Wajah Kuntilanak

Adakah di jaman modern seperti sekarang ini yang masih takut dengan hantu? Apalagi di negara Hong Kong tempat kita mengais dolar ini adalah salah satu negara maju dengan fasilitas tehnologi yang luar biasa canggih. Eits…tapi jangan salah lho...

Mengais Rezeki Tambahan Dihari Libur

Kebebasan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong yang mempunyai waktu libur sepekan sekali dan public holiday, banyak di manfaatkan BMI untuk mengais rejeki tambahan dengan berjualan. Walau sebenarnya BMI berjualan itu...

Tahun Baru

Gulir waktu kian menganga Menapak batas semesta Kerlip bintang tebarkan cahaya di gelap langit Memoles indah angkasa luas...

Tapak Perjalanan

Jelajahi tapak perjalanan masa lalu Seraya merajut harap pada sisa waktu Bermuhasabah Berbenah Berjuang dan berusaha menggapai yang belum tercapai...

Desaku

Kumandang adzan di ujung fajar Hembusan angin semerbak bau bawang Gemericik air dan cicit kenari di pematang ladang Mengukir indah bingkai kenangan...

Selasa, 24 Desember 2013

Mimpi Untuk Berbagi


Oleh: NH. Lulu

        “Sedih banget Sri, rasanya pengen segera pulang.” tutur Lia di seberang telepon. Aku menghela nafas, asaku melayang ke masa lalu. Saat situasi yang sama dulu pernah kualami. Ketika ibu sakit dan aku berada jauh di tanah rantau. Ingin rasanya segera terbang pulang dan menemui ibu, tapi kenyataannya tak semudah itu. Banyak sekali berbagai alasan yang memaksaku harus bertahan. Meski sedih, inilah kenyataan yang tak mampu dipungkiri.
        “Sabar, Lia. Do’akan anakmu biar cepat sembuh.” hiburku kepada sahabat lama yang dulu tinggal di sebelah rumahku, saat aku masih berkerja di Hong Kong.
        Aku melangkah menuju jendela kamar. Memandangi rerumputan hijau yang yang tumbuh subur di halaman rumah. Pucuk-pucuknya tertutup embun yang berkilauan oleh sinar fajar. Bocah-bocah berseragam merah putih berlarian menuju sekolah.
        Lia, perjuanganmu untuk keluarga tak akan sia-sia. Lihatlah itu, salah diantara bocah-bocah yang berlarian, ibu mereka juga berada jauh di rantau. Ibu mereka sama sepertimu, bekerja di luar negeri untuk membantu keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Engkau adalah satu di antara ribuan pahlawan yang sedang berjuang untuk negeri ini.
        Sepertiku yang dulu berjuang untuk mencari modal masa depan. Mencari penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Enam tahun aku perjuangkan kehidupan yang sekarang kujalani. Kehidupan yang layak dan bisa berbagi dengan yang lain.
        Aku sama sepertimu Lia. Seperti para buruh migran lainnya yang bersusah payah di negeri orang untuk mencari sesuatu yang diinginkan. Rela bersakit-sakit menahan tikaman perasaan yang entah datangnya dari diri pribadi atau orang lain.
        Rela tunduk dan patuh pada peraturan majikan untuk memperjuangkan impian. Terkadang direndahkan dan dilecehkan. Namun, kita harus bangkit. Maju pantang mundur. Karena hidup kita berada di tangan kita.
        “Udah siap Mbak? Ini kan hari pertama training menjahit untuk karyawan baru di pabrik.” tanya Luna, menyadarkanku dari lamunan.
        “Oh iya, semua udah siap, tolong modul yang kemaren kamu print, bawa keruang training ya.”
        “Ok, siap Mbak. Semoga training hari ini lancar dan sukses. Kalau butuh bantuan, panggil aku aja.” Luna berlalu meninggalkan kamar untuk mengambil modul training menjahit di ruang kerjanya.
Pagi ini akan ada lima orang gadis muda lulusan SMP yang mengikuti training. Training yang segajaku selenggarakan untuk menjaring anak-anak muda yang putus sekolah dan membutuhkan pekerjaan.
        Cita-citaku untuk bisa membangun usaha dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi golongan masyarakat menengah ke bawah, kini sudah mulai terlihat perkembangan yang signifikan. Rencana membangun usaha ini sebenarnya sudah kurintis sejak masih bekerja sebagai seorang buruh migran di Hong Kong.
        Sejak awal Luna sangat mendukung rencanaku, walau sebelumnya ibu dan bapak sangsi dengan rencanaku.
        Sejak lima tahun yang lalu ketika aku masih bekerja di Hong Kong, aku mengabdikan diri untuk mewujudkan impianku membangun pabrik garmen ini. Di waktu-waktu senggang kugali bakat terpendam yang ada pada diriku, dan berlatih menjahit. Di hari libur aku ikut kursus menjahit dan sulam, agar bakatku semakin berkembang.
Kini tiga tahun sudah pabrik garmen ini berdiri. Harapanku kedepannya pabrik ini bisa menopang perekonomian keluarga, juga bisa membantu menyediakan lapangan pekerjaan sehingga akan mengurangi angka pengangguran negeri ini, terutama pengangguran di sekitar tempat tinggalku.
***
“Selamat pagi. Selamat bergabung kawan-kawanku semua, mari kita belajar bersama.” sapaku sambil membagikan modul kepada peserta training. Training ini saya bikin tidak terlalu formal. Saya ingin menciptakan suasana akrab, sehingga peserta training akan lebih nyaman dalam belajar.
“Oh iya Mbak, kenalkan nama saya Wina. Saya sama sekali belum tahu apa-apa tentang jahit-menjahit.”
“Oh, itu tak masalah Wina, itulah tujuan saya menggelar training ini. Saya ingin kawan-kawan yang belum bisa, tapi berminat untuk belajar, silahkan kita belajar bersama di sini. Siapa tahu kalian ada teman lain yang berminat, silahkan ajak mereka ke sini, entar siapa diantara kalian yang bisa cepat menguasai materi, kalian akan saya angkat menjadi karyawan di pabrik ini.”
“InsyaAllah, terima kasih Mbak Asri.” jawab Wina dan 4 peserta yang lain. Senangnya hatiku hari ini bisa berbagi dengan mereka. Inilah sesuatu yang kuinginkan selama ini, bisa berbagi dan membuka lapangan pekerjaan sehingga mereka tak usah jauh-jauh bekerja ke luar negeri untuk mencari pekerjaan.
Memang, tidak ada salahnya bekerja di luar negeri, tapi jika di dalam negeri ada lapangan pekerjaan, tentunya semua orang pun memilih untuk bekerja di negeri sendiri, sehingga bisa berkumpul dengan keluarga.
Pukul 12 siang training selesai. Aku segera ke ruang kerja Luna. Dia masih berkutat di depan komputer mengurus dokumentasi pabrik dan menghandel penjualan secara online.
Aku salut kepada adikku yang bersedia membantuku mengelola pabrik ini. Walau sebenarnya minat dia di bidang lain. Aku juga salut kepada karyawan-karyawan lainnya yang bergabung di pabrik ini. Latar belakang mereka semua rata-rata sama denganku, bukan lulusan sarjana. Namun, semangat mereka dan kegigihan merekalah yang membuat pabrik ini semakin meningkat dari hari ke hari.
Dengan kreatifitas dan inovasi-inovasi baru yang kami lakukan untuk usaha ini. Sekarang pabrik ini sudah mempunyai sepuluh karyawan dan menghasilkan prodak pakaian yang semakin berkualitas. Aku yakin, dengan tekad dan kegigihan yang tinggi pabrik garmen ini akan semakin besar dan berkembang.
Yuen Long, 14 Oktober 2013
Juara 2 Lomba Menulis Cerpen yang diadakan Perpus BAI (Bintang Al-Ikhlas) Hong Kong

