Oleh: NH. Lulu
Di tengah malam gulita, halilintar
menggelegar, rebut menyambar-nyambar. Aku berlari dengan laki telanjang. Hujan
mengguyur tubuhku. Di belakangku, Abil berlari memburu penuh nafsu.
Aku
terus berlari, menerjang angin yang bertiup melawan. Dadaku sesak, nafasku
tersengal, seolah nyawa sudah di ujung ubun-ubun. Namun, aku masih merasakan
degup jantungku yang sangat kencang saat kakiku tiba-tiba terhenti.
“Aaa….!”
Teriak orang yang mengejarku. Dia tergelincir dalam selokan jalan yang becek.
Dia mabuk. Karena itu kondisi tidak bisa menjaga keseimbangan.
Ini
kesempatan buatku. Aku segera berlari sekencang-kencangnya, lalu bersembunyi.
Aku bersembunyi di dalam kamar mandi yang ternyata bau pesing. Di situ aku
meringkuk, menggigil. Air mataku meleleh bercampur air hujan.
Gelap
gulita. Tak ada secercah pun cahaya selain petir yang menyala-nyala dan
kemudian kembali gelap. Aku tidak bisa melihat jamur-jamur atau bakteri-bakteri
yang tertindas oleh kakiku, bahkan bau busuk ini pun tak membuatku mual
berlama-lama di sini karena rasa takut yang meraja, mengalahkan segala logika.
Aku
sungguh tidak ingin mati sia-sia ditangannya. Masih banyak mimpi dan cita-cita
yang belum tercapai. Masih banyak janji yang belum terpenuhi. Masih banyak
salah yang belum sempat kuperbaiki.
***
Mentari tersenyum di ufuk timur. Sinarnya
menerobos ke dinding kayu kamar mandi Pasar Ikan Kota Jogja, membangunkanku
yang meringkuk dari tadi malam.
Kepalaku
sangat pusing. Mataku berkunang-kunang. Samar-samar terdengar teriakan penjual
ikan menawarkan dagangannya kepada pelanggan. Aku beranjak keluar, suasana
sudah ramai. Pasar Ikan penuh sesak. Ada ibu-ibu yang heran melihatku basah
kuyup keluar dari kamar mandi. Tapi aku tak perduli. Aku menunduk, lalu
berjalan setengah berlari. kakiku terhenti tepat di selokan. Semalam selokan
ini telah menolongku dari amukan adik kesayangan pujaan hatiku.
Untung selokan ini menghalagi langkah
Abil saat mengejarku. Jika tidak, mungkin sudah tak dapat kulihat lagi
kehidupan di bumi ini.
Aku
meneruskan langkahku, berjalan menuju rumah kos di Jalan Gajah Mada. Kejadian
tadi malam masih menari-nari dalam ingatanku. Masih jelas terbayang saat
tiba-tiba Abil menghampiriku yang sedang berjalan pulang dari percetakan
tempatku bekerja.
Dia mengira aku telah mempermainkannya.
Dia kira aku telah memanfaatkannya. Tapi bukanlah seperti itu kenyataannya.
Sejak kecil aku mencintai Rijal, kakak Abil. Rijal yang kucinta, tapi Abil yang
kudapat. Begitulah kejadian yang kualami. Dan mengapa semalam Abil marah
kepadaku? Itu karena dia tahu yang sebenarnya bahwa aku mencintai Rijal. Selama
ini aku bersedia menjadi kekasihnya karena permintaan Rijal.
Rijal
sangat menyayangi adiknya. Dia tidak mau Abil kecewa karena cintanya padaku
bertepuk sebelah tangan. Oleh sebab itu, Rijal memintaku menjaga dan menyayangi
Abil seperti aku menyayanginya. Tetapi bagaimanapun hati tidak dapat ditipu. Sepintar
apa pun aku bersandiwara, akhirnya ketahuan juga.
Abil mempunyai sikap yang keras, sangat
berbeda dengan Rijal. Dia suka bertindak semena-mena, walau kadang dia juga
sangat baik. Egois, itu sifat yang paling tidak aku suka dari Abil.
“Nisya, apa yang terjadi denganmu?
Kenapa bajumu, dan di mana sandalmu?” tanya Tika heran melihat aku datang.
“A…aku, aku semalam kehujanan.” jawabku
sekenanya. Aku tak sadar kalau kakiku telanjang. Semalam, saat dikejar-kejar Abil,
tak sengaja kulempar dia pakai sandal.
Aku
masuk kekamar dan Tika seperti biasa menyusulku.
“E, e, eh...ada apa ini? Pulang
pagi-pagi, pakaian basah kuyup nggak pake
sandal, langsung ndlosor maneh.” desak
Tika ingin tahu.
“Abil ingin membunuhku, Ka.”
“Apa?!” teriak Tika sembari mengambil
duduk di sampingku, “Ceritakan apa yang terjadi, Sya.”
“Mungkin cukup sampai di sini sandiwara
ini. Aku sudah lelah, aku nggak bisa lagi berpura-pura mencintainya, karena
sesungguhnya bukan dia yang aku cintai, hatiku sakit, Ka. Aku nggak kuat, aku
ingin menangis, hiks…hiks….”
“Apakah Abil sudah tahu semuanya? Kenapa
dia bisa tahu? Apakah dia sangat marah padamu? Apakah kamu sudah jelaskan
kepadanya?” Tika memberondong pertanyaan yang aku sendiri nggak tahu
jawabannya.
Aku
hanya menggeleng sambil memeluk Tika, sahabat karibku.
