Selasa, 19 November 2013

Cinta Dua Bersaudara


Oleh: NH. Lulu
        Di tengah malam gulita, halilintar menggelegar, rebut menyambar-nyambar. Aku berlari dengan laki telanjang. Hujan mengguyur tubuhku. Di belakangku, Abil berlari memburu penuh nafsu.
Aku terus berlari, menerjang angin yang bertiup melawan. Dadaku sesak, nafasku tersengal, seolah nyawa sudah di ujung ubun-ubun. Namun, aku masih merasakan degup jantungku yang sangat kencang saat kakiku tiba-tiba terhenti.
“Aaa….!” Teriak orang yang mengejarku. Dia tergelincir dalam selokan jalan yang becek. Dia mabuk. Karena itu kondisi tidak bisa menjaga keseimbangan.
Ini kesempatan buatku. Aku segera berlari sekencang-kencangnya, lalu bersembunyi. Aku bersembunyi di dalam kamar mandi yang ternyata bau pesing. Di situ aku meringkuk, menggigil. Air mataku meleleh bercampur air hujan.
Gelap gulita. Tak ada secercah pun cahaya selain petir yang menyala-nyala dan kemudian kembali gelap. Aku tidak bisa melihat jamur-jamur atau bakteri-bakteri yang tertindas oleh kakiku, bahkan bau busuk ini pun tak membuatku mual berlama-lama di sini karena rasa takut yang meraja, mengalahkan segala logika.
Aku sungguh tidak ingin mati sia-sia ditangannya. Masih banyak mimpi dan cita-cita yang belum tercapai. Masih banyak janji yang belum terpenuhi. Masih banyak salah yang belum sempat kuperbaiki.
***
        Mentari tersenyum di ufuk timur. Sinarnya menerobos ke dinding kayu kamar mandi Pasar Ikan Kota Jogja, membangunkanku yang meringkuk dari tadi malam.
Kepalaku sangat pusing. Mataku berkunang-kunang. Samar-samar terdengar teriakan penjual ikan menawarkan dagangannya kepada pelanggan. Aku beranjak keluar, suasana sudah ramai. Pasar Ikan penuh sesak. Ada ibu-ibu yang heran melihatku basah kuyup keluar dari kamar mandi. Tapi aku tak perduli. Aku menunduk, lalu berjalan setengah berlari. kakiku terhenti tepat di selokan. Semalam selokan ini telah menolongku dari amukan adik kesayangan pujaan hatiku.
        Untung selokan ini menghalagi langkah Abil saat mengejarku. Jika tidak, mungkin sudah tak dapat kulihat lagi kehidupan di bumi ini.
Aku meneruskan langkahku, berjalan menuju rumah kos di Jalan Gajah Mada. Kejadian tadi malam masih menari-nari dalam ingatanku. Masih jelas terbayang saat tiba-tiba Abil menghampiriku yang sedang berjalan pulang dari percetakan tempatku bekerja.
        Dia mengira aku telah mempermainkannya. Dia kira aku telah memanfaatkannya. Tapi bukanlah seperti itu kenyataannya. Sejak kecil aku mencintai Rijal, kakak Abil. Rijal yang kucinta, tapi Abil yang kudapat. Begitulah kejadian yang kualami. Dan mengapa semalam Abil marah kepadaku? Itu karena dia tahu yang sebenarnya bahwa aku mencintai Rijal. Selama ini aku bersedia menjadi kekasihnya karena permintaan Rijal.
Rijal sangat menyayangi adiknya. Dia tidak mau Abil kecewa karena cintanya padaku bertepuk sebelah tangan. Oleh sebab itu, Rijal memintaku menjaga dan menyayangi Abil seperti aku menyayanginya. Tetapi bagaimanapun hati tidak dapat ditipu. Sepintar apa pun aku bersandiwara, akhirnya ketahuan juga.
        Abil mempunyai sikap yang keras, sangat berbeda dengan Rijal. Dia suka bertindak semena-mena, walau kadang dia juga sangat baik. Egois, itu sifat yang paling tidak aku suka dari Abil.
        “Nisya, apa yang terjadi denganmu? Kenapa bajumu, dan di mana sandalmu?” tanya Tika heran melihat aku datang.
        “A…aku, aku semalam kehujanan.” jawabku sekenanya. Aku tak sadar kalau kakiku telanjang. Semalam, saat dikejar-kejar Abil, tak sengaja kulempar dia pakai sandal.
Aku masuk kekamar dan Tika seperti biasa menyusulku.
        “E, e, eh...ada apa ini? Pulang pagi-pagi, pakaian basah kuyup nggak pake sandal, langsung ndlosor maneh.” desak Tika ingin tahu.
        “Abil ingin membunuhku, Ka.”
        “Apa?!” teriak Tika sembari mengambil duduk di sampingku, “Ceritakan apa yang terjadi, Sya.”
        “Mungkin cukup sampai di sini sandiwara ini. Aku sudah lelah, aku nggak bisa lagi berpura-pura mencintainya, karena sesungguhnya bukan dia yang aku cintai, hatiku sakit, Ka. Aku nggak kuat, aku ingin menangis, hiks…hiks….”
        “Apakah Abil sudah tahu semuanya? Kenapa dia bisa tahu? Apakah dia sangat marah padamu? Apakah kamu sudah jelaskan kepadanya?” Tika memberondong pertanyaan yang aku sendiri nggak tahu jawabannya.
Aku hanya menggeleng sambil memeluk Tika, sahabat karibku.
        “Kamu harus bilang sama Rijal, Sya. Biar dia yang menjelaskan kepada Abil, karena ini adalah idenya. Dia harus bertanggung jawab,” usul Tika terburu.