Selasa, 19 November 2013

Cinta Dua Bersaudara


Oleh: NH. Lulu
        Di tengah malam gulita, halilintar menggelegar, rebut menyambar-nyambar. Aku berlari dengan laki telanjang. Hujan mengguyur tubuhku. Di belakangku, Abil berlari memburu penuh nafsu.
Aku terus berlari, menerjang angin yang bertiup melawan. Dadaku sesak, nafasku tersengal, seolah nyawa sudah di ujung ubun-ubun. Namun, aku masih merasakan degup jantungku yang sangat kencang saat kakiku tiba-tiba terhenti.
“Aaa….!” Teriak orang yang mengejarku. Dia tergelincir dalam selokan jalan yang becek. Dia mabuk. Karena itu kondisi tidak bisa menjaga keseimbangan.
Ini kesempatan buatku. Aku segera berlari sekencang-kencangnya, lalu bersembunyi. Aku bersembunyi di dalam kamar mandi yang ternyata bau pesing. Di situ aku meringkuk, menggigil. Air mataku meleleh bercampur air hujan.
Gelap gulita. Tak ada secercah pun cahaya selain petir yang menyala-nyala dan kemudian kembali gelap. Aku tidak bisa melihat jamur-jamur atau bakteri-bakteri yang tertindas oleh kakiku, bahkan bau busuk ini pun tak membuatku mual berlama-lama di sini karena rasa takut yang meraja, mengalahkan segala logika.
Aku sungguh tidak ingin mati sia-sia ditangannya. Masih banyak mimpi dan cita-cita yang belum tercapai. Masih banyak janji yang belum terpenuhi. Masih banyak salah yang belum sempat kuperbaiki.
***
        Mentari tersenyum di ufuk timur. Sinarnya menerobos ke dinding kayu kamar mandi Pasar Ikan Kota Jogja, membangunkanku yang meringkuk dari tadi malam.
Kepalaku sangat pusing. Mataku berkunang-kunang. Samar-samar terdengar teriakan penjual ikan menawarkan dagangannya kepada pelanggan. Aku beranjak keluar, suasana sudah ramai. Pasar Ikan penuh sesak. Ada ibu-ibu yang heran melihatku basah kuyup keluar dari kamar mandi. Tapi aku tak perduli. Aku menunduk, lalu berjalan setengah berlari. kakiku terhenti tepat di selokan. Semalam selokan ini telah menolongku dari amukan adik kesayangan pujaan hatiku.
        Untung selokan ini menghalagi langkah Abil saat mengejarku. Jika tidak, mungkin sudah tak dapat kulihat lagi kehidupan di bumi ini.
Aku meneruskan langkahku, berjalan menuju rumah kos di Jalan Gajah Mada. Kejadian tadi malam masih menari-nari dalam ingatanku. Masih jelas terbayang saat tiba-tiba Abil menghampiriku yang sedang berjalan pulang dari percetakan tempatku bekerja.
        Dia mengira aku telah mempermainkannya. Dia kira aku telah memanfaatkannya. Tapi bukanlah seperti itu kenyataannya. Sejak kecil aku mencintai Rijal, kakak Abil. Rijal yang kucinta, tapi Abil yang kudapat. Begitulah kejadian yang kualami. Dan mengapa semalam Abil marah kepadaku? Itu karena dia tahu yang sebenarnya bahwa aku mencintai Rijal. Selama ini aku bersedia menjadi kekasihnya karena permintaan Rijal.
Rijal sangat menyayangi adiknya. Dia tidak mau Abil kecewa karena cintanya padaku bertepuk sebelah tangan. Oleh sebab itu, Rijal memintaku menjaga dan menyayangi Abil seperti aku menyayanginya. Tetapi bagaimanapun hati tidak dapat ditipu. Sepintar apa pun aku bersandiwara, akhirnya ketahuan juga.
        Abil mempunyai sikap yang keras, sangat berbeda dengan Rijal. Dia suka bertindak semena-mena, walau kadang dia juga sangat baik. Egois, itu sifat yang paling tidak aku suka dari Abil.
        “Nisya, apa yang terjadi denganmu? Kenapa bajumu, dan di mana sandalmu?” tanya Tika heran melihat aku datang.
        “A…aku, aku semalam kehujanan.” jawabku sekenanya. Aku tak sadar kalau kakiku telanjang. Semalam, saat dikejar-kejar Abil, tak sengaja kulempar dia pakai sandal.
Aku masuk kekamar dan Tika seperti biasa menyusulku.
        “E, e, eh...ada apa ini? Pulang pagi-pagi, pakaian basah kuyup nggak pake sandal, langsung ndlosor maneh.” desak Tika ingin tahu.
        “Abil ingin membunuhku, Ka.”
        “Apa?!” teriak Tika sembari mengambil duduk di sampingku, “Ceritakan apa yang terjadi, Sya.”
        “Mungkin cukup sampai di sini sandiwara ini. Aku sudah lelah, aku nggak bisa lagi berpura-pura mencintainya, karena sesungguhnya bukan dia yang aku cintai, hatiku sakit, Ka. Aku nggak kuat, aku ingin menangis, hiks…hiks….”
        “Apakah Abil sudah tahu semuanya? Kenapa dia bisa tahu? Apakah dia sangat marah padamu? Apakah kamu sudah jelaskan kepadanya?” Tika memberondong pertanyaan yang aku sendiri nggak tahu jawabannya.
Aku hanya menggeleng sambil memeluk Tika, sahabat karibku.
        “Kamu harus bilang sama Rijal, Sya. Biar dia yang menjelaskan kepada Abil, karena ini adalah idenya. Dia harus bertanggung jawab,” usul Tika terburu.
Aku masih terisak dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kepalaku terasa sangat berat. Aku tidak bisa berfikir lagi.
        “Kalau kamu takut, biar aku yang bilang sama Rijal. Dia harus bertanggung jawab atas ide konyol ini,” geram Tika sambil memencet ponselnya menghubungi Rijal.
        “Hello, Rijal. Kamu sudah tahu apa yang terjadi?” tandas Tika tanpa basa-basi.
        “Aku tidak mengerti maksudmu, Tika?” tanya suara di sebrang telepon.
        “Abil sudah tahu sandiwaramu dan Nisya….”
        “Apa! Trus bagaimana dengan Nisya dan Abil?”
        “Sudahlah, Jal. Apakah selama ini kamu mengerti perasaan Nisya? Cukup sampai di sini kau sakiti sahabatku. Urus saja adik kesayanganmu itu.” cetus Tika  sebelum memutus sambungan telepon.
        Aku sudah menduga, sandiwara ini bakal terbongkar. Tapi aku sungguh tidak ingin melihat perang saudara diantara Rijal dan Abil. Abil adalah sahabatku sejak kecil. Walau kadang aku tidak suka dengan pergaulannya yang diluar batas, tapi dia sangat baik kepadaku. Dia tulus mencintaiku, tapi hatiku tetap memilih Rijal. Rijal adalah lelaki penyayang yang aku kagumi, lembut dan bertanggung jawab. Aku tahu Rijal juga merasa bersalah kepadaku. Dia melakukan ini demi kebahagiaan Abil, demi janjinya kepada orang tua angkatnya yang sudah meninggal.
***
        Sore yang mendung, dencitan motor yang berhenti mendadak di depan rumah, mengagetkan Rijal yang sedang mengangkat jemuran di teras. Pria kekar dalam balutan jaket kulit hitam turun dari motornya. Dengan cepat dia lepas helm yang menutup kepalanya, lalu melangkah ke arah Rijal.
        “Kak, apa yang kamu lakukan? Puaskah kau telah merebut kekasih adikmu sendiri.” cecar Abil tanpa basa-basi.
        “Tenang dulu, Bil. Aku akan jelaskan padaku.”
        “Sudahlah Kak! Aku sudah tahu semua tentang sandiwaramu dengan Nisya. Ternyata kamu begitu kejam. Ayah dan ibu pasti sangat kecewa jika mereka tahu apa yang kamu lakukan terhadapku. Ayah sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri, dia membesarkanmu, memenuhi segala kebutuhanmu, dan menjadikanmu seperti sekarang ini. Apa itu semua tidak cukup, sehingga kau rebut kekasihku.”
        “Astagfirullahaladzim…Abil! Jangan sembarangan kalau ngomong,” pekik Rijal tak percaya apa yang dikatakan adiknya.
        “Jangan munafik kamu, Kak. Kamu menyukai Nisya kan?” tanya Abil menikam.
        “A…aku, aku,” gagap Rijal.
        “Kamu nggak bisa jawab, kan? Karena kamu juga menyukai wanita yang aku suka. Pergi kau dari rumahku, ini rumah orang tuaku, dan kamu nggak berhak tinggal di rumah ini lagi.” tandas Abil tanpa memberi kesempatan kepada Rijal untuk menjelaskan semuanya.
Abil masuk kedalam rumah, membuka pintu lebar-lebar, kemudian dihentakkan dengan keras. Brakkkk!
        Mendung yang menggantung menetes menjadi rintik air hujan. Semakin lama semakin deras rinai air hujan mengguyur bumi gersang tanah kehidupan. Rijal berdiri mematung di teras, memandang pias dengan perasaan berkecamuk. Kecewa, perkataan Abil sangat membuatnya sakit hati. Ia tak percaya Abil yang selama ini ia sayangi lebih dari dirinya sendiri berkata seperti itu. Bahkan dia telah merelakanku, wanita yang ia cintai untuk kebahagiaan Abil, tapi kata-kata pahit, pedih, menyayat hati yang dia terima.
        Perlahan bulir bening meleleh dari ujung mata Rijal. Dia merasa nasib begitu kejam. Sejak kecil dia sudah tidak punya siapa-siapa. Kedua orang tuanya meninggal karena bencana alam. Pak Rahmad dan Bu Endah kemudian mengadopsinya karena mereka tidak mempunyai momongan walau mereka sudah sepuluh tahun menikah. Dan ternyata Tuhan memberi mereka buah hati setelah Rijal genap setahun tinggal bersama mereka. Kebahagian tumbuh bersemi dalam rumah tangga Pak Rahmad. Rijal sangat bahagia telah menemukan keluarga baru yang sangat menyayanginya. Dia juga mendapat seorang adik lelaki yang lucu yang selalu bermain dengannya.
        Kini semuanya telah pergi meninggalkannya. Ayah dan ibu angkatnya telah meninggal, dan Abil sekarang pun mengusirnya, hanya karena sebuah kesalah-fahaman. Hubungan persaudaraan mereka putus karena masalah cinta.
        Yah, cinta memang begitulah adanya. Kadang membuat orang bahagia tapi juga kadang membuat orang bersedih. Cinta mampu menyatukan tapi juga bisa memisahkan. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan cinta.