“Kamu harus bilang sama Rijal, Sya. Biar
dia yang menjelaskan kepada Abil, karena ini adalah idenya. Dia harus
bertanggung jawab,” usul Tika terburu.
Aku
masih terisak dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Kepalaku terasa sangat
berat. Aku tidak bisa berfikir lagi.
“Kalau kamu takut, biar aku yang bilang
sama Rijal. Dia harus bertanggung jawab atas ide konyol ini,” geram Tika sambil
memencet ponselnya menghubungi Rijal.
“Hello, Rijal. Kamu sudah tahu apa yang
terjadi?” tandas Tika tanpa basa-basi.
“Aku tidak mengerti maksudmu, Tika?” tanya
suara di sebrang telepon.
“Abil sudah tahu sandiwaramu dan
Nisya….”
“Apa! Trus bagaimana dengan Nisya dan
Abil?”
“Sudahlah, Jal. Apakah selama ini kamu
mengerti perasaan Nisya? Cukup sampai di sini kau sakiti sahabatku. Urus saja
adik kesayanganmu itu.” cetus Tika sebelum
memutus sambungan telepon.
Aku sudah menduga, sandiwara ini bakal
terbongkar. Tapi aku sungguh tidak ingin melihat perang saudara diantara Rijal
dan Abil. Abil adalah sahabatku sejak kecil. Walau kadang aku tidak suka dengan
pergaulannya yang diluar batas, tapi dia sangat baik kepadaku. Dia tulus
mencintaiku, tapi hatiku tetap memilih Rijal. Rijal adalah lelaki penyayang
yang aku kagumi, lembut dan bertanggung jawab. Aku tahu Rijal juga merasa
bersalah kepadaku. Dia melakukan ini demi kebahagiaan Abil, demi janjinya kepada
orang tua angkatnya yang sudah meninggal.
***
Sore yang mendung, dencitan motor yang
berhenti mendadak di depan rumah, mengagetkan Rijal yang sedang mengangkat
jemuran di teras. Pria kekar dalam balutan jaket kulit hitam turun dari
motornya. Dengan cepat dia lepas helm yang menutup kepalanya, lalu melangkah ke
arah Rijal.
“Kak, apa yang kamu lakukan? Puaskah kau
telah merebut kekasih adikmu sendiri.” cecar Abil tanpa basa-basi.
“Tenang dulu, Bil. Aku akan jelaskan
padaku.”
“Sudahlah Kak! Aku sudah tahu semua
tentang sandiwaramu dengan Nisya. Ternyata kamu begitu kejam. Ayah dan ibu
pasti sangat kecewa jika mereka tahu apa yang kamu lakukan terhadapku. Ayah
sudah menganggapmu seperti anaknya sendiri, dia membesarkanmu, memenuhi segala
kebutuhanmu, dan menjadikanmu seperti sekarang ini. Apa itu semua tidak cukup,
sehingga kau rebut kekasihku.”
“Astagfirullahaladzim…Abil! Jangan
sembarangan kalau ngomong,” pekik Rijal tak percaya apa yang dikatakan adiknya.
“Jangan munafik kamu, Kak. Kamu menyukai
Nisya kan?” tanya Abil menikam.
“A…aku, aku,” gagap Rijal.
“Kamu nggak bisa jawab, kan? Karena kamu
juga menyukai wanita yang aku suka. Pergi kau dari rumahku, ini rumah orang
tuaku, dan kamu nggak berhak tinggal di rumah ini lagi.” tandas Abil tanpa
memberi kesempatan kepada Rijal untuk menjelaskan semuanya.
Abil
masuk kedalam rumah, membuka pintu lebar-lebar, kemudian dihentakkan dengan
keras. Brakkkk!
Mendung yang menggantung menetes menjadi
rintik air hujan. Semakin lama semakin deras rinai air hujan mengguyur bumi
gersang tanah kehidupan. Rijal berdiri mematung di teras, memandang pias dengan
perasaan berkecamuk. Kecewa, perkataan Abil sangat membuatnya sakit hati. Ia
tak percaya Abil yang selama ini ia sayangi lebih dari dirinya sendiri berkata
seperti itu. Bahkan dia telah merelakanku, wanita yang ia cintai untuk
kebahagiaan Abil, tapi kata-kata pahit, pedih, menyayat hati yang dia terima.
Perlahan bulir bening meleleh dari ujung
mata Rijal. Dia merasa nasib begitu kejam. Sejak kecil dia sudah tidak punya
siapa-siapa. Kedua orang tuanya meninggal karena bencana alam. Pak Rahmad dan
Bu Endah kemudian mengadopsinya karena mereka tidak mempunyai momongan walau
mereka sudah sepuluh tahun menikah. Dan ternyata Tuhan memberi mereka buah hati
setelah Rijal genap setahun tinggal bersama mereka. Kebahagian tumbuh bersemi
dalam rumah tangga Pak Rahmad. Rijal sangat bahagia telah menemukan keluarga
baru yang sangat menyayanginya. Dia juga mendapat seorang adik lelaki yang lucu
yang selalu bermain dengannya.
Kini semuanya telah pergi
meninggalkannya. Ayah dan ibu angkatnya telah meninggal, dan Abil sekarang pun
mengusirnya, hanya karena sebuah kesalah-fahaman. Hubungan persaudaraan mereka
putus karena masalah cinta.
Yah, cinta memang begitulah adanya. Kadang
membuat orang bahagia tapi juga kadang membuat orang bersedih. Cinta mampu
menyatukan tapi juga bisa memisahkan. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan
cinta.
Yuen
Long, 27 Februari 2013
Dimuat di Berita Indonesia September 2013





0 komentar:
Posting Komentar