“Zara,
ini tak adil bagiku!” teriak Jhony. “Kita sudah berjuang sampai detik ini, agar
orang tuamu merestui kita, tapi kenapa sekarang kamu bicara seperti ini? Tolong
jelasin apa yang sebenarnya terjadi.” lanjut Jhony dengan nada suara
menggelegar. Spontan jama'ah pengajian di masjid menoleh ke arah Jhony, Jhony pun
segera beranjak keluar.
“Zaraa!
Zaraa! Zara...kamu masih di dalam?” sudah tidak ada lagi suara di ujung
sambungan telepon. Jhony mulai panik, pikirannya kacau. Hanya satu yang dia
pikirkan yaitu menemui Zara.
Dalam hitungan menit
Jhony sudah sampai di rumah Zara.
“Assalammu’alaikum....” ucap Jhony.
“Wa'alaikumsalam....” jawab Iqbal, adik
laki-laki Zara—wanita yang membuat Jhony jatuh cinta karena kelembutan dan
kecantikannya. Zara adalah wanita yang sholeh dan baik hati, dia teman baikku
sejak SMA. Zara kenal Jhony di tempat kerja, dan akhirnya mereka saling Jatuh
cinta. Zara telah berhasil merubah seorang Jhony yang nakal, bandel, dan brutal
menjadi Jhony yang baik, nurut, dan ramah.
“Iqbal,
Mbak Zara di rumah?” tanya Jhony.
“Maaf
Mas Jhon, tadi Mbak Zara keluar sama ibu.”
“Iqbal
tahu mereka pergi kemana?” Iqbal hanya menggelengkan kepala, dia tidak tahu
Zara kemana. Jhony semakin panik, dia semakin penasaran apa yang sebenarnya
terjadi. Jhony bingung harus berbuat apa, sudah dicoba menelepon Zara
berkali-kali tapi HP-nya tidak aktif.
Jhony
mengendarai sepeda motor tak tentu arah, menelusuri Jalan Ampera di gelapnya
malam. Jhony berhenti di Tepi Pantai, duduk termenung seorang diri, ditemani
deburan ombak dan hepasan angin malam yang dingin.
Kata-kata
Zara terngiang-ngiang di telinganya. “Jhon, maafin aku ya...kamu sudah sangat
baik kepadaku, tapi aku malah mengecewakanmu. Aku nyerah Jhon! Aku nggak bisa
mempertahan cinta kita, orang tuaku menjodohkanku dengan seorang lelaki. Aku
tak bisa menolak. Aku sudah berusaha agar orangtuaku merestui hubungan kita,
tapi hasilnya nihil. Maafin aku Jhon, aku sangat bersalah kepadamu. Aku hanya
tidak ingin menjadi anak yang durhaka terhadap orangtua. Aku menerima
perjodohan ini sebagai baktiku kepada mereka. Sekali lagi, maafin aku Jhon,
semoga kamu tidak membenciku.”
***
Tok…tok...tok....
“Ani,
kau di rumah?” teriak Jhony dari luar.
“Hei,
Jhon! Ada apakah gerangan, tumben malam-malam kesini?” tanyaku tanpa basa-basi.
“Kurang
baik.” cetusnya.
“Hmmm,pasti kalian lagi berantem?”
“Zara mutusin aku.”
“Apa?!” teriakku kaget. Lalu Jhony menceritakan
semua kejadiannya padaku.
“Sabar
Jhon, kamu jangan keburu emosi, aku akan membantumu. Besok sore aku coba ke
rumah Zara.” hiburku seraya menepuk punggungnya.
“Terima
kasih Ani, kamu harus membantuku.”
***
Ping! SMS masuk dari
Zara. “Ani, hari Minggu ada waktu nggak? Aku ingin ketemu. Ada sesuatu yang
ingin aku ceritakan kepadamu.”
“Ok,
kita ketemu dimana? Akhirnya kamu menghubungiku Zara, Jhony sangat
mencemaskanmu.” balasku.
“Di
tempat biasa ya, aku tunggu jam lima sore.”
Waktu
seakan berjalan begitu cepat, sore itu aku dan Zara bertemu di Pantai Marina,
tempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama. Zara menceritakan semua
masalahnya, tentang perjodohannya dengan Amar—lelaki pilihan ayahnya dan
hubungannya dengan Jhony. Zara terisak di pangkuanku, dia merasa sangat bersalah
pada Jhony karena dia tak berani menemuinya. Dia berharap aku bisa menolongnya,
menceritakan masalahnya kepada Jhony.
“Aku
akan sampaikan ini pada Jhony, semoga dia paham keadaanmu. Sekarang tenangkan
hatimu Zara. Kamu sudah memutuskan sebuah pilihan, kamu harus ikhlas dan menjalaninya
dengan tabah.”
“Aku harap Jhony bisa memaafkan.” desah
Zara seraya menghapus lelehan air mata di pipinya.
Senja tenggelam di ujung lautan,
semburat jingga tersisa menghias malam yang datang dalam kegalauan jiwa. Kami
beranjak menuju Parkir Kendaraan.
