Oleh:
NH. Lulu
“Dua
kali wanita itu memarahiku, mencaci dan menghardikku. Kenapa dia menghakimiku?
Apa salahku? Siapa dia sebenarnya, hingga bisa seenaknya saja merendahkanku?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkecamuk mencari jawaban. Jawaban yang belum
pernah kutemukan. Aku mencoba untuk tenang melawan tikaman pertanyaan batin
yang terus mengusikku. Di kamar kos yang sempit ini, kutatap lekat ranjang dan
kelambu kusam itu. Buku-buku, meja, dan lemari jelek—yang setiap waktu setia
menemaniku. Dalam hati kubertanya, apakah tak ada yang lain, tempat dan teman yang
lebih baik dari mereka? Ah, pertanyaan konyol itu kembali muncul dalam ruang
sunyi ini.
Kring…kring…!!!
Dering telepon butut itu kembali mengangetkanku. Seperti biasa, hanya telepon
ibu yang mampu melerai gemuruh rasa di hatiku. Suara ibu laiknya madu dalam
ramuan jamu. Meski pahit, setidaknya masih ada sedikit raga legit. Yah, hidupku memang pahit, sejak aku
lahir tak pernah melihat sosok ayah. Tetapi, mungkin itu yang terbaik untukku,
daripada harus melihat sosok ayah yang tega memukul ibu dan suka bermain dengan
wanita lain—seperti yang selama ini dipergunjingkan oleh para tetangga.
Ayah
tega meninggalkan ibu, dan membiarkannya membanting tulang untuk membesarkanku.
Bahkan sekalipun ayah tak pernah menjengukku, anak kandungnya. Ayah
membiarkanku hidup dalam penderitaan dan gunjingan orang sejak aku masih dalam
kandungan. Sungguh mengenaskan.
Telah aku kubur dalam-dalam kenangan
tentang ayah, bahkan berkhayal seperti apa wajah ayah, aku pun tak mau. Ibu
juga tidak pernah menyinggung perihal ayah. Hanya sekali ibu pernah bilang,
bahwa suaminya adalah cinta sejatinya. Meski sekarang suaminya telah pergi,
namun ibu tetap mencintainya. Sungguh, aku tak mengerti apa maksudnya? Bukankah
suaminya yang telah menelantarkannya ketika ia sedang hamil? Ah…ibu, walau
engkau adalah ibuku, tetapi aku tak mengerti jalan pikiranmu.
“Rena, kamu sudah tidur Nak?” tanya ibu
kepadaku.
“Belum Bu. Rena nggak bisa tidur sebelum
mendengar suara ibu.” jawabku manja.
“Gimana kabarmu hari ini sayang?”
“Baik Bu. Seperti biasa Rena baik-baik
saja.”
Ah, andai kau tahu Bu, sejak kemaren ada
teman sekampus yang mencaci makiku. Tapi aku nggak ingin membuatmu sedih,
biarlah kurasakan sendiri sakit ini. Engkau sudah banyak merasakan pahitnya
hidup, aku tak ingin menambahkan beban lagi kepadamu. Aku sudah dewasa, aku
harus bisa menyelesaikan masalahku sendiri.
***
Mendung masih menggantung, saat aku
keluar dari rumah kos pagi ini. untuk kesekian kalinya aku tak sengaja bertemu
dengannya, dan kami jalan bersama menuju kampus. Tiba-tiba mendung di langit
bergemuruh dan jatuh menjadi rintik-rintik hujan. Dengan cepat dia meraih
payung lipat dari dalam tas punggungnya dan membiarkanku berteduh di bawahnya.
Namun, hujan kian deras, akhirnya kami berteduh di warung kopi tepi jalan.
Deg…deg…jantungku
tiba-tiba berdegup sangat kencang. Aku berdiri sangat dekat dengannya, hingga
aku bisa merasakan getar hangat tubuhnya.
