Senin, 28 September 2015

Sekuntum Kamboja di Pusara Ayah


        Langit tak berhenti merinaikan hujan, sesekali halilintar menggelegar. Tubuhku kian menggigil oleh terjangan angin, tapi aku masih tak bergeming untuk tetap jongkok di samping pusara ayah.
        Sebagai anak tunggal yang terlahir dikeluarga kaya, aku hidup berkecukupan. Segala apa yang kuinginkan selalu dituruti oleh kedua orangtuaku. Ibuku seorang wanita karier yang sukses. Dia selalu sibuk di kantor sehingga jarang di rumah.
        Ayah adalah seorang pialang saham yang handal. Walau dia sering berada di rumah, tapi waktunya selalu habis untuk nongkrong di depan layar komputer. Mungkin baginya di dalam komputer itu ada harta karun yang bernilai milyaran rupiah, sehingga ia tak bosan-bosan untuk menghabiskan waktu di sana.
        Sebagai anak tunggal saya sangat kesepian, hanya Bi Minah yang masih peduli dan mau menemaniku bermain. Tetapi seiring usiaku yang beranjak dewasa, aku lebih suka bermain di luar bersama dengan teman-temanku, karena jika di rumah aku selalu kesepian.
        Ayah dan ibu tak pernah memerdulikan dengan siapa aku bergaul, yang penting aku mendapat nilai bagus di sekolah dan tidak mengganggu kerjaan mereka. Tak heran jika akhirnya aku terperosok dalam pergaulan bebas.
        Diusiaku yang masih belia aku sudah mengenal rokok dan minuman setan. Memasuki bangku kuliah pergaulanku semakin kelam. Aku merambah barang haram yang bernama ganja dan sabu-sabu. Namun, hidup dalam pergaulan bebas seperti ini, aku tetap masih bisa mempertahankan hartaku yang paling berharga.
Jogja Kota Pelajar, tapi sebagian besar pelajarnya sudah tidak perawan. Ini sudah menjadi rahasia umum. Sungguh luar biasa jika dalam lingkup pergaulan bebas ini aku masih bisa mempertahankan keperawanan.
        Ujian semester pertama, ayah dan ibuku sangat bangga kepadaku karena aku mendapat nilai terbaik di kelas. Ternyata otakku mewarisi kepintaran kedua orangtuaku. Kami sekeluarga pergi ke restoran Bong KOPITOWN, restoran bernuansa suram bergaya Penjara Hong Kong tahun 60-an yang tak jauh dari rumah tinggal kami.
        Aku sangat bahagia malam itu, karena sudah lama kami bertiga tidak makan bersama. Namun, ternyata kebahagian itu hanya sekejap mata. Setelah malam itu berlalu, beruntun musibah demi musibah menghantam keluargaku. Ayah mengalami kebangkrutan karena harga saham turun drastis. Perekonomian Indonesia morat-marit akibat krisis ekonomi global. Ayah stress berat. Dia sering melamun ditemani botol-botol minuman.
        Bersamaan dengan itu ibu mendapat tugas di luar kota selama satu bulan. Dia tak bisa menolak tugas tersebut karena tugas itu sangat penting bagi perkembangan kariernya. Dan ibu malah menyuruhku menjaga ayah.
        “Bu, haruskah ibu pergi disaat ayah seperti ini?” protesku saat ibu mengemasi barang-barangnya.
        “Lisa, ini demi karier ibu sayang. Ini semua juga demi keluarga kita.” ucapnya membujukku sambil memasukan barang ke dalam koper. Aku berlalu dengan kesal karena percuma aku bicara panjang lebar jika ibu pun akhirnya akan pergi.
        Aku merasa kasihan pada ayah. Apakah dia juga merasakan kesepian seperti yang kurasakan. Seminggu setelah kepergian ibu, keadaan ayah semakin parah. Kadang ayah terlihat emosi membanting-banting barang di kamarnya. Bi Minah juga kemaren malam ijin pulang ke desanya karena ibunya sakit.
        Malam yang sunyi. Rumah tiga lantai ini sepi seperti tak berpenghuni. Ayah sejak siang tadi belum keluar kamar. Aku beranjak dengan malas naik ke lantai 2, mengetuk kamar ayah.
        “Ayah! Sedang apa, Yah?” tanyaku dibalik pintu kamar. Hening, tak ada jawaban. Tanganku meraih gagang pintu, menariknya pelan-pelan lalu mendorongnya. Aku celingukan melihat ke dalam. Ayah duduk selonjor di lantai menghadap jendela. Banyak barang-barang berantakan di sana sini. Selimut bantal berserakan di atas lantai.
        Kakiku melangkah masuk, menghampiri sosok ayah.
        “Yah, apa yang terjadi? Kenapa Ayah seperti ini?” tanyaku pelan takut membuatnya marah. Ayah hanya tersenyum getir. “Aku sudah melihat beritanya di TV Yah. Bukan hanya ayah saja yang jatuh, tapi semua pialang saham di seluruh Indonesia. Ini bukan akhir dari segalanya. Bukankah tahun besok masih ada kemungkian naik? Biasanya Ayah akan bilang seperti itu jika saham jatuh seperti sekarang.” lanjutku menghibur ayah.
        “Kau tak tahu apa-apa soal ini Lisa.” jawabnya singkat tanpa memandangku. Tangannya mencokolkan botol minuman ke mulut. Aku jengah. Malas untuk berkata lagi. Ayah dan ibu sama saja, mereka dari dulu tak pernah mau mendengarkan kata-kataku.
        Kuraih botol minuman di samping ayah, kuminum sampai hampir setengah. Dan tengukan yang kedua aku berhasil menghabiskannya. Ayah memandangku heran. Baru pertama kalinya dia melihatku meminum minuman setan ini.
        “Ternyata kau kuat juga seperti Ayah.” tak kuhiraukan ucapkan ayah, aku mengambil botol ke-2 ke-3 dan ke-4. Tak lama kemudian mataku mulai berkunang-kunang. Samar-samar kulihat ayah juga masih terus minum. Tubuhku seringan kapas, aku seperti melayang, dan semuanya mengambang. Sampai tiba-tiba seperti ada seseorang yang meraih tubuhku. Meraba dan menjamah penuh nafsu.
        Dia mulai melumat mulutku, seraya menanggalkan pakaianku. Namun kini, tubuhku sudah tak berdaya untuk meronta. Tanganku seperti tak bertulang. Lalu aku tak merasakan apa-apa lagi. Gelap.
        Saat aku membuka mata, kepalaku sangat sakit. Pening. Kupandangi sekeliling seraya mengedip-ngedipkan mata. Ruangan yang tak biasa, ini bukan kamarku. Saat kesadaranku sepenuhnya kembali, aku menjerit. Kaget.
        “Tiiiidaaaaaakkkkk…!!!” aku berinsut tanpa busana di bawah selimut kamar ibu. Menangis tersedu-sedan. Hatiku hancur lembur. Harta terbesarku yang selama ini kujaga mati-matian telah dirampas oleh ayah kandungku sendiri. “Bajingan! Manusia terkutuk!!!” rutukku penuh dendam.
        Aku menghilang. Berusaha melarikan diri dari segala permasalahan ini.

