku.
        “Lisaaa….” aAini. “Ternyata kamu di sini Lisa. Ibu mencarimu ke mana-mana.” lanjutnya seraya meraih tanganku, tapi segera kuhentakkan dan aku berlari. Pergi. Ibu mengejarku berlari menerjang hujan yang kian deras. Aku terus berlari tanpa menghiraukannya.
        “Aaagggghhh….” Ibu terpeleset dan hampir terpelosok kedalam telaga. Aku menoleh, menatapnya nanar. Lalu segera berlari untuk menolongnya. Ingin aku pergi      tanpa memerdulikannya tapi hati ini, tak mampu menepis rasa iba yang menohok ulu hati.
        “Pegang erat tanganku Bu.” Aku meraih tangan Ibu dan berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya. Untung, tangan ibu masih sempat meraih semak-semak di tepi telaga, jika tidak, mungkin ibu sempurna tenggelam di dalam sana.
        “Maaf kan Ibu, Nak.” pinta ibu seraya memeluk erat tubuh basahku. Semula aku menolak pelukan itu, tapi akhirnya aku menangis dan tenggelam dalam pelukannya.
        “Maafkan Ibu, Lisa. Pulanglah bersama Ibu. Ibu mohon Lisa….”
        “Aku nggak ingin pulang. Aku benci Ibu dan Ayah!” rajukku penuh emosi.
        “Lisa, maafkan Ibu, Nak. Ibu yang salah, Ibu telah menelantarkanmu dan ayah. Ibu sibuk sendiri dengan pekerjaan Ibu, sehingga tak pernah memerdulikan kalian. Maafkan Ibu, pulanglah Lisa. Tengok ayahmu yang sudah tak lama lagi.”
        “Ayah? Kenapa dengan ayah. Aku benci Ayah! Aku nggak mau bertemu dengan Ayah!!!” aku teriak histeris mendengar nama ayah. Ingatanku kembali pada peristiwa tiga bulan yang lalu, ketika aku tersadar dari tidur dan mendapati tubuhku tanpa busana di atas ranjang kamar ayah.
        Ibu memelukku semakin erat dan aku tersedu-sedan dalam pelukannya.
***
        Aku tetap diam membisu dengan berkecamuk rasa yang menohok di ulu hati. Cerita ibu tentang ayah yang sedang menunggu ajal, memaksaku untuk ikut pulang bersamanya.
        Tiga bulan aku menghilang dari rumah, ternyata begitu banyak peristiwa yang terjadi. Terutama dengan ayah. Dia sudah benar-benar gila dan mencoba bunuh diri dengan terjun dari lantai 3 kamar rumah sakit jiwa tempat ayah dirawat. Namun Tuhan belum mau menerimanya, hingga sekarang ia masih sekarat di rumah sakit.
        Kata ibu, ayah sudah coma selama sebulan, tapi sesekali dia bangun dan menyebut-nyebut namaku minta ampun. Dia ketakutan menyebut namaku.
        Air mataku tak lagi menitik, walau melihat ayah yang sedang sekarat menanti ajal. Dinding kebencian yang ia ciptakan kini terbentang kokoh dalam diriku. “Kau lelaki kejam sepanjang zaman.” rutukku seraya menatapnya nanar.
        “Lisa, ampun Lisa. Maafkan Ayah, Lisa.” lelaki itu tiba-tiba membuka mata dan bicara. Aku dan ibu kaget, seketika kami saling pandang. Ada air bening yang perlahan merembes dari ujung mata lelaki itu. Tangannya bergerak, lalu meronta. Tubuh ayah menggigil. Ibu memanggil-manggil ayah, seraya menggenggam tangannya.
        Entah mengapa seketika dendam dihatiku luruh, menjelma iba. Melihatnya yang tersengal-sengal kesakitan, hatiku sakit tercabik-cabik. Kudekap tubuh ayah, kucium kening dan kugenggam erat tangan dinginnya. Mataku menyemburkan air yang telah lama terbendung. Air ini kian deras membasahi pipiku saat ayah benar-benar pergi meninggalkanku.
        Ayah pergi setelah dia mengucapkan kata terakhirnya yaitu sebuah kata ma’af yang mungkin sudah lama ia pendam. Kini tak ada lagi dendam di hatiku, dendam itu luruh tersapu rasa iba dan cinta seorang anak kepada ayahnya.
Bukankah kejadian itu bukan seluruhnya salah ayah. Aku dan ibu juga salah. Ibu telah lama tak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Ibu selalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak ada waktu melayani ayah. Hasrat libido ayah yang telah lama tak terpenuhi seketika bergairah melihat wanita tergolek lemah di depannya. Dia tak sadar jika wanita itu adalah anak kandungnya. Minuman setan itu benar-benar telah melumpuhkan kesadarannya.
Sekarang aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Menjadikan kesalahan masa lalu sebagai pelajaran. Begitu pula dengan ibu, ia semakin memerhatikanku, menyayangi, dan mencintaiku. Untuk ayah, setiap jum’at kupetik kamboja dan meletakkan bunga itu di atas pusaranya. Seraya kukirimkan do’a dan Al-Fatihah agar ia lapang di alam kubur.
Friday, 15/11/13, 23:30 p.m.
Yuen Long, N. T. Hong Kong