“Zara,
hati-hati di jalan. Eh ya...ditunggu undangannya,” candaku sambil men-start-er Motor Bebekku. Zara tersenyum
dan kami berpisah menuju rumah masing-masing.
***
Di
dalam kamar sambil berbaring di kasur, kutulis SMS untuk Jhony, “Malam ini ada
waktu nggak? Tadi sore aku bertemu Zara.”
“Ani,
cepat keluar.” balasan dari Jhony lima menit kemudian. Lalu aku segera keluar
menemuinya.
“Cepat
banget reaksimu? Udah nggak sabar ya.”
“Zara
bilang apa?”
“Emm…sabar
Jhon, rilex! Jangan serius gitu ah,”
kataku sambil duduk di kursi yang berada di teras rumah, di ikuti Jhony duduk
di seberangku. “Cepetan ceritakan padaku Ani.”
“Zara
sudah menerima pinangan seseorang.” Aku berhenti sejenak menyelidik ke arah
Jhony. Wajahnya tegang, kaget. “Bapak Zara bersikeras menjodohkan Zara dengan
lelaki pilihan keluarganya. Menurut keluarganya lelaki itu baik, sholeh, juga
mapan. Zara sudah berusaha menolak dan menjelaskan hubungannya denganmu, tapi
Pak Arif tetap tidak bisa memahaminya. Memang Pak Arif kagum dengan perubahan sikapmu
selama ini, tapi statusmu yang menjadi kendala. Itu alasannya mengapa Pak Arif
memaksa Zara menerima perjodohan itu.”
Jhony diam tak sepatah kata pun terucap
dari bibirnya. Sunyi menyergap seketika, hanya derik binatang malam dan
gemerisik dedaunan yang tertiup angin seakan menguping pembicaraan kami.
“Kenapa Zara tidak mau menemuiku?” ucap
Jhony dengan mata berkaca-kaca.
“Zara masih shock, dia sendiri masih belum bisa menerima keadaan ini.”
“Tapi aku tetap tidak paham, kenapa dia tidak
mau menemuiku? Setidaknya dia menemuiku walau sebentar dan bilang baik-baik
padaku, mungkin aku bisa menerima semua ini.” Jhony menghentakkan tangan di
atas meja. Braaaaakkkkkk!!!
“Sabar Jhon, kamu jangan menyalahkan
Zara, dia juga sangat menderita. Setidaknya dia sudah menghubungimu lewat
telepon.”
Jhony
tertegun, pandangan matanya kosong. Pikirannya melayang, menerawang.
“Aku tahu perasaanmu Jhon. Aku juga
bingung, tak tahu harus berbuat apa untuk menolongmu dan Zara.” bisikku dalam
hati.
Malam semakin pekat, tak satu pun
bintang menampakkan cahayanya. Mendung bergemuruh, rintik-rintik hujan menetes
tanah gersang. Jhony pamit pulang, menerjang hujan yang kian deras.
***
Pagi
ini aku sibuk di rumah Zara, membantu mempersiapkan acara pernikahannya.
“Ani,
kenapa hatiku sangat resah.” keluh Zara kepadaku.
“Tenanglah Zara, semua akan baik-baik
saja.”
“Apa nanti, Jhony akan datang?”
“Mungkin, tapi aku tidak bisa menjamin.
Sudah beberapa hari ini aku tidak pernah melihatnya. Hp-nya juga tidak bisa
dihubungi. Kemaren malam aku lewat depan kosnya juga sepi.”
Mendung
menggantung, langit hitam pekat. Pertanda hujan segera turun. Rumah Zara
terlihat begitu meriah, tamu undangan mulai berdatangan. Walau langit hitam
kelam, di rumah Zara tetap terang-benderang, dentum rebana menambah kemeriahan
acara.
Aku
duduk di depan meja penerima tamu dengan perasaan cemas, karena sampai pukul
03:00 sore Jhony belum juga menampakan batang hidungnya.
“Srrrrk…srrrrk…srrrrk!”
Suara kaki berjalan kearahku, kulihat siapa yang datang. Seorang lelaki muda,
hitam tapi manis, ada sedikit jambang didagunya. Memakai kemeja biru dan celana
jeans hitam. Sosok lelaki yang kutunggu-tunggu dari tadi.
“Akhirnya
kamu datang juga, Jhon.” sapaku
“Pastilah
aku datang.” katanya datar.
Dia menjabat tanganku seraya berjalan
masuk. Kupandangi dia dari belakang. Setiap langkah demi langkahnya diiringi
degup jantung yang berdendang. Hatinya bergejolak, seperti mendung yang semakin
bergemuruh.
Jhony berjalan menuju pelaminan, dimana
Zara dan Sang Pangeran—pilihan keluarganya, duduk bersanding mesra. Ada rasa
cemburu yang menggebu, menusuk ke ulu hati. Jhony menjabat tangan Amar,
kemudian menjabat tangan Zara. Mata mereka bertemu beradu pandang. Andai aku
punya mata tembus pandang, mungkin aku akan melihat detak jantung mereka yang
sama-sama berdebar. Ingin rasanya Jhony mendekap Zara, tapi…itu tidaklah
mungkin, dia sudah jadi milik orang. Tidak terasa air bening menitik membasah
wajah cantik Zara. Jhony tak kuasa untuk tetap memandangnya, segera dia bergegas
menuju meja hidangan.
