Selasa, 19 November 2013

Jodoh Kang Brama


Oleh: NH. Lulu
“Ah, siapa yang mau melarang jika aku mendahului Kang Bram,” desah Bambang dalam kegalauan. “Kalau jodohku datang lebih dulu, apa itu salahku?” lanjutnya berusaha menenangkan diri, mencari-cari alasan untuk mendukung keputusannya menikah mendahului kakak pertamanya.
        “Bang, apa kamu tidak kasihan pada Kang Bram? Melisa kakak perempuanmu sudah melangkahinya, sekarang kamu juga ingin seperti itu?” sosok lelaki itu kembali bicara. Bambang menutup telinganya, memalingkan wajahnya dari lelaki itu. Tapi, dia tak juga berhenti bicara. Sekarang, tidak hanya dia yang bicara, tapi lukisan di dinding, meja, kursi dan lemari seakan ikut bicara, suaranya menggaung-gaung di seluruh penjuru kamarnya, terasa memekakkan telinga.
Bambang mengusap peluh di keningnya, dia membuka jendela kamar untuk mengusir suara-suara itu, suara yang sebenarnya datang dari nuraninya.
        Bu Lutfi dan Brama sedang asyik di depan TV sambil ngemil kacang rebus. Opera Van Java berhasil mengocok perut mereka, sampai Bu Lutfi tersedak karena makan sambil tertawa. Brama menuangkan segelas air untuk Bu Lutfi dan kembali menikmati buyolan Sule dan kawan-kawannya.
        Sudah lama tak terdengar tawa Brama di rumah ini, bahkan suaranya pun jarang terdengar. Brama berubah menjadi sosok lelaki pendiam sejak wanita yang dicintainya meninggal ditabrak kereta api. Suara nyaring yang keluar dari cerobong kereta seakan menelan suara Brama bersama wanita cantik bernama Puspa.
        “Puspa berhenti!!!” teriak Brama dari belakang. Tapi wanita itu tidak menghiraukan teriakan Brama, dia terlalu kesal dengan kekasihnya itu sehingga dia tidak menghiraukan siapa-siapa. Bahkan…dia juga tidak menoleh kanan kiri ketika menyebrangi rel kereta api.
        Dia hanya ingin berlari dan pergi sejauh-jauhnya dari Brama, tak disangka Tuhan segera mewujudkan keinginannya. Kereta Api Algro Bromo yang sedang melintas jalur Weleri-Pekalongan telah melempar badannya sejauh 10 meter dan Puspa tewas seketika.
        Mulut Brama masih menganga ketika orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu berkerumun di lokasi kejadian, darah segar berceceran, tubuh Puspa ditemukan dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Brama tak berdaya menopang tubuhnya, kakinya lemas tak bertenaga, bersimpuh di samping mayat wanita yang sangat dicintainya. Hatinya remuk redam seperti tubuh mayat di sampingnya. Kesalah-pahaman telah menghancurkan semuanya, menghancurkan cinta dan hati Brama.
        Peristiwa itu sangat mempengaruhi jiwa Brama, ia berubah menjadi sosok lelaki yang pendiam dan pasif, cenderung menutup diri dan menghindar dari pergaulan dengan perempuan. Sampai sekarang ia belum bisa melupakan Puspa, walau 10 tahun sudah wanita itu meninggalkannya.
***
        “Bu, Bambang ingin segera menikah dengan Laila,” tutur Bambang kepada ibunya.
“Kamu sudah mantap? Kenapa harus buru-buru, kamu juga masih muda.” Jawab Bu Lutfi datar sembari memasukkan benang kedalam jarum, hendak memasang kancing baju yang lepas.
“Tapi Laila sudah diburu-buru kedua orang tuanya, Bu. Kalau aku tidak segera meminangnya, dia akan dijodohkan dengan lelaki lain, dan aku tidak mau kehilangan Laila.”