Dimuat Tabloid Apakabar Plus #22 THN IX *24 Jan- 6 Feb 2015

Jimat Sakti Milik Cece


Tempo hari saya pernah cerita tentang rumah majikan saya yang sangat besar, luas dan unik. Juga tentang my big bos yang kaya raya, baik hati dan tidak sombong. Adakah yang masih ingat? hmmm.

Yuk baca cerita gokil terbaru yang saya alami bersama kakak saya tercinta, Mbak Asri yang bernasib sebelas duabelas (hampir sama) lah dengan nasib saya. Tiga tahun sudah saya dan Mbak Asri berdikari dengan sekuat tenaga bertahan berkerja di rumah ini. Lho…kok sampai segitunya? Katanya big bos baik? Kalau masih bertanya berarti belum baca ceritaku yang dulu tuh, hayoo ngaku?

Sedikit saya ulas tentang kondisi rumah dan pekerjaan saya ya, simak baik-baik. Rumah di pelosok, paling ujung barat dari negara Hong Kong. Tepatnya daerah Lau Fau Shan, Yuen Long. Karena berdekatan dengan Cina, suhu udara pun tak jauh berbeda. Jika musim panas, suhu mencapai 35 derajat ke atas dan jika musim dingin, pokoknya paling dingin dari seluruh daerah yang ada di Hong Kong. Nah, parahnya lagi kalau musim lembab, lembabnya luarrrrrrr biasa. Di rumah sampai ada 10 mesin penyedot kelembaban lho! Bisa bayangin nggak kalau tiap ruangan ada mesin penyedot dan semuanya nyala?

Hari itu, big bos memberi tugas spesial untuk bersih-bersih rumah dan halaman, beserta kebun buah yang luasnya tak terukur (belum pernah ngukur sih hehe). Sore hari kira-kira pukul 5 sore big bos telefon, “Alu, yat jeng kan yau hak lei. Jun po cap konceng mea?” tanya Mr. Chan dalam perjalanan pulang. “Semua sudah beres, Bos!” jawabku sambil duduk kecapekan. Sekitar 20 menitan big bos sampai di rumah bersama tamunya. Seperti biasa, kalau ada tamu pasti Mr. Chan memamerkan rumahnya yang besar, luas dan unik ini. Tamunya di ajak jalan-jalan mengelilingi rumah.