Yuen Long, 27 Februari 2013
Dimuat di Berita Indonesia September 2013

Jodoh Kang Brama


Oleh: NH. Lulu
“Ah, siapa yang mau melarang jika aku mendahului Kang Bram,” desah Bambang dalam kegalauan. “Kalau jodohku datang lebih dulu, apa itu salahku?” lanjutnya berusaha menenangkan diri, mencari-cari alasan untuk mendukung keputusannya menikah mendahului kakak pertamanya.
        “Bang, apa kamu tidak kasihan pada Kang Bram? Melisa kakak perempuanmu sudah melangkahinya, sekarang kamu juga ingin seperti itu?” sosok lelaki itu kembali bicara. Bambang menutup telinganya, memalingkan wajahnya dari lelaki itu. Tapi, dia tak juga berhenti bicara. Sekarang, tidak hanya dia yang bicara, tapi lukisan di dinding, meja, kursi dan lemari seakan ikut bicara, suaranya menggaung-gaung di seluruh penjuru kamarnya, terasa memekakkan telinga.
Bambang mengusap peluh di keningnya, dia membuka jendela kamar untuk mengusir suara-suara itu, suara yang sebenarnya datang dari nuraninya.
        Bu Lutfi dan Brama sedang asyik di depan TV sambil ngemil kacang rebus. Opera Van Java berhasil mengocok perut mereka, sampai Bu Lutfi tersedak karena makan sambil tertawa. Brama menuangkan segelas air untuk Bu Lutfi dan kembali menikmati buyolan Sule dan kawan-kawannya.
        Sudah lama tak terdengar tawa Brama di rumah ini, bahkan suaranya pun jarang terdengar. Brama berubah menjadi sosok lelaki pendiam sejak wanita yang dicintainya meninggal ditabrak kereta api. Suara nyaring yang keluar dari cerobong kereta seakan menelan suara Brama bersama wanita cantik bernama Puspa.
        “Puspa berhenti!!!” teriak Brama dari belakang. Tapi wanita itu tidak menghiraukan teriakan Brama, dia terlalu kesal dengan kekasihnya itu sehingga dia tidak menghiraukan siapa-siapa. Bahkan…dia juga tidak menoleh kanan kiri ketika menyebrangi rel kereta api.
        Dia hanya ingin berlari dan pergi sejauh-jauhnya dari Brama, tak disangka Tuhan segera mewujudkan keinginannya. Kereta Api Algro Bromo yang sedang melintas jalur Weleri-Pekalongan telah melempar badannya sejauh 10 meter dan Puspa tewas seketika.
        Mulut Brama masih menganga ketika orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu berkerumun di lokasi kejadian, darah segar berceceran, tubuh Puspa ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Brama tak berdaya menopang tubuhnya, kakinya lemas tak bertenaga, bersimpuh di samping mayat wanita yang sangat dicintainya. Hatinya remuk redam seperti tubuh mayat di sampingnya. Kesalah-pahaman telah menghancurkan semuanya, menghancurkan cinta dan hati Brama.
        Peristiwa itu sangat mempengaruhi jiwa Brama, ia berubah menjadi sosok lelaki yang pendiam dan pasif, cenderung menutup diri dan menghindar dari pergaulan dengan perempuan. Sampai sekarang ia belum bisa melupakan Puspa, walau 10 tahun sudah wanita itu meninggalkannya.
***
        “Bu, Bambang ingin segera menikah dengan Laila,” tutur Bambang kepada ibunya.
“Kamu sudah mantap? Kenapa harus buru-buru, kamu juga masih muda.” Jawab Bu Lutfi datar sembari memasukkan benang kedalam jarum, hendak memasang kancing baju yang lepas.
“Tapi Laila sudah diburu-buru kedua orang tuanya, Bu. Kalau aku tidak segera meminangnya, dia akan dijodohkan dengan lelaki lain, dan aku tidak mau kehilangan Laila.”
“Kalau memang seperti itu keadaannya, Ibu sih manut saja. Tapi, mintalah restu kepada Kang Bram, bagaimanapun dia adalah kakakmu,” ucapnya.
“Tapi, aku kasihan sama Kang Bram, Bu. Dia yang lebih tua dariku dan Melisa, tapi kami berdua menikah mendahuluinya.”
Tak ada jawaban dari Bu Lutfi, keningnya sedikit berkerut seolah sedang berfikir keras melawan perasaan yang menggelayut dalam hatinya. Bambang memandang kosong ke pintu kamar Brama.
“Kalau memang jodohmu sudah datang, siapa yang bisa menghalangi. Kita semua juga nggak ada yang tahu kapan jodoh itu datang,” ucap Bu Lutfi yang masih sibuk memasang kancing bajunya.
Bambang memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Brama, walau dalam hatinya berkecamuk rasa bersalah kepada kakaknya.
“Dah, tidur Kang?” teriak Bambang di balik pintu.
“Masuk, nggak dikunci kok!” ucap Kang Bram yang sedang tiduran di ranjang. “Ada apa tumben nyariin aku?” lanjutnya.
“Ah, Kang Bram bisa aja. Ini Kang…, Bambang mau minta do’a restu padamu, Kang. Aku ingin meminang Laila.”
“Kok minta restu padaku? Minta saja pada ibu.” jawabnya datar dengan tatapan lurus ke langit-langit kamar.
“Sudah Kang, tapi Bambang juga ingin minta restu dari Kang Bram.”
“Kalau Ibu restu, apa hakku untuk tidak restu?” katanya dingin.
“Maaf Kang, aku lakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan Laila.”
“Sudahlah Bang, aku paham. Lakukan saja apa yang kamu inginkan, jangan sampai kamu menyesal seperti aku.”
“Kang, apakah sampai saat ini, Kang Brama belum bisa melupakan Mbak Puspa?”
“Nggak tahu Bang, aku juga bingung….”