Ini adalah pertama kalinya aku berdiri
begitu dekatnya dengannya. Sebelumnya kami hanya jalan beriringan dan bertegur
sapa seperlunya. Walau sudah lama aku memperhatikannya, tapi aku tak berani
untuk bertanya banyak hal dengannya. Dia terlalu tampan dan keren untuk bergaul
denganku. Di kampus banyak cewek mengidolakannya. Mungkin karena dia juga,
kemaren ada cewek yang marah-marah tanpa alasan padaku. Cewek itu mengira aku
menyukai dia—mahasiswa komunikasi semester 8 itu. Yah, mungkin juga cewek itu ada benarnya. Aku memang menyukainya,
entah sejak kapan, aku sendiri tidak tahu. Rasa
ini datang begitu saja. Walau aku dan dia hanya bertemu beberapa kali, tapi aku
merasakan ada sesuatu. Mungkin aku
jatuh cinta kepadanya.
Dia memang keren, tajir, tapi bukan itu
yang membuatku suka kepadanya. Dia sangat baik, sopan, dan berteman kepada
siapa saja tanpa memandang bulu. Dan lebih dari itu, kata Mbak Sinta—teman kosku
yang sekelas dengannya, dia itu sangat pandai alias jenius. Sungguh sempurnalah
sudah lelaki itu. Laiknya bintang bercahaya yang indah memesona.
Aku sih tahu diri, mana mungkin aku bisa
bermimpi menjadi pendampingnya. Sekedar berkenalan saja aku tak punya nyali.
Paling juga cintaku bertepuk sebelah tangan, seperti cewek-cewek lain yang
mengidolakannya. Walaupun begitu, aku tidak suka jika ada orang yang memakiku
seperti Ludya kemaren. Dia juga menyebut-nyebut nama ibu dan ayah. Menjelek-jelekan
keluargaku, dan menghina harga diriku.
“Re! Kamu ngaca ya, kamu itu siapa? Kamu
itu nggak pantas sama Reno. Jadi, jangan deket-deket deh sama dia! Pura-pura
berangkat bareng segala. Kamu itu jelek, cewek nggak jelas siapa bapaknya. Awas
ya kalau masih deket-deketin Reno lagi!” Ancam Ludya penuh amarah.
“Rena!” Suara Reno memanggil dan
membuyarkan lamunanku.
“Oh
tidak…dia menyebut namaku. Dari mana dia tahu namaku?” bisikku.
“Kamu melamun ya? Yuk jalan, udah nggak
hujan tuh.”
***
Waktu seakan begitu cepat berlalu, aku
merasa gelisah, takut akan kehilangan sosoknya. Waktu yang aku takutkan adalah
saat tiba waktunya dia lulus menjadi sarjana, dan aku tidak akan pernah melihat
dia lagi di kampus ini. Tapi ternyata hari yang aku takutkan itu malah menjadi
hari bersejarah dalam hidupku. Nggak pernah aku menduga jika dia akan “menembakku”
hari itu. Aku seakan nggak percaya, bahwa dia “menembakku”. Selama dua tahun
aku kuliah di kampus ini, kenalan dengannya saja aku nggak berani. Kami nggak
pernah main bareng, nggak pernah kumpul. Kalau pun saling sapa, itu pun hanya
sekedarnya.
Hari itu aku sedang asyik bercanda ria
dengan teman-temanku di depan gedung teather di kampus kami. Dia mengungkapkan
cinta kepadaku—Reno sang idola kampus mencintaiku. Dia bilang telah memendam rasa itu sejak pertama berjumpa
denganku. Ternyata kami berdua sama-sama ada rasa, tapi kami sama-sama takut untuk mengungkapkannya.
Bagiku ini adalah sebuah keajaiban. Dan,
sejak peristiwa itu terjadi, kampus kami gempar dengan gosip jadian kami. Ada
yang pro dan kontra, seperti Ludya, dia sangat iri dan tidak percaya bahwa aku
sekarang pacarnya Reno. Apalagi besok ibuku akan pulang dan Reno akan
meminangku.
Hampir enam tahun ibuku bekerja di Hong
Kong. Kali ini dia sengaja mengambil cuti untuk menerima pinangan Reno. Ibu
sangat merestui hubungan kami. Walau ibu hanya mengenal Reno lewat telepon,
tapi ibu sangat menyukainya. Reno memang lelaki yang sempurna. Aku sungguh
bahagia bisa mencintai dan dicintainya.
***
Malam yang kusangka akan menjadi malam
terindah karena cinta Reno dan Restu Ibu, ternyata menjadi malam yang paling
mencengangkan. Aku sendiri nggak tahu harus sedih atau bahagia. Aku sangat
bingung. Kejadian malam itu bagai sepenggal memoar yang selama ini hilang dalam
kehidupanku. Kepingan-kepingan rindu ini telah menyatu dan mempertemukan aku
kepada “darah” yang selama ini belum pernah aku lihat seumur hidupku.