Nah, ketika Mr. Chan dan tamunya masuk ke kamar Cece (anak kesanyangannya) ada penampakan di sofa yang terletak di sampai pintu kamar. Underwear alias CD dan BH teronggok tanpa dosa di sana. Huaaaa…secepat kilat Mr. Chan menerkam dan menyembunyikan ‘jimat sakti’ milik Cece ke laci meja di sebelah sofa. Namun naas, Mr. Chan tetaplah manusia biasa seperti kita semua, yang tidak bisa bergerak melebihi dengan kecepatan cahaya. Para tamu pun terlanjur melihat ‘jimat saksi’ dan wajah Mr. Chan merah menahan malu. Hahahaha! Saya dan Mbak Asri ngikik di dapur melihat aksi big bos. Kasihan…maafkan kami bos, saya pun tak tahu kalau ada ‘jimat sakti’ di situ.

Dimuat di Tabloid Apakabar Plus #03 THN X  *4-17 April 2015

Sang Maha Cinta



“Zara, ini tak adil bagiku!” teriak Jhony. “Kita sudah berjuang sampai detik ini, agar orang tuamu merestui kita, tapi kenapa sekarang kamu bicara seperti ini? Tolong jelasin apa yang sebenarnya terjadi.” lanjut Jhony dengan nada suara menggelegar. Spontan jama'ah pengajian di masjid menoleh ke arah Jhony, Jhony pun segera beranjak keluar.
“Zaraa! Zaraa! Zara...kamu masih di dalam?” sudah tidak ada lagi suara di ujung sambungan telepon. Jhony mulai panik, pikirannya kacau. Hanya satu yang dia pikirkan yaitu menemui Zara.
Dalam hitungan menit Jhony sudah sampai di rumah Zara.
Assalammu’alaikum....” ucap Jhony.
Wa'alaikumsalam....” jawab Iqbal, adik laki-laki Zara—wanita yang membuat Jhony jatuh cinta karena kelembutan dan kecantikannya. Zara adalah wanita yang sholeh dan baik hati, dia teman baikku sejak SMA. Zara kenal Jhony di tempat kerja, dan akhirnya mereka saling Jatuh cinta. Zara telah berhasil merubah seorang Jhony yang nakal, bandel, dan brutal menjadi Jhony yang baik, nurut, dan ramah.
“Iqbal, Mbak Zara di rumah?” tanya Jhony.
“Maaf Mas Jhon, tadi Mbak Zara keluar sama ibu.”
“Iqbal tahu mereka pergi kemana?” Iqbal hanya menggelengkan kepala, dia tidak tahu Zara kemana. Jhony semakin panik, dia semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Jhony bingung harus berbuat apa, sudah dicoba menelepon Zara berkali-kali tapi HP-nya tidak aktif.
Jhony mengendarai sepeda motor tak tentu arah, menelusuri Jalan Ampera di gelapnya malam. Jhony berhenti di Tepi Pantai, duduk termenung seorang diri, ditemani deburan ombak dan hepasan angin malam yang dingin.
Kata-kata Zara terngiang-ngiang di telinganya. “Jhon, maafin aku ya...kamu sudah sangat baik kepadaku, tapi aku malah mengecewakanmu. Aku nyerah Jhon! Aku nggak bisa mempertahan cinta kita, orang tuaku menjodohkanku dengan seorang lelaki. Aku tak bisa menolak. Aku sudah berusaha agar orangtuaku merestui hubungan kita, tapi hasilnya nihil. Maafin aku Jhon, aku sangat bersalah kepadamu. Aku hanya tidak ingin menjadi anak yang durhaka terhadap orangtua. Aku menerima perjodohan ini sebagai baktiku kepada mereka. Sekali lagi, maafin aku Jhon, semoga kamu tidak membenciku.”
***
Tok…tok...tok....
“Ani, kau di rumah?” teriak Jhony dari luar.
“Hei, Jhon! Ada apakah gerangan, tumben malam-malam kesini?” tanyaku tanpa basa-basi.
       “Kurang baik.” cetusnya.
        “Hmmm,pasti kalian lagi berantem?”
        “Zara mutusin aku.”