***
        Senja tenggelam di balik pebukitan, malam kian bersolek, cahaya lampu menghias rumah-rumah warga. Di sudut kamarnya Laila sedang berhias tuk menyambut pangeran yang akan membawanya ke pelaminan. Bahagia dan gembira menari-nari di hati, menunggu detik-detik paling bersejarah dalam hidupnya.
        Bambang dan rombongan telah siap, segala perlengkapan dari mas kawin, jajanan, hadiah, dan kambing gemuk yang dari tadi tak berhenti mengembek sudah siap diantar ke rumah Laila. Brama memeluk dan memberikan selamat kepada Bambang sebelum keluar dari pintu rumah. Bu Lutfi memilih tinggal di rumah menemani Brama, dia takut terjadi sesuatu dengannya, bagaimana pun Brama pasti sedih karena semua adik-adiknya sudah mendapatkan jodoh, sementara dia masih terus dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya.
        Waktu yang dijanjikan telah berlalu, Laila mulai gelisah, sudah berkali-kali dia menghubungi ponsel Bambang, tapi nggak ada jawaban. Orang tua Laila dan para tamu undangan ikut resah dalam penantian.
        Ssstttt…suara dencitan roda sepeda motor yang berhenti di depan rumah Laila, menjadi perhatian semua orang. Lelaki jangkung dengan gaya rambut cepak khas TNI itu mematikan sepeda motornya dengan terburu-buru lalu segera berlari.
        “Pak Hadi, ada berita duka Pak.” ucap Ferdi, sahabat Bambang dengan nada serius.
        “Ada apa Nak Ferdi?” Jawab Pak Hadi, ayah Laila.
        “Bambang kecelakaan Pak. Mobil yang ditumpanginya jatuh ke jurang, sekarang mereka dilarikan kerumah sakit Pekalongan.”
        “Astagfirullahaladzim….” ucap Pak Hadi.
        Keluarga besar dan para tamu undangan kaget mendengar kabar ini, Laila menjerit histeris di kamarnya. Suasana menjadi haru biru, Laila memohon kepada ayahnya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
        Dalam perjalanan Laila tak berhenti menangis, Bu Rahma duduk di sebelahnya dan berusaha menenangkannya. Pak Hadi yang duduk di depan sambil mengemudi tak berucap apa-apa, dia fokus mengemudi mobil melintasi jalan utama Kota Wonosobo menuju rumah sakit Pekalongan.
        Satu jam perjalanan, mobil Kijang Pak Hadi telah memasuki halaman rumah sakit, Laila dan ibunya turun dan segera ke ruang informasi.
        “Sus, pasien kecelakaan yang bernama Bambang dimana ya?” tanya Laila.
        “Maaf, Mbak. Pasien Bambang, sudah menghembuskan nafasnya sebelum sampai rumah sakit, dan jenazahnya langsung dibawa kerumah duka,” belum selesai suster bicara, wanita yang terbalut baju pengantin itu tergolek lemas di lantai, Pak Hadi dan Bu Rahma segera datang, mereka segera memapah Laila dan membawanya ke ruang pasien. Dokter memeriksanya dan tak lama kemudian Laila siuman.
        “Bu, Ba…Bambang….” lirih Laila, air matanya mengalir, menghapus olesan make-up pengantin yang ingin ia perlihatkan kepada calon suaminya. Wajah ayu Laila berubah pucat dan lesu. Pak Hadi menunduk pilu, sementara Bu Rahma tak berhenti menangis.
        “Bapak, bolehkah Laila melihat jenazah Mas Bambang,” pinta Laila sambil beranjak duduk. Pak Hadi hanya mengangguk-angguk dia tak kuasa menolak permintaan putrinya.
        Sebelum beranjak dari rumah sakit, Laila, Pak Hadi dan Bu Rahma menjenguk Mbak Melisa dan suaminya yang mengalami luka ringan dalam kecelakaan itu, dan Pak Lik Rusli, supir mobil yang mengalami luka berat masih di ruang UGD.
***
        Malam semakin mencekam, angin dingin menyusup menusuk-nusuk sampai ke tulang sum-sum, Laila berjalan gontai melangkah ke beranda rumah Bambang, Pak Hadi dan Bu Rahma berjalan di belakangnya. Pintu rumah Bambang sudah terbuka, banyak tetangga sedang membaca tahlil, Laila masuk, lalu duduk di sebelah Bu Lutfi di samping jenazah Bambang sambil menangis tersedu-sedu. Bu Lutfi memeluk calon menantunya, terdengar isakan di segala penjuru ruangan menyaksikan momen paling mengharukan ini.
        Laila membuka kain penutup jenazah Bambang yang sudah terbalut kain kafan, senyum berseri terpancar dari wajah mayat Bambang, seperti sebuah cahaya yang tiba-tiba muncul dan menyusup ke relung hati dan menentramkannya, agar ia tabah menerima kepergian calon suaminya.
        Pak Hadi dan Bu Rahma masuk menyusul Laila, Pak Hadi tercengang melihat Brama berada di rumah itu, mereka saling berpandangan.
        “Pak hadi….”
        “Brama…ka-kamu kakaknya Bambang?” tanya Pak Hadi tergagap.
        Brama mengangguk pelan, ternyata Brama adalah lelaki yang ingin dijodohkan dengan Laila, dia menolak perjodohan itu, karena dia tahu Laila adalah kekasih Adiknya. Dan sekarang Pak Hadi memandang penuh harapan kepada Brama untuk tidak menolak permintaannya yang kedua kalinya.
        Seperti itulah jodoh, seperti orang bilang ‘kalau jodoh juga nggak kemana’ jika sudah waktunya jodoh pasti akan datang dan semua nggak bisa mengira dari mana datangnya.

