Senin, 28 September 2015

Sang Maha Cinta



“Zara, ini tak adil bagiku!” teriak Jhony. “Kita sudah berjuang sampai detik ini, agar orang tuamu merestui kita, tapi kenapa sekarang kamu bicara seperti ini? Tolong jelasin apa yang sebenarnya terjadi.” lanjut Jhony dengan nada suara menggelegar. Spontan jama'ah pengajian di masjid menoleh ke arah Jhony, Jhony pun segera beranjak keluar.
“Zaraa! Zaraa! Zara...kamu masih di dalam?” sudah tidak ada lagi suara di ujung sambungan telepon. Jhony mulai panik, pikirannya kacau. Hanya satu yang dia pikirkan yaitu menemui Zara.
Dalam hitungan menit Jhony sudah sampai di rumah Zara.
Assalammu’alaikum....” ucap Jhony.
Wa'alaikumsalam....” jawab Iqbal, adik laki-laki Zara—wanita yang membuat Jhony jatuh cinta karena kelembutan dan kecantikannya. Zara adalah wanita yang sholeh dan baik hati, dia teman baikku sejak SMA. Zara kenal Jhony di tempat kerja, dan akhirnya mereka saling Jatuh cinta. Zara telah berhasil merubah seorang Jhony yang nakal, bandel, dan brutal menjadi Jhony yang baik, nurut, dan ramah.
“Iqbal, Mbak Zara di rumah?” tanya Jhony.
“Maaf Mas Jhon, tadi Mbak Zara keluar sama ibu.”
“Iqbal tahu mereka pergi kemana?” Iqbal hanya menggelengkan kepala, dia tidak tahu Zara kemana. Jhony semakin panik, dia semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Jhony bingung harus berbuat apa, sudah dicoba menelepon Zara berkali-kali tapi HP-nya tidak aktif.
Jhony mengendarai sepeda motor tak tentu arah, menelusuri Jalan Ampera di gelapnya malam. Jhony berhenti di Tepi Pantai, duduk termenung seorang diri, ditemani deburan ombak dan hepasan angin malam yang dingin.
Kata-kata Zara terngiang-ngiang di telinganya. “Jhon, maafin aku ya...kamu sudah sangat baik kepadaku, tapi aku malah mengecewakanmu. Aku nyerah Jhon! Aku nggak bisa mempertahan cinta kita, orang tuaku menjodohkanku dengan seorang lelaki. Aku tak bisa menolak. Aku sudah berusaha agar orangtuaku merestui hubungan kita, tapi hasilnya nihil. Maafin aku Jhon, aku sangat bersalah kepadamu. Aku hanya tidak ingin menjadi anak yang durhaka terhadap orangtua. Aku menerima perjodohan ini sebagai baktiku kepada mereka. Sekali lagi, maafin aku Jhon, semoga kamu tidak membenciku.”
***
Tok…tok...tok....
“Ani, kau di rumah?” teriak Jhony dari luar.
“Hei, Jhon! Ada apakah gerangan, tumben malam-malam kesini?” tanyaku tanpa basa-basi.
       “Kurang baik.” cetusnya.
        “Hmmm,pasti kalian lagi berantem?”
        “Zara mutusin aku.”
        “Apa?!” teriakku kaget. Lalu Jhony menceritakan semua kejadiannya padaku.
“Sabar Jhon, kamu jangan keburu emosi, aku akan membantumu. Besok sore aku coba ke rumah Zara.” hiburku seraya menepuk punggungnya.
“Terima kasih Ani, kamu harus membantuku.”
***
Ping! SMS masuk dari Zara. “Ani, hari Minggu ada waktu nggak? Aku ingin ketemu. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan kepadamu.”
“Ok, kita ketemu dimana? Akhirnya kamu menghubungiku Zara, Jhony sangat mencemaskanmu.” balasku.
“Di tempat biasa ya, aku tunggu jam lima sore.”
Waktu seakan berjalan begitu cepat, sore itu aku dan Zara bertemu di Pantai Marina, tempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama. Zara menceritakan semua masalahnya, tentang perjodohannya dengan Amar—lelaki pilihan ayahnya dan hubungannya dengan Jhony. Zara terisak di pangkuanku, dia merasa sangat bersalah pada Jhony karena dia tak berani menemuinya. Dia berharap aku bisa menolongnya, menceritakan masalahnya kepada Jhony.
“Aku akan sampaikan ini pada Jhony, semoga dia paham keadaanmu. Sekarang tenangkan hatimu Zara. Kamu sudah memutuskan sebuah pilihan, kamu harus ikhlas dan menjalaninya dengan tabah.”
        “Aku harap Jhony bisa memaafkan.” desah Zara seraya menghapus lelehan air mata di pipinya.
        Senja tenggelam di ujung lautan, semburat jingga tersisa menghias malam yang datang dalam kegalauan jiwa. Kami beranjak menuju Parkir Kendaraan.
“Zara, hati-hati di jalan. Eh ya...ditunggu undangannya,” candaku sambil men-start-er Motor Bebekku. Zara tersenyum dan kami berpisah menuju rumah masing-masing.