Mungkin ini yang namanya takdir, walau
telah aku kubur dalam-dalam rinduku kepada “darah”—ayah yang telah
menelantarkanku, tapi Tuhan menakdirkan dia muncul kembali di kehidupanku. Pak
Rohim bapaknya Reno, adalah ayahku. Dia suami ibu yang telah meninggalkanku
sejak aku masih dalam kandungan.
Malam itu suasana begitu pilu. Tak hanya
aku, tapi Reno, Ibu, Pak Rohim juga Bu Wina sangat shock dengan keadaan ini. Air mataku bercucuran tiada henti,
membasah semua luka yang dulu pernah mengering. Dalam pelukan ibu aku tersedu,
menumpahkan segala rasa yang ada di hatiku. Aku tak perduli dengan orang-orang
yang memandangiku. Aku hanya ingin menangis. Menangis sepuasnya. Di ujung ruang
tamu kulihat Reno berubah pucat, diam tertunduk layu. Ada setitik embun di
ujung matanya. Ada gurat kecewa di rona wajahnya.
Ternyata aku dan Reno
adalah saudara kandung. Sebelum ayah menikah dengan ibu, ayah sudah lebih dulu
menikah dengan Bu Wina, ibunya Reno. Dua puluh tahun yang lalu, ketika ayah
meninggalkan ibu dan pergi bersama wanita simpanannya yang lebih kaya dan
cantik dari pada ibu, ayah sering sakit-sakitan. Ayah menjadi lelaki pesakitan
yang tidak berguna dan akhirnya wanita simpanannya meninggalkannya.
Pada
masa kelam itulah ayah bertemu Bu Wina, istri pertamannya. Bu Wina dengan
ikhlas menerima dan memaafkan kesalahan ayah. Berkat pertolongan dan ketulusan
hati Bu Wina, ayah sembuh dari penyakitnya juga penyakit buruknya. Ayah meminta
maaf kepada Bu Wina dan berjanji akan merubah sikap buruknya. Kemudian ayah dan
Bu Wina membangun kembali rumah tangganya yang pernah hancur. Membina keluarga
dengan harmonis bersama buah hati tercintanya, Reno.
Tapi tiba-tiba aku datang di
tengah-tengah kebahagiaan keluarga baru mereka. Aku dan ibu yang telah lama
terlupakan oleh ayah muncul kembali dalam keadaan yang tidak terduga. Malam
itu, sebuah misteri telah terungkap, sebuah hubungan yang telah lama terputus
terhubung kembali. Walau pertamanya kami semua tak bisa menerima kenyataan ini,
terutama aku, tapi akhirnya kurelakan juga.
Kurelakan Reno, karena memang cinta kita
adalah cinta terlarang. Kami telah salah mengartikan rasa ini, rasa sayang
seorang saudara yang kami salah artikan sebagai cinta. Mungkin itulah alasannya
kenapa aku dan Reno merasakan sesuatu
sejak pertama kita bertemu, dan sesuatu itu adalah tali persaudaraan.
Satu
lagi yang kutemukan malam itu, yaitu penawar rindu. Walau tak pernah kuucap,
tak pernah kubayang, tapi sejatinya aku rindu kepada Ayah.
“Rena,
maafin ayah Nak!” Pinta lelaki itu bersimpuh di depanku. Aku masih terdiam
penatapnya nanar. Ada api, juga salju, yang membakar dan membekukan hatiku.
Tapi perlahan, kulihat anggukan Ibu, Reno, juga Bu Wati meyakinkanku.
“Ayaaah!”
Kupeluk erat tubuhnya dan kuciup takzim tangannya. Lalu Reno mendekat dan
mendekapku.
“Rena….”
“Kak
Reno….” Kami berpelukan, dan ayah mendekap kami dari belakang. Rasa haru dan
bahagia mengalir dalam darahku, ada senyum di ujung rindu di hatiku. J
Hong Kong, 4 Juni 2013
Dimuat di Tabloid APAKABAR Plus Edisi#17ThnVIII*9-22 November 2013





0 komentar:
Posting Komentar