Dirumah:
Ibu sangat kaget ketika pulang kerumah semuanya berantakan dan mendapati ayah yang sudah benar-benar gila. Bi Minah masih di kampung halamannya. Ibu berusaha meneleponku, tapi sia-sia. Nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif!
Aku telah membuang nomer itu dan mengganti dengan yang baru. Ibu panik, bingung. Dia segera menelepon rumah sakit jiwa.
Di dalam kamar ayah teriak-teriak seperti orang ketakutan. Setiap kali ibu menengoknya ia lari bersembunyi ke kolong tempat tidur. Untung ambulan segera datang dan membawa ayah kerumah sakit jiwa.
***
        Ibu tertegun seorang diri. Menatap pias ruangan demi ruangan yang nampak semakin lengang. Sepi. Semuanya membisu, hanya hembusan nafasnya sendiri yang terdengar naik-turun.
        Setelah lama tercenung, ibu mulai berfikir untuk mencariku. Menelepon semua teman-temanku. Tapi nihil, tak seorang pun sahabatku yang tahu keberadaanku. Akhirnya ibu menelepon polisi untuk membantu menyariku.
        Ibu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang berantakan. Kenangan-kenangan di rumah itu berputar-putar seperti slide foto yang sedang diputar. Dia merenungi kejadian-kejadian sebulan yang lalu sebelum ia pergi meninggalkan rumah.
        Terselip penyesalan di lubuk hatinya. Ibu merasa sangat egois karena tidak memerdulikan keluarganya. Dia memilih pergi disaat kondisi suaminya yang kurang baik. Dan sekarang dia harus menerima keadaan yang lebih buruk lagi yaitu keadaan suaminya yang sudah tak sadarkan diri dan kehilangan anak satu-satunya.
***
        Di siang yang mendung, kabut menutup permukaan bukit. Dingin. Biasanya jam segini masih banyak pengunjung telaga yang berdatangan dari berbagai penjuru. Namun, siang ini hanya ada beberapa saja. Mereka pun bersiap beranjak karena hujan mulai merinai. Permukaan telaga yang semula tenang mulai timbul tetesan-tetesan air, menghapus bayangan yang sedang terdiam di sana.
        Saat tubuhku hendak beranjak dari bangku kayu di tepi telaga, dari belakang seseorang meraih pundakku.
        “Lisaaa….” aAini. “Ternyata kamu di sini Lisa. Ibu mencarimu ke mana-mana.” lanjutnya seraya meraih tanganku, tapi segera kuhentakkan dan aku berlari. Pergi. Ibu mengejarku berlari menerjang hujan yang kian deras. Aku terus berlari tanpa menghiraukannya.
        “Aaagggghhh….” Ibu terpeleset dan hampir terpelosok kedalam telaga. Aku menoleh, menatapnya nanar. Lalu segera berlari untuk menolongnya. Ingin aku pergi      tanpa memerdulikannya tapi hati ini, tak mampu menepis rasa iba yang menohok ulu hati.
        “Pegang erat tanganku Bu.” Aku meraih tangan Ibu dan berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya. Untung, tangan ibu masih sempat meraih semak-semak di tepi telaga, jika tidak, mungkin ibu sempurna tenggelam di dalam sana.
        “Maaf kan Ibu, Nak.” pinta ibu seraya memeluk erat tubuh basahku. Semula aku menolak pelukan itu, tapi akhirnya aku menangis dan tenggelam dalam pelukannya.
        “Maafkan Ibu, Lisa. Pulanglah bersama Ibu. Ibu mohon Lisa….”
        “Aku nggak ingin pulang. Aku benci Ibu dan Ayah!” rajukku penuh emosi.
