Langit tak berhenti merinaikan hujan,
sesekali halilintar menggelegar. Tubuhku kian menggigil oleh terjangan angin,
tapi aku masih tak bergeming untuk tetap jongkok di samping pusara ayah.
Sebagai anak tunggal yang terlahir
dikeluarga kaya, aku hidup berkecukupan. Segala apa yang kuinginkan selalu
dituruti oleh kedua orangtuaku. Ibuku seorang wanita karier yang sukses. Dia selalu sibuk di kantor sehingga jarang di
rumah.
Ayah adalah seorang pialang saham yang
handal. Walau dia sering berada di rumah, tapi waktunya selalu habis untuk
nongkrong di depan layar komputer. Mungkin baginya di dalam komputer itu ada
harta karun yang bernilai milyaran rupiah, sehingga ia tak bosan-bosan untuk
menghabiskan waktu di sana.
Sebagai anak tunggal saya sangat
kesepian, hanya Bi Minah yang masih peduli dan mau menemaniku bermain. Tetapi
seiring usiaku yang beranjak dewasa, aku lebih suka bermain di luar bersama
dengan teman-temanku, karena jika di rumah aku selalu kesepian.
Ayah dan ibu tak pernah memerdulikan
dengan siapa aku bergaul, yang penting aku mendapat nilai bagus di sekolah dan
tidak mengganggu kerjaan mereka. Tak heran jika akhirnya aku terperosok dalam
pergaulan bebas.
Diusiaku yang masih belia aku sudah mengenal
rokok dan minuman setan. Memasuki
bangku kuliah pergaulanku semakin kelam. Aku merambah barang haram yang bernama
ganja dan sabu-sabu. Namun, hidup dalam pergaulan bebas seperti ini, aku tetap
masih bisa mempertahankan hartaku yang paling berharga.
Jogja
Kota Pelajar, tapi sebagian besar pelajarnya sudah tidak perawan. Ini sudah
menjadi rahasia umum. Sungguh luar biasa jika dalam lingkup pergaulan bebas ini
aku masih bisa mempertahankan keperawanan.
Ujian semester pertama, ayah dan ibuku
sangat bangga kepadaku karena aku mendapat nilai terbaik di kelas. Ternyata
otakku mewarisi kepintaran kedua orangtuaku. Kami sekeluarga pergi ke restoran
Bong KOPITOWN, restoran bernuansa suram bergaya Penjara Hong Kong tahun 60-an
yang tak jauh dari rumah tinggal kami.
Aku sangat bahagia malam itu, karena
sudah lama kami bertiga tidak makan bersama. Namun, ternyata kebahagian itu
hanya sekejap mata. Setelah malam itu berlalu, beruntun musibah demi musibah
menghantam keluargaku. Ayah mengalami kebangkrutan karena harga saham turun
drastis. Perekonomian Indonesia morat-marit akibat krisis ekonomi global. Ayah
stress berat. Dia sering melamun ditemani botol-botol minuman.
Bersamaan dengan itu ibu mendapat tugas
di luar kota selama satu bulan. Dia tak bisa menolak tugas tersebut karena
tugas itu sangat penting bagi perkembangan kariernya. Dan ibu malah menyuruhku
menjaga ayah.
“Bu, haruskah ibu pergi disaat ayah
seperti ini?” protesku saat ibu mengemasi barang-barangnya.
“Lisa, ini demi karier ibu sayang. Ini
semua juga demi keluarga kita.” ucapnya membujukku sambil memasukan barang ke dalam
koper. Aku berlalu dengan kesal karena percuma aku bicara panjang lebar jika
ibu pun akhirnya akan pergi.
Aku merasa kasihan pada ayah. Apakah dia
juga merasakan kesepian seperti yang kurasakan. Seminggu setelah kepergian ibu,
keadaan ayah semakin parah. Kadang ayah terlihat emosi membanting-banting
barang di kamarnya. Bi Minah juga kemaren malam ijin pulang ke desanya karena
ibunya sakit.
Malam yang sunyi. Rumah tiga lantai ini
sepi seperti tak berpenghuni. Ayah sejak siang tadi belum keluar kamar. Aku
beranjak dengan malas naik ke lantai 2, mengetuk kamar ayah.
“Ayah! Sedang apa, Yah?” tanyaku dibalik
pintu kamar. Hening, tak ada jawaban. Tanganku meraih gagang pintu, menariknya
pelan-pelan lalu mendorongnya. Aku celingukan melihat ke dalam. Ayah duduk
selonjor di lantai menghadap jendela. Banyak barang-barang berantakan di sana
sini. Selimut bantal berserakan di atas lantai.
Kakiku melangkah masuk, menghampiri
sosok ayah.
“Yah, apa yang terjadi? Kenapa Ayah
seperti ini?” tanyaku pelan takut membuatnya marah. Ayah hanya tersenyum getir.
“Aku sudah melihat beritanya di TV Yah. Bukan hanya ayah saja yang jatuh, tapi
semua pialang saham di seluruh Indonesia. Ini bukan akhir dari segalanya.