“Kalau memang seperti itu keadaannya, Ibu sih manut saja. Tapi, mintalah restu kepada Kang Bram, bagaimanapun dia adalah kakakmu,” ucapnya.
“Tapi, aku kasihan sama Kang Bram, Bu. Dia yang lebih tua dariku dan Melisa, tapi kami berdua menikah mendahuluinya.”
Tak ada jawaban dari Bu Lutfi, keningnya sedikit berkerut seolah sedang berfikir keras melawan perasaan yang menggelayut dalam hatinya. Bambang memandang kosong ke pintu kamar Brama.
“Kalau memang jodohmu sudah datang, siapa yang bisa menghalangi. Kita semua juga nggak ada yang tahu kapan jodoh itu datang,” ucap Bu Lutfi yang masih sibuk memasang kancing bajunya.
Bambang memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Brama, walau dalam hatinya berkecamuk rasa bersalah kepada kakaknya.
“Dah, tidur Kang?” teriak Bambang di balik pintu.
“Masuk, nggak dikunci kok!” ucap Kang Bram yang sedang tiduran di ranjang. “Ada apa tumben nyariin aku?” lanjutnya.
“Ah, Kang Bram bisa aja. Ini Kang…, Bambang mau minta do’a restu padamu, Kang. Aku ingin meminang Laila.”
“Kok minta restu padaku? Minta saja pada ibu.” jawabnya datar dengan tatapan lurus ke langit-langit kamar.
“Sudah Kang, tapi Bambang juga ingin minta restu dari Kang Bram.”
“Kalau Ibu restu, apa hakku untuk tidak restu?” katanya dingin.
“Maaf Kang, aku lakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan Laila.”
“Sudahlah Bang, aku paham. Lakukan saja apa yang kamu inginkan, jangan sampai kamu menyesal seperti aku.”
“Kang, apakah sampai saat ini, Kang Brama belum bisa melupakan Mbak Puspa?”
“Nggak tahu Bang, aku juga bingung….”
***
        Senja tenggelam di balik pebukitan, malam kian bersolek, cahaya lampu menghias rumah-rumah warga. Di sudut kamarnya Laila sedang berhias tuk menyambut pangeran yang akan membawanya ke pelaminan. Bahagia dan gembira menari-nari di hati, menunggu detik-detik paling bersejarah dalam hidupnya.
        Bambang dan rombongan telah siap, segala perlengkapan dari mas kawin, jajanan, hadiah, dan kambing gemuk yang dari tadi tak berhenti mengembek sudah siap diantar ke rumah Laila. Brama memeluk dan memberikan selamat kepada Bambang sebelum keluar dari pintu rumah. Bu Lutfi memilih tinggal di rumah menemani Brama, dia takut terjadi sesuatu dengannya, bagaimana pun Brama pasti sedih karena semua adik-adiknya sudah mendapatkan jodoh, sementara dia masih terus dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya.
        Waktu yang dijanjikan telah berlalu, Laila mulai gelisah, sudah berkali-kali dia menghubungi ponsel Bambang, tapi nggak ada jawaban. Orang tua Laila dan para tamu undangan ikut resah dalam penantian.
        Ssstttt…suara dencitan roda sepeda motor yang berhenti di depan rumah Laila, menjadi perhatian semua orang. Lelaki jangkung dengan gaya rambut cepak khas TNI itu mematikan sepeda motornya dengan terburu-buru lalu segera berlari.
        “Pak Hadi, ada berita duka Pak.” ucap Ferdi, sahabat Bambang dengan nada serius.
        “Ada apa Nak Ferdi?” Jawab Pak Hadi, ayah Laila.
        “Bambang kecelakaan Pak. Mobil yang ditumpanginya jatuh ke jurang, sekarang mereka dilarikan kerumah sakit Pekalongan.”
        “Astagfirullahaladzim….” ucap Pak Hadi.