Yuen Long, 28 Februari 2013
Dimuat di Majalah Intai Taiwan, Edisi 84 November 2013

Senin, 11 November 2013

Senyum di Ujung Rindu


Oleh: NH. Lulu

“Dua kali wanita itu memarahiku, mencaci dan menghardikku. Kenapa dia menghakimiku? Apa salahku? Siapa dia sebenarnya, hingga bisa seenaknya saja merendahkanku?” Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk mencari jawaban. Jawaban yang belum pernah kutemukan. Aku mencoba untuk tenang melawan tikaman pertanyaan batin yang terus mengusikku. Di kamar kos yang sempit ini, kutatap lekat ranjang dan kelambu kusam itu. Buku-buku, meja, dan lemari jelek—yang setiap waktu setia menemaniku. Dalam hati kubertanya, apakah tak ada yang lain, tempat dan teman yang lebih baik dari mereka? Ah, pertanyaan konyol itu kembali muncul dalam ruang sunyi ini.
        Kring…kring…!!! Dering telepon butut itu kembali mengangetkanku. Seperti biasa, hanya telepon ibu yang mampu melerai gemuruh rasa di hatiku. Suara ibu laiknya madu dalam ramuan jamu. Meski pahit, setidaknya masih ada sedikit raga legit. Yah, hidupku memang pahit, sejak aku lahir tak pernah melihat sosok ayah. Tetapi, mungkin itu yang terbaik untukku, daripada harus melihat sosok ayah yang tega memukul ibu dan suka bermain dengan wanita lain—seperti yang selama ini dipergunjingkan oleh para tetangga.
Ayah tega meninggalkan ibu, dan membiarkannya membanting tulang untuk membesarkanku. Bahkan sekalipun ayah tak pernah menjengukku, anak kandungnya. Ayah membiarkanku hidup dalam penderitaan dan gunjingan orang sejak aku masih dalam kandungan. Sungguh mengenaskan.
        Telah aku kubur dalam-dalam kenangan tentang ayah, bahkan berkhayal seperti apa wajah ayah, aku pun tak mau. Ibu juga tidak pernah menyinggung perihal ayah. Hanya sekali ibu pernah bilang, bahwa suaminya adalah cinta sejatinya. Meski sekarang suaminya telah pergi, namun ibu tetap mencintainya. Sungguh, aku tak mengerti apa maksudnya? Bukankah suaminya yang telah menelantarkannya ketika ia sedang hamil? Ah…ibu, walau engkau adalah ibuku, tetapi aku tak mengerti jalan pikiranmu.
        “Rena, kamu sudah tidur Nak?” tanya ibu kepadaku.
        “Belum Bu. Rena nggak bisa tidur sebelum mendengar suara ibu.” jawabku manja.
        “Gimana kabarmu hari ini sayang?”
        “Baik Bu. Seperti biasa Rena baik-baik saja.”
        Ah, andai kau tahu Bu, sejak kemaren ada teman sekampus yang mencaci makiku. Tapi aku nggak ingin membuatmu sedih, biarlah kurasakan sendiri sakit ini. Engkau sudah banyak merasakan pahitnya hidup, aku tak ingin menambahkan beban lagi kepadamu. Aku sudah dewasa, aku harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri.
***
        Mendung masih menggantung, saat aku keluar dari rumah kos pagi ini. untuk kesekian kalinya aku tak sengaja bertemu dengannya, dan kami jalan bersama menuju kampus. Tiba-tiba mendung di langit bergemuruh dan jatuh menjadi rintik-rintik hujan. Dengan cepat dia meraih payung lipat dari dalam tas punggungnya dan membiarkanku berteduh di bawahnya. Namun, hujan kian deras, akhirnya kami berteduh di warung kopi tepi jalan.
        Deg…deg…jantungku tiba-tiba berdegup sangat kencang. Aku berdiri sangat dekat dengannya, hingga aku bisa merasakan getar hangat tubuhnya.
        Ini adalah pertama kalinya aku berdiri begitu dekatnya dengannya. Sebelumnya kami hanya jalan beriringan dan bertegur sapa seperlunya. Walau sudah lama aku memperhatikannya, tapi aku tak berani untuk bertanya banyak hal dengannya. Dia terlalu tampan dan keren untuk bergaul denganku. Di kampus banyak cewek mengidolakannya. Mungkin karena dia juga, kemaren ada cewek yang marah-marah tanpa alasan padaku. Cewek itu mengira aku menyukai dia—mahasiswa komunikasi semester 8 itu. Yah, mungkin juga cewek itu ada benarnya. Aku memang menyukainya, entah sejak kapan, aku sendiri tidak tahu. Rasa ini datang begitu saja. Walau aku dan dia hanya bertemu beberapa kali, tapi aku merasakan ada sesuatu. Mungkin aku jatuh cinta kepadanya.
        Dia memang keren, tajir, tapi bukan itu yang membuatku suka kepadanya. Dia sangat baik, sopan, dan berteman kepada siapa saja tanpa memandang bulu. Dan lebih dari itu, kata Mbak Sinta—teman kosku yang sekelas dengannya, dia itu sangat pandai alias jenius. Sungguh sempurnalah sudah lelaki itu. Laiknya bintang bercahaya yang indah memesona.
        Aku sih tahu diri, mana mungkin aku bisa bermimpi menjadi pendampingnya. Sekedar berkenalan saja aku tak punya nyali. Paling juga cintaku bertepuk sebelah tangan, seperti cewek-cewek lain yang mengidolakannya. Walaupun begitu, aku tidak suka jika ada orang yang memakiku seperti Ludya kemaren. Dia juga menyebut-nyebut nama ibu dan ayah. Menjelek-jelekan keluargaku, dan menghina harga diriku.
        “Re! Kamu ngaca ya, kamu itu siapa? Kamu itu nggak pantas sama Reno. Jadi, jangan deket-deket deh sama dia! Pura-pura berangkat bareng segala. Kamu itu jelek, cewek nggak jelas siapa bapaknya. Awas ya kalau masih deket-deketin Reno lagi!” Ancam Ludya penuh amarah.
        “Rena!” Suara Reno memanggil dan membuyarkan lamunanku.
“Oh tidak…dia menyebut namaku. Dari mana dia tahu namaku?” bisikku.