Aku masih terisak dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kepalaku terasa sangat berat. Aku tidak bisa berfikir lagi.
        “Kalau kamu takut, biar aku yang bilang sama Rijal. Dia harus bertanggung jawab atas ide konyol ini,” geram Tika sambil memencet ponselnya menghubungi Rijal.
        “Hello, Rijal. Kamu sudah tahu apa yang terjadi?” tandas Tika tanpa basa-basi.
        “Aku tidak mengerti maksudmu, Tika?” tanya suara di sebrang telepon.
        “Abil sudah tahu sandiwaramu dan Nisya….”
        “Apa! Trus bagaimana dengan Nisya dan Abil?”
        “Sudahlah, Jal. Apakah selama ini kamu mengerti perasaan Nisya? Cukup sampai di sini kau sakiti sahabatku. Urus saja adik kesayanganmu itu.” cetus Tika  sebelum memutus sambungan telepon.
        Aku sudah menduga, sandiwara ini bakal terbongkar. Tapi aku sungguh tidak ingin melihat perang saudara diantara Rijal dan Abil. Abil adalah sahabatku sejak kecil. Walau kadang aku tidak suka dengan pergaulannya yang diluar batas, tapi dia sangat baik kepadaku. Dia tulus mencintaiku, tapi hatiku tetap memilih Rijal. Rijal adalah lelaki penyayang yang aku kagumi, lembut dan bertanggung jawab. Aku tahu Rijal juga merasa bersalah kepadaku. Dia melakukan ini demi kebahagiaan Abil, demi janjinya kepada orang tua angkatnya yang sudah meninggal.
***
        Sore yang mendung, dencitan motor yang berhenti mendadak di depan rumah, mengagetkan Rijal yang sedang mengangkat jemuran di teras. Pria kekar dalam balutan jaket kulit hitam turun dari motornya. Dengan cepat dia lepas helm yang menutup kepalanya, lalu melangkah ke arah Rijal.
        “Kak, apa yang kamu lakukan? Puaskah kau telah merebut kekasih adikmu sendiri.” cecar Abil tanpa basa-basi.
        “Tenang dulu, Bil. Aku akan jelaskan padaku.”
        “Sudahlah Kak! Aku sudah tahu semua tentang sandiwaramu dengan Nisya. Ternyata kamu begitu kejam. Ayah dan ibu pasti sangat kecewa jika mereka tahu apa yang kamu lakukan terhadapku. Ayah sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri, dia membesarkanmu, memenuhi segala kebutuhanmu, dan menjadikanmu seperti sekarang ini. Apa itu semua tidak cukup, sehingga kau rebut kekasihku.”
        “Astagfirullahaladzim…Abil! Jangan sembarangan kalau ngomong,” pekik Rijal tak percaya apa yang dikatakan adiknya.
        “Jangan munafik kamu, Kak. Kamu menyukai Nisya kan?” tanya Abil menikam.
        “A…aku, aku,” gagap Rijal.
        “Kamu nggak bisa jawab, kan? Karena kamu juga menyukai wanita yang aku suka. Pergi kau dari rumahku, ini rumah orang tuaku, dan kamu nggak berhak tinggal di rumah ini lagi.” tandas Abil tanpa memberi kesempatan kepada Rijal untuk menjelaskan semuanya.
Abil masuk kedalam rumah, membuka pintu lebar-lebar, kemudian dihentakkan dengan keras. Brakkkk!
        Mendung yang menggantung menetes menjadi rintik air hujan. Semakin lama semakin deras rinai air hujan mengguyur bumi gersang tanah kehidupan. Rijal berdiri mematung di teras, memandang pias dengan perasaan berkecamuk. Kecewa, perkataan Abil sangat membuatnya sakit hati. Ia tak percaya Abil yang selama ini ia sayangi lebih dari dirinya sendiri berkata seperti itu. Bahkan dia telah merelakanku, wanita yang ia cintai untuk kebahagiaan Abil, tapi kata-kata pahit, pedih, menyayat hati yang dia terima.
        Perlahan bulir bening meleleh dari ujung mata Rijal. Dia merasa nasib begitu kejam. Sejak kecil dia sudah tidak punya siapa-siapa. Kedua orang tuanya meninggal karena bencana alam. Pak Rahmad dan Bu Endah kemudian mengadopsinya karena mereka tidak mempunyai momongan walau mereka sudah sepuluh tahun menikah. Dan ternyata Tuhan memberi mereka buah hati setelah Rijal genap setahun tinggal bersama mereka. Kebahagian tumbuh bersemi dalam rumah tangga Pak Rahmad. Rijal sangat bahagia telah menemukan keluarga baru yang sangat menyayanginya. Dia juga mendapat seorang adik lelaki yang lucu yang selalu bermain dengannya.
        Kini semuanya telah pergi meninggalkannya. Ayah dan ibu angkatnya telah meninggal, dan Abil sekarang pun mengusirnya, hanya karena sebuah kesalah-fahaman. Hubungan persaudaraan mereka putus karena masalah cinta.
        Yah, cinta memang begitulah adanya. Kadang membuat orang bahagia tapi juga kadang membuat orang bersedih. Cinta mampu menyatukan tapi juga bisa memisahkan. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan cinta.

Yuen Long, 27 Februari 2013
Dimuat di Berita Indonesia September 2013

0 komentar:

Posting Komentar