        “Apa?!” teriakku kaget. Lalu Jhony menceritakan semua kejadiannya padaku.
“Sabar Jhon, kamu jangan keburu emosi, aku akan membantumu. Besok sore aku coba ke rumah Zara.” hiburku seraya menepuk punggungnya.
“Terima kasih Ani, kamu harus membantuku.”
***
Ping! SMS masuk dari Zara. “Ani, hari Minggu ada waktu nggak? Aku ingin ketemu. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepadamu.”
“Ok, kita ketemu dimana? Akhirnya kamu menghubungiku Zara, Jhony sangat mencemaskanmu.” balasku.
“Di tempat biasa ya, aku tunggu jam lima sore.”
Waktu seakan berjalan begitu cepat, sore itu aku dan Zara bertemu di Pantai Marina, tempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama. Zara menceritakan semua masalahnya, tentang perjodohannya dengan Amar—lelaki pilihan ayahnya dan hubungannya dengan Jhony. Zara terisak di pangkuanku, dia merasa sangat bersalah pada Jhony karena dia tak berani menemuinya. Dia berharap aku bisa menolongnya, menceritakan masalahnya kepada Jhony.
“Aku akan sampaikan ini pada Jhony, semoga dia paham keadaanmu. Sekarang tenangkan hatimu Zara. Kamu sudah memutuskan sebuah pilihan, kamu harus ikhlas dan menjalaninya dengan tabah.”
        “Aku harap Jhony bisa memaafkan.” desah Zara seraya menghapus lelehan air mata di pipinya.
        Senja tenggelam di ujung lautan, semburat jingga tersisa menghias malam yang datang dalam kegalauan jiwa. Kami beranjak menuju Parkir Kendaraan.
“Zara, hati-hati di jalan. Eh ya...ditunggu undangannya,” candaku sambil men-start-er Motor Bebekku. Zara tersenyum dan kami berpisah menuju rumah masing-masing.
***
Di dalam kamar sambil berbaring di kasur, kutulis SMS untuk Jhony, “Malam ini ada waktu nggak? Tadi sore aku bertemu Zara.”
“Ani, cepat keluar.” balasan dari Jhony lima menit kemudian. Lalu aku segera keluar menemuinya.
“Cepat banget reaksimu? Udah nggak sabar ya.”
“Zara bilang apa?”
“Emm…sabar Jhon, rilex! Jangan serius gitu ah,” kataku sambil duduk di kursi yang berada di teras rumah, di ikuti Jhony duduk di seberangku. “Cepetan ceritakan padaku Ani.”
“Zara sudah menerima pinangan seseorang.” Aku berhenti sejenak menyelidik ke arah Jhony. Wajahnya tegang, kaget. “Bapak Zara bersikeras menjodohkan Zara dengan lelaki pilihan keluarganya. Menurut keluarganya lelaki itu baik, sholeh, juga mapan. Zara sudah berusaha menolak dan menjelaskan hubungannya denganmu, tapi Pak Arif tetap tidak bisa memahaminya. Memang Pak Arif kagum dengan perubahan sikapmu selama ini, tapi statusmu yang menjadi kendala. Itu alasannya mengapa Pak Arif memaksa Zara menerima perjodohan itu.”
        Jhony diam tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Sunyi menyergap seketika, hanya derik binatang malam dan gemerisik dedaunan yang tertiup angin seakan menguping pembicaraan kami.
        “Kenapa Zara tidak mau menemuiku?” ucap Jhony dengan mata berkaca-kaca.
        “Zara masih shock, dia sendiri masih belum bisa menerima keadaan ini.”
        “Tapi aku tetap tidak paham, kenapa dia tidak mau menemuiku? Setidaknya dia menemuiku walau sebentar dan bilang baik-baik padaku, mungkin aku bisa menerima semua ini.” Jhony menghentakkan tangan di atas meja. Braaaaakkkkkk!!!