Bukankah tahun besok masih ada kemungkian naik? Biasanya Ayah akan bilang
seperti itu jika saham jatuh seperti sekarang.” lanjutku menghibur ayah.
“Kau tak tahu apa-apa soal ini Lisa.”
jawabnya singkat tanpa memandangku. Tangannya mencokolkan botol minuman ke
mulut. Aku jengah. Malas untuk berkata lagi. Ayah dan ibu sama saja, mereka
dari dulu tak pernah mau mendengarkan kata-kataku.
Kuraih botol minuman di samping ayah,
kuminum sampai hampir setengah. Dan tengukan yang kedua aku berhasil menghabiskannya.
Ayah memandangku heran. Baru pertama kalinya dia melihatku meminum minuman setan ini.
“Ternyata kau kuat juga seperti Ayah.”
tak kuhiraukan ucapkan ayah, aku mengambil botol ke-2 ke-3 dan ke-4. Tak lama
kemudian mataku mulai berkunang-kunang. Samar-samar kulihat ayah juga masih
terus minum. Tubuhku seringan kapas, aku seperti melayang, dan semuanya
mengambang. Sampai tiba-tiba seperti ada seseorang yang meraih tubuhku. Meraba
dan menjamah penuh nafsu.
Dia mulai melumat mulutku, seraya
menanggalkan pakaianku. Namun kini, tubuhku sudah tak berdaya untuk meronta.
Tanganku seperti tak bertulang. Lalu aku tak merasakan apa-apa lagi. Gelap.
Saat aku membuka mata, kepalaku sangat
sakit. Pening. Kupandangi sekeliling seraya mengedip-ngedipkan mata. Ruangan
yang tak biasa, ini bukan kamarku. Saat kesadaranku sepenuhnya kembali, aku
menjerit. Kaget.
“Tiiiidaaaaaakkkkk…!!!” aku berinsut
tanpa busana di bawah selimut kamar ibu. Menangis tersedu-sedan. Hatiku hancur
lembur. Harta terbesarku yang selama ini kujaga mati-matian telah dirampas oleh
ayah kandungku sendiri. “Bajingan! Manusia terkutuk!!!” rutukku penuh dendam.
Aku menghilang. Berusaha melarikan diri
dari segala permasalahan ini.
Dirumah:
Ibu
sangat kaget ketika pulang kerumah semuanya berantakan dan mendapati ayah yang
sudah benar-benar gila. Bi Minah masih di kampung halamannya. Ibu berusaha
meneleponku, tapi sia-sia. Nomer yang
Anda tuju sedang tidak aktif!
Aku
telah membuang nomer itu dan mengganti dengan yang baru. Ibu panik, bingung.
Dia segera menelepon rumah sakit jiwa.
Di
dalam kamar ayah teriak-teriak seperti orang ketakutan. Setiap kali ibu
menengoknya ia lari bersembunyi ke kolong tempat tidur. Untung ambulan segera
datang dan membawa ayah kerumah sakit jiwa.
***
Ibu tertegun seorang diri. Menatap pias
ruangan demi ruangan yang nampak semakin lengang. Sepi. Semuanya membisu, hanya
hembusan nafasnya sendiri yang terdengar naik-turun.
Setelah lama tercenung, ibu mulai
berfikir untuk mencariku. Menelepon semua teman-temanku. Tapi nihil, tak
seorang pun sahabatku yang tahu keberadaanku. Akhirnya ibu menelepon polisi
untuk membantu menyariku.
Ibu menghempaskan tubuhnya di atas
ranjang yang berantakan. Kenangan-kenangan di rumah itu berputar-putar seperti
slide foto yang sedang diputar. Dia merenungi kejadian-kejadian sebulan yang
lalu sebelum ia pergi meninggalkan rumah.
Terselip penyesalan di lubuk hatinya.
Ibu merasa sangat egois karena tidak memerdulikan keluarganya. Dia memilih pergi
disaat kondisi suaminya yang kurang baik. Dan sekarang dia harus menerima
keadaan yang lebih buruk lagi yaitu keadaan suaminya yang sudah tak sadarkan
diri dan kehilangan anak satu-satunya.
***
Di siang yang mendung, kabut menutup
permukaan bukit. Dingin. Biasanya jam segini masih banyak pengunjung telaga
yang berdatangan dari berbagai penjuru. Namun, siang ini hanya ada beberapa
saja. Mereka pun bersiap beranjak karena hujan mulai merinai. Permukaan telaga
yang semula tenang mulai timbul tetesan-tetesan air, menghapus bayangan yang
sedang terdiam di sana.
Saat tubuhku hendak beranjak dari bangku
kayu di tepi telaga, dari belakang seseorang meraih pundakku.
“Lisaaa….” aAini. “Ternyata kamu di sini
Lisa. Ibu mencarimu ke mana-mana.” lanjutnya seraya meraih tanganku, tapi
segera kuhentakkan dan aku berlari. Pergi. Ibu mengejarku berlari menerjang
hujan yang kian deras. Aku terus berlari tanpa menghiraukannya.