***
Di dalam kamar sambil berbaring di kasur, kutulis SMS untuk Jhony, “Malam ini ada waktu nggak? Tadi sore aku bertemu Zara.”
“Ani, cepat keluar.” balasan dari Jhony lima menit kemudian. Lalu aku segera keluar menemuinya.
“Cepat banget reaksimu? Udah nggak sabar ya.”
“Zara bilang apa?”
“Emm…sabar Jhon, rilex! Jangan serius gitu ah,” kataku sambil duduk di kursi yang berada di teras rumah, di ikuti Jhony duduk di seberangku. “Cepetan ceritakan padaku Ani.”
“Zara sudah menerima pinangan seseorang.” Aku berhenti sejenak menyelidik ke arah Jhony. Wajahnya tegang, kaget. “Bapak Zara bersikeras menjodohkan Zara dengan lelaki pilihan keluarganya. Menurut keluarganya lelaki itu baik, sholeh, juga mapan. Zara sudah berusaha menolak dan menjelaskan hubungannya denganmu, tapi Pak Arif tetap tidak bisa memahaminya. Memang Pak Arif kagum dengan perubahan sikapmu selama ini, tapi statusmu yang menjadi kendala. Itu alasannya mengapa Pak Arif memaksa Zara menerima perjodohan itu.”
        Jhony diam tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Sunyi menyergap seketika, hanya derik binatang malam dan gemerisik dedaunan yang tertiup angin seakan menguping pembicaraan kami.
        “Kenapa Zara tidak mau menemuiku?” ucap Jhony dengan mata berkaca-kaca.
        “Zara masih shock, dia sendiri masih belum bisa menerima keadaan ini.”
        “Tapi aku tetap tidak paham, kenapa dia tidak mau menemuiku? Setidaknya dia menemuiku walau sebentar dan bilang baik-baik padaku, mungkin aku bisa menerima semua ini.” Jhony menghentakkan tangan di atas meja. Braaaaakkkkkk!!!
        “Sabar Jhon, kamu jangan menyalahkan Zara, dia juga sangat menderita. Setidaknya dia sudah menghubungimu lewat telepon.”
Jhony tertegun, pandangan matanya kosong. Pikirannya melayang, menerawang.
        “Aku tahu perasaanmu Jhon. Aku juga bingung, tak tahu harus berbuat apa untuk menolongmu dan Zara.” bisikku dalam hati.
        Malam semakin pekat, tak satu pun bintang menampakkan cahayanya. Mendung bergemuruh, rintik-rintik hujan menetes tanah gersang. Jhony pamit pulang, menerjang hujan yang kian deras.
***
Pagi ini aku sibuk di rumah Zara, membantu mempersiapkan acara pernikahannya.
“Ani, kenapa hatiku sangat resah.” keluh Zara kepadaku.
        “Tenanglah Zara, semua akan baik-baik saja.”
        “Apa nanti, Jhony akan datang?”
        “Mungkin, tapi aku tidak bisa menjamin. Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah melihatnya. Hp-nya juga tidak bisa dihubungi. Kemaren malam aku lewat depan kosnya juga sepi.”
Mendung menggantung, langit hitam pekat. Pertanda hujan segera turun. Rumah Zara terlihat begitu meriah, tamu undangan mulai berdatangan. Walau langit hitam kelam, di rumah Zara tetap terang-benderang, dentum rebana menambah kemeriahan acara.
Aku duduk di depan meja penerima tamu dengan perasaan cemas, karena sampai pukul 03:00 sore Jhony belum juga menampakan batang hidungnya.
“Srrrrk…srrrrk…srrrrk!” Suara kaki berjalan kearahku, kulihat siapa yang datang. Seorang lelaki muda, hitam tapi manis, ada sedikit jambang didagunya. Memakai kemeja biru dan celana jeans hitam. Sosok lelaki yang kutunggu-tunggu dari tadi.
“Akhirnya kamu datang juga, Jhon.” sapaku
“Pastilah aku datang.” katanya datar.
        Dia menjabat tanganku seraya berjalan masuk. Kupandangi dia dari belakang. Setiap langkah demi langkahnya diiringi degup jantung yang berdendang. Hatinya bergejolak, seperti mendung yang semakin bergemuruh.
        Jhony berjalan menuju pelaminan, dimana Zara dan Sang Pangeran—pilihan keluarganya, duduk bersanding mesra. Ada rasa cemburu yang menggebu, menusuk ke ulu hati. Jhony menjabat tangan Amar, kemudian menjabat tangan Zara. Mata mereka bertemu beradu pandang. Andai aku punya mata tembus pandang, mungkin aku akan melihat detak jantung mereka yang sama-sama berdebar. Ingin rasanya Jhony mendekap Zara, tapi…itu tidaklah mungkin, dia sudah jadi milik orang. Tidak terasa air bening menitik membasah wajah cantik Zara. Jhony tak kuasa untuk tetap memandangnya, segera dia bergegas menuju meja hidangan.