        “Kamu melamun ya? Yuk jalan, udah nggak hujan tuh.”
***
        Waktu seakan begitu cepat berlalu, aku merasa gelisah, takut akan kehilangan sosoknya. Waktu yang aku takutkan adalah saat tiba waktunya dia lulus menjadi sarjana, dan aku tidak akan pernah melihat dia lagi di kampus ini. Tapi ternyata hari yang aku takutkan itu malah menjadi hari bersejarah dalam hidupku. Nggak pernah aku menduga jika dia akan “menembakku” hari itu. Aku seakan nggak percaya, bahwa dia “menembakku”. Selama dua tahun aku kuliah di kampus ini, kenalan dengannya saja aku nggak berani. Kami nggak pernah main bareng, nggak pernah kumpul. Kalau pun saling sapa, itu pun hanya sekedarnya.
        Hari itu aku sedang asyik bercanda ria dengan teman-temanku di depan gedung teather di kampus kami. Dia mengungkapkan cinta kepadaku—Reno sang idola kampus mencintaiku. Dia bilang telah memendam rasa itu sejak pertama berjumpa denganku. Ternyata kami berdua sama-sama ada rasa, tapi kami sama-sama takut untuk mengungkapkannya.
        Bagiku ini adalah sebuah keajaiban. Dan, sejak peristiwa itu terjadi, kampus kami gempar dengan gosip jadian kami. Ada yang pro dan kontra, seperti Ludya, dia sangat iri dan tidak percaya bahwa aku sekarang pacarnya Reno. Apalagi besok ibuku akan pulang dan Reno akan meminangku.
        Hampir enam tahun ibuku bekerja di Hong Kong. Kali ini dia sengaja mengambil cuti untuk menerima pinangan Reno. Ibu sangat merestui hubungan kami. Walau ibu hanya mengenal Reno lewat telepon, tapi ibu sangat menyukainya. Reno memang lelaki yang sempurna. Aku sungguh bahagia bisa mencintai dan dicintainya.
***
        Malam yang kusangka akan menjadi malam terindah karena cinta Reno dan Restu Ibu, ternyata menjadi malam yang paling mencengangkan. Aku sendiri nggak tahu harus sedih atau bahagia. Aku sangat bingung. Kejadian malam itu bagai sepenggal memoar yang selama ini hilang dalam kehidupanku. Kepingan-kepingan rindu ini telah menyatu dan mempertemukan aku kepada “darah” yang selama ini belum pernah aku lihat seumur hidupku.
        Mungkin ini yang namanya takdir, walau telah aku kubur dalam-dalam rinduku kepada “darah”—ayah yang telah menelantarkanku, tapi Tuhan menakdirkan dia muncul kembali di kehidupanku. Pak Rohim bapaknya Reno, adalah ayahku. Dia suami ibu yang telah meninggalkanku sejak aku masih dalam kandungan.
        Malam itu suasana begitu pilu. Tak hanya aku, tapi Reno, Ibu, Pak Rohim juga Bu Wina sangat shock dengan keadaan ini. Air mataku bercucuran tiada henti, membasah semua luka yang dulu pernah mengering. Dalam pelukan ibu aku tersedu, menumpahkan segala rasa yang ada di hatiku. Aku tak perduli dengan orang-orang yang memandangiku. Aku hanya ingin menangis. Menangis sepuasnya. Di ujung ruang tamu kulihat Reno berubah pucat, diam tertunduk layu. Ada setitik embun di ujung matanya. Ada gurat kecewa di rona wajahnya.
Ternyata aku dan Reno adalah saudara kandung. Sebelum ayah menikah dengan ibu, ayah sudah lebih dulu menikah dengan Bu Wina, ibunya Reno. Dua puluh tahun yang lalu, ketika ayah meninggalkan ibu dan pergi bersama wanita simpanannya yang lebih kaya dan cantik dari pada ibu, ayah sering sakit-sakitan. Ayah menjadi lelaki pesakitan yang tidak berguna dan akhirnya wanita simpanannya meninggalkannya.
Pada masa kelam itulah ayah bertemu Bu Wina, istri pertamannya. Bu Wina dengan ikhlas menerima dan memaafkan kesalahan ayah. Berkat pertolongan dan ketulusan hati Bu Wina, ayah sembuh dari penyakitnya juga penyakit buruknya. Ayah meminta maaf kepada Bu Wina dan berjanji akan merubah sikap buruknya. Kemudian ayah dan Bu Wina membangun kembali rumah tangganya yang pernah hancur. Membina keluarga dengan harmonis bersama buah hati tercintanya, Reno.
        Tapi tiba-tiba aku datang di tengah-tengah kebahagiaan keluarga baru mereka. Aku dan ibu yang telah lama terlupakan oleh ayah muncul kembali dalam keadaan yang tidak terduga. Malam itu, sebuah misteri telah terungkap, sebuah hubungan yang telah lama terputus terhubung kembali. Walau pertamanya kami semua tak bisa menerima kenyataan ini, terutama aku, tapi akhirnya kurelakan juga.
        Kurelakan Reno, karena memang cinta kita adalah cinta terlarang. Kami telah salah mengartikan rasa ini, rasa sayang seorang saudara yang kami salah artikan sebagai cinta. Mungkin itulah alasannya kenapa aku dan Reno merasakan sesuatu sejak pertama kita bertemu, dan sesuatu itu adalah tali persaudaraan.
Satu lagi yang kutemukan malam itu, yaitu penawar rindu. Walau tak pernah kuucap, tak pernah kubayang, tapi sejatinya aku rindu kepada Ayah.
“Rena, maafin ayah Nak!” Pinta lelaki itu bersimpuh di depanku. Aku masih terdiam penatapnya nanar. Ada api, juga salju, yang membakar dan membekukan hatiku. Tapi perlahan, kulihat anggukan Ibu, Reno, juga Bu Wati meyakinkanku.
“Ayaaah!” Kupeluk erat tubuhnya dan kuciup takzim tangannya. Lalu Reno mendekat dan mendekapku.
“Rena….”
“Kak Reno….” Kami berpelukan, dan ayah mendekap kami dari belakang. Rasa haru dan bahagia mengalir dalam darahku, ada senyum di ujung rindu di hatiku. J