        “Sabar Jhon, kamu jangan menyalahkan Zara, dia juga sangat menderita. Setidaknya dia sudah menghubungimu lewat telepon.”
Jhony tertegun, pandangan matanya kosong. Pikirannya melayang, menerawang.
        “Aku tahu perasaanmu Jhon. Aku juga bingung, tak tahu harus berbuat apa untuk menolongmu dan Zara.” bisikku dalam hati.
        Malam semakin pekat, tak satu pun bintang menampakkan cahayanya. Mendung bergemuruh, rintik-rintik hujan menetes tanah gersang. Jhony pamit pulang, menerjang hujan yang kian deras.
***
Pagi ini aku sibuk di rumah Zara, membantu mempersiapkan acara pernikahannya.
“Ani, kenapa hatiku sangat resah.” keluh Zara kepadaku.
        “Tenanglah Zara, semua akan baik-baik saja.”
        “Apa nanti, Jhony akan datang?”
        “Mungkin, tapi aku tidak bisa menjamin. Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah melihatnya. Hp-nya juga tidak bisa dihubungi. Kemaren malam aku lewat depan kosnya juga sepi.”
Mendung menggantung, langit hitam pekat. Pertanda hujan segera turun. Rumah Zara terlihat begitu meriah, tamu undangan mulai berdatangan. Walau langit hitam kelam, di rumah Zara tetap terang-benderang, dentum rebana menambah kemeriahan acara.
Aku duduk di depan meja penerima tamu dengan perasaan cemas, karena sampai pukul 03:00 sore Jhony belum juga menampakan batang hidungnya.
“Srrrrk…srrrrk…srrrrk!” Suara kaki berjalan kearahku, kulihat siapa yang datang. Seorang lelaki muda, hitam tapi manis, ada sedikit jambang didagunya. Memakai kemeja biru dan celana jeans hitam. Sosok lelaki yang kutunggu-tunggu dari tadi.
“Akhirnya kamu datang juga, Jhon.” sapaku
“Pastilah aku datang.” katanya datar.
        Dia menjabat tanganku seraya berjalan masuk. Kupandangi dia dari belakang. Setiap langkah demi langkahnya diiringi degup jantung yang berdendang. Hatinya bergejolak, seperti mendung yang semakin bergemuruh.
        Jhony berjalan menuju pelaminan, dimana Zara dan Sang Pangeran—pilihan keluarganya, duduk bersanding mesra. Ada rasa cemburu yang menggebu, menusuk ke ulu hati. Jhony menjabat tangan Amar, kemudian menjabat tangan Zara. Mata mereka bertemu beradu pandang. Andai aku punya mata tembus pandang, mungkin aku akan melihat detak jantung mereka yang sama-sama berdebar. Ingin rasanya Jhony mendekap Zara, tapi…itu tidaklah mungkin, dia sudah jadi milik orang. Tidak terasa air bening menitik membasah wajah cantik Zara. Jhony tak kuasa untuk tetap memandangnya, segera dia bergegas menuju meja hidangan.
        Diambilnya segelas es buah yang sudah tersedia di meja, diminumnya hampir tak tersisa. Jhony mengatur napas agar sedikit lega.
        “Trrrrt…trrrrt…!” Ponsel Jhony bergetar. Segera dia meraih ponsel butut dari sakunya.
“Hello, assalamm’ualaikum.” Suara seorang perempuan di sebrang telepon.
        “Wa’alaikumsalam.
        “Benar, ini dengan Mas Jhony?”
        “Ya, benar. Ini siapa ya?”
        Perempuan itu diam, tak menjawab. Tiba-tiba terdengar suara isak tangis tersedu-sedan, perempuan di sebrang telepon menangis. Jhony bingung.
        “Hello, masih ada orang di dalam?”
        Tidak lama kemudian, perempuan itu mulai bicara dengan suara serak karena menangis.