Diambilnya segelas es buah yang sudah
tersedia di meja, diminumnya hampir tak tersisa. Jhony mengatur napas agar
sedikit lega.
“Trrrrt…trrrrt…!” Ponsel Jhony bergetar.
Segera dia meraih ponsel butut dari sakunya.
“Hello,
assalamm’ualaikum.” Suara seorang
perempuan di sebrang telepon.
“Wa’alaikumsalam.”
“Benar, ini dengan Mas Jhony?”
“Ya, benar. Ini siapa ya?”
Perempuan itu diam, tak menjawab.
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis tersedu-sedan, perempuan di sebrang
telepon menangis. Jhony bingung.
“Hello, masih ada orang di dalam?”
Tidak lama kemudian, perempuan itu mulai
bicara dengan suara serak karena menangis.
“Maaf Mas Jhony, saya ingin menyampaikan
berita duka dari ibunya Mas Jhony.”
“Apa?”
“Ada apa dengan Ibu?” suara Jhony panik.
“Hiks…hiks…hiks!” Perempuan itu kembali
menangis, kini tangisnya semakin kencang. “Ibunya Mas Jhony kecelakaan dan
meninggal seketika.”
“Innalillahi
wa innaillahirrojiun….” suara Jhony bergetar.
Pyaaarrrr…!!!
Piring yang dipegangnya jatuh ke lantai, semua mata berpaling ke arah sumber
suara. Semua orang kaget melihat Jhony menangis tersedu. Dia hampir terjatuh,
spontan seorang pria yang berada di belakangnya memapah Jhony duduk di kursi.
Aku berlari kearahnya.
“Jhon,
apa yang terjadi?” tanyaku panik.
Jhony
tak langsung menjawab, dia masih shock.
“Ibu…Ibuku
meninggal Ni.”
“Innalillahi wa innaillahirrojiun….”
ucapku hampir bersamaan dengan teman-teman yang lain.
Langit
yang dari tadi mendung mulai menitikkan air hujan, setitik demi setitik hujan
semakin deras, seakan langit ikut menangis atas berita duka ini.
***
Senja
sedang merona saat mataku tak sengaja melihat sosok lelaki hitam manis,
berjambang itu berjalan ke arahku. Kakinya yang telanjang, menyisakan tapak-tapak
pada pasir yang dilewatinya.
“Jhony, kaukah itu?” tanyaku penasaran.
“Sudah lupakah kau denganku Ani?”
sahutnya sembari menggodaku.
“Hey…gimana kabarmu kawan? Kok tahu aku
di sini?”
“Tadi aku ke rumahmu, ibumu bilang kau
disini.”
“Kemana saja kau kawan? Baik-baikkah
kamu? Kenapa teleponmu tidak aktif? Kau tahu, tempo hari Zara menanyakanmu.”
Mendengar nama Zara hati Jhony berdesir. “Ma…ma’af Jhon, kalau aku salah
bicara.” lanjutku setelah melihat perubahan wajah Jhony.
“Nggak apa-apa Ni, aku baik-baik saja.
Terima kasih kalian sudah mengkhawatirkanku.”
“Aku tahu kesedihan yang kamu rasakan
Jhony. Disaat yang bersamaan kau kehilangan dua wanita yang sangat kau sayangi,
tapi itu bukan alasan untuk diam dalam keterpurukan.” aku menarik nafas panjang,
“aku sangat mengkhawatirmu, kau menghilang hampir 1 bulan.” Jhony hanya diam
mendengarkan ceracauku.
“Sudah selesai belum ceramahnya?”
cetusnya jahil
“Hmmm…kayaknya kau sudah kembali seperti
semula.” kelakarku.
“Makasih, Ni. Kamu masih bersedia menasehatiku
dan mendengar keluh kesahku. Pantas saja Zara sangat menyukaimu, kamu memang
sahabat yang setia.” Jhony memandang lurus, pada senja yang hampir tenggelam.
“Aku memang sangat kehilangan mereka. Aku kehilangan cinta, dan cahaya yang
selama ini menerangi hidupku. Tetapi aku masih punya bapak dan adikku Rahma,
aku masih mempunyai cinta mereka. Bukankah aku juga masih punya Tuhan, Sang
Maha Cinta yang selalu memberikan cintanya kepada setiap hambanya.”
“Dan mintalah cinta kepada-Nya, maka Ia
akan memberikannya kepada kita.” timpalku sembari menepuk punggungnya. Senja
yang dari tadi menguping di balik bukit tenggelam terusir malam penuh bintang.
Cahayanya terang, indah, mendamaikan. Aku yakin bintang pun terseyum untuk kembalinya
Jhony. J
Friday, August 28,
2015. 9:06 p.m.
Yuen Long
Dimuat di Tabloid Apakabar Plus #14 THN X *19 September- 2 Oktober 2015




0 komentar:
Posting Komentar