Hong Kong, 4 Juni 2013
Dimuat di Tabloid APAKABAR Plus Edisi#17ThnVIII*9-22 November 2013

Rabu, 06 November 2013

Coretan Galau!





Orang galau tuh,tersiksa banget ya. Pengen tidur nggak bisa, pengen ngerjain tugas nggak konsen, nglantur dech jadinya. So, kalau entar tulisan ini nggak jelas arahnya kemana, jangan salahkan saya ya! Salahkan aja Si GALAU, hehehehe

Aku yakin, sodara-sodara juga pasti pernah galau, ayo ngaku???
Udah deh...nggak ngaku juga saya tahu kok!

Cinta, ya banyak orang galau gara-gara cinta.
Tugas sekolah, ya banyak orang galau gara-gara tugas sekolah.
Nggak punya duit, ya ya ya saya juga galau kalau nggak punya duit. hehehe

Trus masalahnya apa yang buat saya galau malam hari ini?
Jawabannya mungkin hanya ada seseorang yang tahu. (hmmm...capa tuch?)

Sebenarnya setiap orang itu pasti pernah merasakan galau, entah sebab dan cara mereka mengatasi galau itu berbeda-beda. Kalau saya sendiri memilih menuruti kata hati. Eits...asal masih dalam batas yang wajar ya!
Kalau pengen ngomel ya ngomel, kalau pengen nonton film ya nonton film, kalau pengen nyanyi ya nyanyi, kalau pengen nulis ya nulis, walau hasilnya RAK NGGENAH hehehehe

Asal perlu diingat ya kawan, segalau-galaunya keadaan kita jangan sampai lupa pada Allah. Atau kalau anda lagi galau, ambil aja air wudhu lalu sholat, dzikir, do'a, baca Al-Qur'an pasti JOSSSSS...
Kalau gitu, nulisnya sampai disini saja ya...saya mau ambil wudhu biar tenang, ati adem pikiran ayem :-)

NH.Lulu!