        Diambilnya segelas es buah yang sudah tersedia di meja, diminumnya hampir tak tersisa. Jhony mengatur napas agar sedikit lega.
        “Trrrrt…trrrrt…!” Ponsel Jhony bergetar. Segera dia meraih ponsel butut dari sakunya.
“Hello, assalamm’ualaikum.” Suara seorang perempuan di sebrang telepon.
        “Wa’alaikumsalam.
        “Benar, ini dengan Mas Jhony?”
        “Ya, benar. Ini siapa ya?”
        Perempuan itu diam, tak menjawab. Tiba-tiba terdengar suara isak tangis tersedu-sedan, perempuan di sebrang telepon menangis. Jhony bingung.
        “Hello, masih ada orang di dalam?”
        Tidak lama kemudian, perempuan itu mulai bicara dengan suara serak karena menangis.
        “Maaf Mas Jhony, saya ingin menyampaikan berita duka dari ibunya Mas Jhony.”
        “Apa?”
        “Ada apa dengan Ibu?” suara Jhony panik.
        “Hiks…hiks…hiks!” Perempuan itu kembali menangis, kini tangisnya semakin kencang. “Ibunya Mas Jhony kecelakaan dan meninggal seketika.”
        “Innalillahi wa innaillahirrojiun….” suara Jhony bergetar.
        Pyaaarrrr…!!! Piring yang dipegangnya jatuh ke lantai, semua mata berpaling ke arah sumber suara. Semua orang kaget melihat Jhony menangis tersedu. Dia hampir terjatuh, spontan seorang pria yang berada di belakangnya memapah Jhony duduk di kursi. Aku berlari kearahnya.
“Jhon, apa yang terjadi?” tanyaku panik.
Jhony tak langsung menjawab, dia masih shock.
“Ibu…Ibuku meninggal Ni.”
Innalillahi wa innaillahirrojiun….” ucapku hampir bersamaan dengan teman-teman yang lain.
Langit yang dari tadi mendung mulai menitikkan air hujan, setitik demi setitik hujan semakin deras, seakan langit ikut menangis atas berita duka ini.
***
Senja sedang merona saat mataku tak sengaja melihat sosok lelaki hitam manis, berjambang itu berjalan ke arahku. Kakinya yang telanjang, menyisakan tapak-tapak pada pasir yang dilewatinya.
        “Jhony, kaukah itu?” tanyaku penasaran.
        “Sudah lupakah kau denganku Ani?” sahutnya sembari menggodaku.
        “Hey…gimana kabarmu kawan? Kok tahu aku di sini?”
        “Tadi aku ke rumahmu, ibumu bilang kau disini.”
        “Kemana saja kau kawan? Baik-baikkah kamu? Kenapa teleponmu tidak aktif? Kau tahu, tempo hari Zara menanyakanmu.” Mendengar nama Zara hati Jhony berdesir. “Ma…ma’af Jhon, kalau aku salah bicara.” lanjutku setelah melihat perubahan wajah Jhony.
        “Nggak apa-apa Ni, aku baik-baik saja. Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkanku.”
        “Aku tahu kesedihan yang kamu rasakan Jhony. Disaat yang bersamaan kau kehilangan dua wanita yang sangat kau sayangi, tapi itu bukan alasan untuk diam dalam keterpurukan.” aku menarik nafas panjang, “aku sangat mengkhawatirmu, kau menghilang hampir 1 bulan.” Jhony hanya diam mendengarkan ceracauku.
        “Sudah selesai belum ceramahnya?” cetusnya jahil
        “Hmmm…kayaknya kau sudah kembali seperti semula.” kelakarku.
        “Makasih, Ni. Kamu masih bersedia menasehatiku dan mendengar keluh kesahku. Pantas saja Zara sangat menyukaimu, kamu memang sahabat yang setia.” Jhony memandang lurus, pada senja yang hampir tenggelam. “Aku memang sangat kehilangan mereka. Aku kehilangan cinta, dan cahaya yang selama ini menerangi hidupku. Tetapi aku masih punya bapak dan adikku Rahma, aku masih mempunyai cinta mereka. Bukankah aku juga masih punya Tuhan, Sang Maha Cinta yang selalu memberikan cintanya kepada setiap hambanya.”
        “Dan mintalah cinta kepada-Nya, maka Ia akan memberikannya kepada kita.” timpalku sembari menepuk punggungnya. Senja yang dari tadi menguping di balik bukit tenggelam terusir malam penuh bintang. Cahayanya terang, indah, mendamaikan. Aku yakin bintang pun terseyum untuk kembalinya Jhony. J
Friday, August 28, 2015. 9:06 p.m.

Yuen Long

Dimuat di Tabloid Apakabar Plus  #14 THN X *19 September- 2 Oktober 2015 

0 komentar:

Posting Komentar