“Aaagggghhh….” Ibu terpeleset dan hampir
terpelosok kedalam telaga. Aku menoleh, menatapnya nanar. Lalu segera berlari
untuk menolongnya. Ingin aku pergi
tanpa memerdulikannya tapi hati ini, tak mampu menepis rasa iba yang menohok
ulu hati.
“Pegang erat tanganku Bu.” Aku meraih
tangan Ibu dan berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya. Untung, tangan ibu
masih sempat meraih semak-semak di tepi telaga, jika tidak, mungkin ibu sempurna
tenggelam di dalam sana.
“Maaf kan Ibu, Nak.” pinta ibu seraya
memeluk erat tubuh basahku. Semula aku menolak pelukan itu, tapi akhirnya aku
menangis dan tenggelam dalam pelukannya.
“Maafkan Ibu, Lisa. Pulanglah bersama
Ibu. Ibu mohon Lisa….”
“Aku nggak ingin pulang. Aku benci Ibu
dan Ayah!” rajukku penuh emosi.
“Lisa, maafkan Ibu, Nak. Ibu yang salah,
Ibu telah menelantarkanmu dan ayah. Ibu sibuk sendiri dengan pekerjaan Ibu,
sehingga tak pernah memerdulikan kalian. Maafkan Ibu, pulanglah Lisa. Tengok
ayahmu yang sudah tak lama lagi.”
“Ayah? Kenapa dengan ayah. Aku benci Ayah!
Aku nggak mau bertemu dengan Ayah!!!” aku teriak histeris mendengar nama ayah.
Ingatanku kembali pada peristiwa tiga bulan yang lalu, ketika aku tersadar dari
tidur dan mendapati tubuhku tanpa busana di atas ranjang kamar ayah.
Ibu memelukku semakin erat dan aku
tersedu-sedan dalam pelukannya.
***
Aku tetap diam membisu dengan berkecamuk
rasa yang menohok di ulu hati. Cerita ibu tentang ayah yang sedang menunggu
ajal, memaksaku untuk ikut pulang bersamanya.
Tiga bulan aku menghilang dari rumah,
ternyata begitu banyak peristiwa yang terjadi. Terutama dengan ayah. Dia sudah
benar-benar gila dan mencoba bunuh diri dengan terjun dari lantai 3 kamar rumah
sakit jiwa tempat ayah dirawat. Namun Tuhan belum mau menerimanya, hingga
sekarang ia masih sekarat di rumah sakit.
Kata ibu, ayah sudah coma selama
sebulan, tapi sesekali dia bangun dan menyebut-nyebut namaku minta ampun. Dia
ketakutan menyebut namaku.
Air mataku tak lagi menitik, walau
melihat ayah yang sedang sekarat menanti ajal. Dinding kebencian yang ia
ciptakan kini terbentang kokoh dalam diriku. “Kau lelaki kejam sepanjang zaman.”
rutukku seraya menatapnya nanar.
“Lisa, ampun Lisa. Maafkan Ayah, Lisa.”
lelaki itu tiba-tiba membuka mata dan bicara. Aku dan ibu kaget, seketika kami
saling pandang. Ada air bening yang perlahan merembes dari ujung mata lelaki
itu. Tangannya bergerak, lalu meronta. Tubuh ayah menggigil. Ibu
memanggil-manggil ayah, seraya menggenggam tangannya.
Entah mengapa seketika dendam dihatiku
luruh, menjelma iba. Melihatnya yang tersengal-sengal kesakitan, hatiku sakit
tercabik-cabik. Kudekap tubuh ayah, kucium kening dan kugenggam erat tangan
dinginnya. Mataku menyemburkan air yang telah lama terbendung. Air ini kian
deras membasahi pipiku saat ayah benar-benar pergi meninggalkanku.
Ayah pergi setelah dia mengucapkan kata
terakhirnya yaitu sebuah kata ma’af yang mungkin sudah lama ia pendam. Kini tak
ada lagi dendam di hatiku, dendam itu luruh tersapu rasa iba dan cinta seorang
anak kepada ayahnya.
Bukankah
kejadian itu bukan seluruhnya salah ayah. Aku dan ibu juga salah. Ibu telah
lama tak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Ibu selalu sibuk dengan
pekerjaannya hingga tak ada waktu melayani ayah. Hasrat libido ayah yang telah
lama tak terpenuhi seketika bergairah melihat wanita tergolek lemah di
depannya. Dia tak sadar jika wanita itu adalah anak kandungnya. Minuman setan itu benar-benar telah
melumpuhkan kesadarannya.
Sekarang
aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Menjadikan kesalahan masa lalu sebagai
pelajaran. Begitu pula dengan ibu, ia semakin memerhatikanku, menyayangi, dan
mencintaiku. Untuk ayah, setiap jum’at kupetik kamboja dan meletakkan bunga itu
di atas pusaranya. Seraya kukirimkan do’a dan Al-Fatihah agar ia lapang di alam
kubur.
Friday, 15/11/13, 23:30 p.m.
Yuen Long, N. T. Hong Kong
Dimuat Tabloid
Apakabar Plus #22 THN IX *24 Jan- 6 Feb 2015





0 komentar:
Posting Komentar