Kamis, 04 Juli 2013

Surat Cinta Seorang Guru

Oleh: NH. Lulu

Sejak kecil aku begitu lincah juga bandel, orang tuaku khawatir melihat perkembanganku yang seperti anak lelaki. Aku paling suka nonton film action dan film kungfu. Waktu masih sekolah aku juga ingin ikut olahraga bela diri tapi orang tua melarangku, namun keinginan itu tak begitu saja surut dari hatiku.
Hasrat ini terus menggebu, mendesau-desau dalam darahku, sampai akhirnya pada suatu sore ketika aku libur kerja, kutemukan selebaran tentang latihan taekwondo. Bagai menemukan berlian jatuh hatiku senang bukan kepalang, segera kuhubungi nomer telepon yang tertera dalam kertas itu dan aku mendaftar ikut latihan hari itu juga.
Betapa semangatnya aku selama ikut latihan taekwondo sampai teman-temanku yang lain terheran-heran.
“Sindu, aku heran denganmu, baru beberapa kali ikut latihan tapi sudah hafal beberapa jurus, kamu juga selalu semangat setiap kali latihan.” Ujar Rina teman latihanku.
“Iya Rin, dari dulu aku ingin ikut olahraga bela diri, tapi baru kesampaian sekarang,” jelasku bersemangat.
Sejak ikut latihan taekwondo, setiap libur kerja pada hari Minggu, waktuku hanya untuk taekwondo, aku tidak mau membuang waktuku untuk jalan-jalan atau sekedar shoping. Aku ingin serius latihan agar aku cepat bisa, mimpiku menjadi wanita tangguh di taekwondo membumbung tinggi membakar semangatku untuk selalu giat latihan. Terbukti ketika mengikuti event lomba, aku berhasil mendapat juara, senangnya tak terkira pengorbanan dan keseriusanku dalam latihan terbayar kontan hari itu juga.
Perlahan tapi pasti, aku mengukir prestasi demi prestasi. Para guru dan teman-temanku kagum akan keberhasilanku hingga akhirnya aku dipercaya menjadi seorang pelatih taekwondo.
***
     “Anak-anak, sebelum kita mulai latihan hari ini, mari kita pemanasan terlebih dahulu.” Panduku kepada anak didikku.
     “Siap Guru!” Koor anak didikku bersemangat.
     Tak mau kalah, aku pun ikut pemanasan melenturkan otot-otot tulangku. Mengayun-ayunkan tangan ke depan ke belakang, mematahkan kepala ke kiri dan ke kanan. Setelah tiga puluh menit pemanasan kami mulai latihan, semangat anak didikku selama latihan taekwondo mengingatkanku pada masa-masa dulu ketika awal aku ikut latihan taekwondo. Wajah-wajah mereka yang masih bingung, dan canggung dalam gerakan taekwondo seperti cermin wajahku 10 tahun yang lalu.
     Sepuluh tahun terjun di taekwondo membuat aku tak bisa lepas darinya, aku tidak bisa meninggalkan taekwondo walau hanya sehari, rasanya ada sesuatu yang kurang dan hilang jika hari Minggu aku nggak ke class taekwondo, perasaan hampa merajaiku.
     “Guru, Minggu kemaren kok nggak ngajar, kemana? Latihan jadi nggak semangat kalau nggak ada Guru Sindu,” cecar anak didikku.
     Lelehan peluh dan helaan nafas tersengal-sengal dihembuskan Randai, anak didikku yang sebentar lagi akan mengikuti ujian naik peringkat. Sudah dua bulan dia mengundur ikut ujian, karena dia belum hafal jurus-jurusnya, tapi dia tidak pernah putus asa, dia sangat antusias dan bersemangat.
Latihan hari ini selesai tepat pukul 7 malam, aku bersama guru pengajar lainnya briefing sebentar untuk mengevaluasi pertemuan kali ini dan setengah jam kemudian ruangan ini sudah kosong.
***
     Aku berjalan gontai menuju stasiun kereta, hatiku gelisah, sesekali aku menoleh kebelakang dan sekitar. Kutatap jalanan yang aku tapaki setiap hari Minggu, rembulan dan gemintang menemaniku setiap kali pulang latihan. Hatiku semakin pilu, ketika wajah Sembara, calon suamiku hadir dalam ingatanku.
     Akankah Sembara mampu menggantikan mereka? Anak didikku, guru-guru pengajar dan master-masterku di taekwondo. Mereka telah mendarah daging dalam tubuhku, sulit untuk melepaskan kenangan bersama mereka. Tapi, disisi lain aku juga ingin menikah, kembali ke kampung halaman dan membina sebuah rumah tangga. Aku sudah menemukan calon suami dan dia sangat mencintaiku.
     Malam semakin larut, semilir angin dingin menerpa wajahku, sunyi dan hening. Sudah beberapa hari ini aku gelisah sejak Sembara menyuruhku pulang dan menikah.
     “Dek, kalau sudah finish kontrak, segera pulang. Kita menikah, apa Dek Sindu tidak kepingin hidup dengan Kang Mas? Dua belas tahun Dek Sindu di Hongkong, sekarang sudah saatnya pulang dan hidup di rumah bersama keluarga.” Pinta Sembara dalam sambungan telepon sebulan yang lalu.
     Tak kuasa setetes bulir bening keluar dari ujung kelopak mataku, aku ingin menikah dengan Sembara, tapi aku juga tidak ingin meninggalkan taekwondo. Keputusan telah kusepakati, Sembara sedang menunggu kepulanganku, tapi apakah dia tahu perasaanku? Apakah teman-teman dan anak didikku mengerti kegelisahan dan ketidakrelaanku meninggalkan mereka. Adakah yang tahu, besarnya cintaku pada taekwondo….
***
     Pagi masih berselimut kabut, fajar mengintip di ufuk timur, semburat jingga perlahan merayap menembus kaca jendela rumah majikanku. Aku sedang membereskan kamar sebelum pergi berlibur, hari ini adalah hari terakhir aku melatih taekwondo, karena besok sore aku akan pulang ke Indonesia.
     Palembang, semua orang-orang tercinta menungguku disana. Orang tuaku, saudaraku, dan calon suamiku. Tapi hatiku sedih meninggalkan anak didikku di taekwondo. Taekwondo sudah menjadi separuh dari tubuhku, jadi jika aku meninggalkan taekwondo berarti aku meninggalkan separuh dari tubuhku.
     Dear My Lovely
     Anak-anakku di taekwondo
     Salam hangat penuh cinta
Hal yang paling membahagiakan adalah saat-saat bersama kalian, berada diantara komunitas yang penuh dengan semangat dan penuh perjuangan. Kalian anak didikku yang telah menjadi bagian dari kehidupanku, walau guru sekarang tidak bisa mendampingi kalian latihan taekwondo, tapi guru selalu mendo’akan kalian. Guru akan selalu merindukan kalian, pesan guru cuma satu, teruslah berprestasi dan berbagi ilmu dengan sesama. Guru akan selalu mengenang kalian dan guru tunggu kabar bahagia dari kalian.
Goodluck!
Love you my lovely….
Guru,
Sindu Rahmawanti
     Sepucuk surat kutinggalkan untuk anak didikku sebelum kakiku melangkah dari tempat perjuangan. Tempatku mengukir prestasi dan menggapai mimpi, tempatku mengajar dan berbagi ilmu. Tempat yang ingin selalu kukunjungi, tapi akankah aku bisa kembali lagi.
     Kini, semua telah terbingkai rapi dalam album kenangan di dalam sanubari. Pesawat Garuda Airline telah membawaku pergi jauh ke ujung daratan bumi pertiwi, tanah kelahiran saksi perjuangan ibu melahirkan seorang bayi lucu bernama Sindu.

Yuen Long, 29 November 2012