Senin, 28 September 2015

Jimat Sakti Milik Cece


Tempo hari saya pernah cerita tentang rumah majikan saya yang sangat besar, luas dan unik. Juga tentang my big bos yang kaya raya, baik hati dan tidak sombong. Adakah yang masih ingat? hmmm.

Yuk baca cerita gokil terbaru yang saya alami bersama kakak saya tercinta, Mbak Asri yang bernasib sebelas duabelas (hampir sama) lah dengan nasib saya. Tiga tahun sudah saya dan Mbak Asri berdikari dengan sekuat tenaga bertahan berkerja di rumah ini. Lho…kok sampai segitunya? Katanya big bos baik? Kalau masih bertanya berarti belum baca ceritaku yang dulu tuh, hayoo ngaku?

Sedikit saya ulas tentang kondisi rumah dan pekerjaan saya ya, simak baik-baik. Rumah di pelosok, paling ujung barat dari negara Hong Kong. Tepatnya daerah Lau Fau Shan, Yuen Long. Karena berdekatan dengan Cina, suhu udara pun tak jauh berbeda. Jika musim panas, suhu mencapai 35 derajat ke atas dan jika musim dingin, pokoknya paling dingin dari seluruh daerah yang ada di Hong Kong. Nah, parahnya lagi kalau musim lembab, lembabnya luarrrrrrr biasa. Di rumah sampai ada 10 mesin penyedot kelembaban lho! Bisa bayangin nggak kalau tiap ruangan ada mesin penyedot dan semuanya nyala?

Hari itu, big bos memberi tugas spesial untuk bersih-bersih rumah dan halaman, beserta kebun buah yang luasnya tak terukur (belum pernah ngukur sih hehe). Sore hari kira-kira pukul 5 sore big bos telefon, “Alu, yat jeng kan yau hak lei. Jun po cap konceng mea?” tanya Mr. Chan dalam perjalanan pulang. “Semua sudah beres, Bos!” jawabku sambil duduk kecapekan. Sekitar 20 menitan big bos sampai di rumah bersama tamunya. Seperti biasa, kalau ada tamu pasti Mr. Chan memamerkan rumahnya yang besar, luas dan unik ini. Tamunya di ajak jalan-jalan mengelilingi rumah.


Nah, ketika Mr. Chan dan tamunya masuk ke kamar Cece (anak kesanyangannya) ada penampakan di sofa yang terletak di sampai pintu kamar. Underwear alias CD dan BH teronggok tanpa dosa di sana. Huaaaa…secepat kilat Mr. Chan menerkam dan menyembunyikan ‘jimat sakti’ milik Cece ke laci meja di sebelah sofa. Namun naas, Mr. Chan tetaplah manusia biasa seperti kita semua, yang tidak bisa bergerak melebihi dengan kecepatan cahaya. Para tamu pun terlanjur melihat ‘jimat saksi’ dan wajah Mr. Chan merah menahan malu. Hahahaha! Saya dan Mbak Asri ngikik di dapur melihat aksi big bos. Kasihan…maafkan kami bos, saya pun tak tahu kalau ada ‘jimat sakti’ di situ.

Dimuat di Tabloid Apakabar Plus #03 THN X  *4-17 April 2015

0 komentar:

Posting Komentar