        “Lisa, maafkan Ibu, Nak. Ibu yang salah, Ibu telah menelantarkanmu dan ayah. Ibu sibuk sendiri dengan pekerjaan Ibu, sehingga tak pernah memerdulikan kalian. Maafkan Ibu, pulanglah Lisa. Tengok ayahmu yang sudah tak lama lagi.”
        “Ayah? Kenapa dengan ayah. Aku benci Ayah! Aku nggak mau bertemu dengan Ayah!!!” aku teriak histeris mendengar nama ayah. Ingatanku kembali pada peristiwa tiga bulan yang lalu, ketika aku tersadar dari tidur dan mendapati tubuhku tanpa busana di atas ranjang kamar ayah.
        Ibu memelukku semakin erat dan aku tersedu-sedan dalam pelukannya.
***
        Aku tetap diam membisu dengan berkecamuk rasa yang menohok di ulu hati. Cerita ibu tentang ayah yang sedang menunggu ajal, memaksaku untuk ikut pulang bersamanya.
        Tiga bulan aku menghilang dari rumah, ternyata begitu banyak peristiwa yang terjadi. Terutama dengan ayah. Dia sudah benar-benar gila dan mencoba bunuh diri dengan terjun dari lantai 3 kamar rumah sakit jiwa tempat ayah dirawat. Namun Tuhan belum mau menerimanya, hingga sekarang ia masih sekarat di rumah sakit.
        Kata ibu, ayah sudah coma selama sebulan, tapi sesekali dia bangun dan menyebut-nyebut namaku minta ampun. Dia ketakutan menyebut namaku.
        Air mataku tak lagi menitik, walau melihat ayah yang sedang sekarat menanti ajal. Dinding kebencian yang ia ciptakan kini terbentang kokoh dalam diriku. “Kau lelaki kejam sepanjang zaman.” rutukku seraya menatapnya nanar.
        “Lisa, ampun Lisa. Maafkan Ayah, Lisa.” lelaki itu tiba-tiba membuka mata dan bicara. Aku dan ibu kaget, seketika kami saling pandang. Ada air bening yang perlahan merembes dari ujung mata lelaki itu. Tangannya bergerak, lalu meronta. Tubuh ayah menggigil. Ibu memanggil-manggil ayah, seraya menggenggam tangannya.
        Entah mengapa seketika dendam dihatiku luruh, menjelma iba. Melihatnya yang tersengal-sengal kesakitan, hatiku sakit tercabik-cabik. Kudekap tubuh ayah, kucium kening dan kugenggam erat tangan dinginnya. Mataku menyemburkan air yang telah lama terbendung. Air ini kian deras membasahi pipiku saat ayah benar-benar pergi meninggalkanku.
        Ayah pergi setelah dia mengucapkan kata terakhirnya yaitu sebuah kata ma’af yang mungkin sudah lama ia pendam. Kini tak ada lagi dendam di hatiku, dendam itu luruh tersapu rasa iba dan cinta seorang anak kepada ayahnya.
Bukankah kejadian itu bukan seluruhnya salah ayah. Aku dan ibu juga salah. Ibu telah lama tak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Ibu selalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tak ada waktu melayani ayah. Hasrat libido ayah yang telah lama tak terpenuhi seketika bergairah melihat wanita tergolek lemah di depannya. Dia tak sadar jika wanita itu adalah anak kandungnya. Minuman setan itu benar-benar telah melumpuhkan kesadarannya.
Sekarang aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Menjadikan kesalahan masa lalu sebagai pelajaran. Begitu pula dengan ibu, ia semakin memerhatikanku, menyayangi, dan mencintaiku. Untuk ayah, setiap jum’at kupetik kamboja dan meletakkan bunga itu di atas pusaranya. Seraya kukirimkan do’a dan Al-Fatihah agar ia lapang di alam kubur.
Friday, 15/11/13, 23:30 p.m.
Yuen Long, N. T. Hong Kong

Dimuat Tabloid Apakabar Plus #22 THN IX *24 Jan- 6 Feb 2015

0 komentar:

Posting Komentar