        Keluarga besar dan para tamu undangan kaget mendengar kabar ini, Laila menjerit histeris di kamarnya. Suasana menjadi haru biru, Laila memohon kepada ayahnya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
        Dalam perjalanan Laila tak berhenti menangis, Bu Rahma duduk di sebelahnya dan berusaha menenangkannya. Pak Hadi yang duduk di depan sambil mengemudi tak berucap apa-apa, dia fokus mengemudi mobil melintasi jalan utama Kota Wonosobo menuju rumah sakit Pekalongan.
        Satu jam perjalanan, mobil Kijang Pak Hadi telah memasuki halaman rumah sakit, Laila dan ibunya turun dan segera ke ruang informasi.
        “Sus, pasien kecelakaan yang bernama Bambang dimana ya?” tanya Laila.
        “Maaf, Mbak. Pasien Bambang, sudah menghembuskan nafasnya sebelum sampai rumah sakit, dan jenazahnya langsung dibawa kerumah duka,” belum selesai suster bicara, wanita yang terbalut baju pengantin itu tergolek lemas di lantai, Pak Hadi dan Bu Rahma segera datang, mereka segera memapah Laila dan membawanya ke ruang pasien. Dokter memeriksanya dan tak lama kemudian Laila siuman.
        “Bu, Ba…Bambang….” lirih Laila, air matanya mengalir, menghapus olesan make-up pengantin yang ingin ia perlihatkan kepada calon suaminya. Wajah ayu Laila berubah pucat dan lesu. Pak Hadi menunduk pilu, sementara Bu Rahma tak berhenti menangis.
        “Bapak, bolehkah Laila melihat jenazah Mas Bambang,” pinta Laila sambil beranjak duduk. Pak Hadi hanya mengangguk-angguk dia tak kuasa menolak permintaan putrinya.
        Sebelum beranjak dari rumah sakit, Laila, Pak Hadi dan Bu Rahma menjenguk Mbak Melisa dan suaminya yang mengalami luka ringan dalam kecelakaan itu, dan Pak Lik Rusli, supir mobil yang mengalami luka berat masih di ruang UGD.
***
        Malam semakin mencekam, angin dingin menyusup menusuk-nusuk sampai ke tulang sum-sum, Laila berjalan gontai melangkah ke beranda rumah Bambang, Pak Hadi dan Bu Rahma berjalan di belakangnya. Pintu rumah Bambang sudah terbuka, banyak tetangga sedang membaca tahlil, Laila masuk, lalu duduk di sebelah Bu Lutfi di samping jenazah Bambang sambil menangis tersedu-sedu. Bu Lutfi memeluk calon menantunya, terdengar isakan di segala penjuru ruangan menyaksikan momen paling mengharukan ini.
        Laila membuka kain penutup jenazah Bambang yang sudah terbalut kain kafan, senyum berseri terpancar dari wajah mayat Bambang, seperti sebuah cahaya yang tiba-tiba muncul dan menyusup ke relung hati dan menentramkannya, agar ia tabah menerima kepergian calon suaminya.
        Pak Hadi dan Bu Rahma masuk menyusul Laila, Pak Hadi tercengang melihat Brama berada di rumah itu, mereka saling berpandangan.
        “Pak hadi….”
        “Brama…ka-kamu kakaknya Bambang?” tanya Pak Hadi tergagap.
        Brama mengangguk pelan, ternyata Brama adalah lelaki yang ingin dijodohkan dengan Laila, dia menolak perjodohan itu, karena dia tahu Laila adalah kekasih Adiknya. Dan sekarang Pak Hadi memandang penuh harapan kepada Brama untuk tidak menolak permintaannya yang kedua kalinya.
        Seperti itulah jodoh, seperti orang bilang ‘kalau jodoh juga nggak kemana’ jika sudah waktunya jodoh pasti akan datang dan semua nggak bisa mengira dari mana datangnya.

Yuen Long, 28 Februari 2013
Dimuat di Majalah Intai Taiwan, Edisi 84 November 2013

0 komentar:

Posting Komentar