        “Maaf Mas Jhony, saya ingin menyampaikan berita duka dari ibunya Mas Jhony.”
        “Apa?”
        “Ada apa dengan Ibu?” suara Jhony panik.
        “Hiks…hiks…hiks!” Perempuan itu kembali menangis, kini tangisnya semakin kencang. “Ibunya Mas Jhony kecelakaan dan meninggal seketika.”
        “Innalillahi wa innaillahirrojiun….” suara Jhony bergetar.
        Pyaaarrrr…!!! Piring yang dipegangnya jatuh ke lantai, semua mata berpaling ke arah sumber suara. Semua orang kaget melihat Jhony menangis tersedu. Dia hampir terjatuh, spontan seorang pria yang berada di belakangnya memapah Jhony duduk di kursi. Aku berlari kearahnya.
“Jhon, apa yang terjadi?” tanyaku panik.
Jhony tak langsung menjawab, dia masih shock.
“Ibu…Ibuku meninggal Ni.”
Innalillahi wa innaillahirrojiun….” ucapku hampir bersamaan dengan teman-teman yang lain.
Langit yang dari tadi mendung mulai menitikkan air hujan, setitik demi setitik hujan semakin deras, seakan langit ikut menangis atas berita duka ini.
***
Senja sedang merona saat mataku tak sengaja melihat sosok lelaki hitam manis, berjambang itu berjalan ke arahku. Kakinya yang telanjang, menyisakan tapak-tapak pada pasir yang dilewatinya.
        “Jhony, kaukah itu?” tanyaku penasaran.
        “Sudah lupakah kau denganku Ani?” sahutnya sembari menggodaku.
        “Hey…gimana kabarmu kawan? Kok tahu aku di sini?”
        “Tadi aku ke rumahmu, ibumu bilang kau disini.”
        “Kemana saja kau kawan? Baik-baikkah kamu? Kenapa teleponmu tidak aktif? Kau tahu, tempo hari Zara menanyakanmu.” Mendengar nama Zara hati Jhony berdesir. “Ma…ma’af Jhon, kalau aku salah bicara.” lanjutku setelah melihat perubahan wajah Jhony.
        “Nggak apa-apa Ni, aku baik-baik saja. Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkanku.”
        “Aku tahu kesedihan yang kamu rasakan Jhony. Disaat yang bersamaan kau kehilangan dua wanita yang sangat kau sayangi, tapi itu bukan alasan untuk diam dalam keterpurukan.” aku menarik nafas panjang, “aku sangat mengkhawatirmu, kau menghilang hampir 1 bulan.” Jhony hanya diam mendengarkan ceracauku.
        “Sudah selesai belum ceramahnya?” cetusnya jahil
        “Hmmm…kayaknya kau sudah kembali seperti semula.” kelakarku.
        “Makasih, Ni. Kamu masih bersedia menasehatiku dan mendengar keluh kesahku. Pantas saja Zara sangat menyukaimu, kamu memang sahabat yang setia.” Jhony memandang lurus, pada senja yang hampir tenggelam. “Aku memang sangat kehilangan mereka. Aku kehilangan cinta, dan cahaya yang selama ini menerangi hidupku. Tetapi aku masih punya bapak dan adikku Rahma, aku masih mempunyai cinta mereka. Bukankah aku juga masih punya Tuhan, Sang Maha Cinta yang selalu memberikan cintanya kepada setiap hambanya.”
        “Dan mintalah cinta kepada-Nya, maka Ia akan memberikannya kepada kita.” timpalku sembari menepuk punggungnya. Senja yang dari tadi menguping di balik bukit tenggelam terusir malam penuh bintang. Cahayanya terang, indah, mendamaikan. Aku yakin bintang pun terseyum untuk kembalinya Jhony. J
Friday, August 28, 2015. 9:06 p.m.

Yuen Long

Dimuat di Tabloid Apakabar Plus  #14 THN X *19 September- 2 Oktober 2015