Oleh:
NH. Lulu
Embun ini meleleh tatkala kuingat
wajahnya. Kerutan-kerutan di wajahnya yang kian melebar, melukis kenangan
perjalanan waktu. Dan dibalik tangan kasarnya, tersimpan sejuta perjuangan yang
telah ia korbankan untukku. Kini betapa aku merindukannya, perpisahan ini
membuatku memahami arti kebersamaan dan kedekatan.
Maafkan Miftah Bu, betapa perilaku
Miftah selama ini sangat melukai hatimu. Sekarang Miftah sudah sadar, sudah
bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan tentang hidup yang memang sudah
digariskan oleh Allah.
“Miftah, yuk pulang.” ajak Tika seraya
berdiri menenteng tas tangannya, membuyarkan lamunanku tentang ibu. Ceramah
Ustad Rosyid siang ini sungguh menggedor hati kecilku. Mengingatkanku tentang
kesalahan yang pernah kulakukan kepada ibu.
Tepat setelah pengumuman kelulusan SMA,
ibu mengungkapkan rasa bangganya kepadaku yang berhasil memperoleh nilai bagus
dan termasuk lima besar. Tapi saat itu pula ibu meminta maaf kepadaku karena
tidak bisa membiayai kuliahku.
Aku
sangat kecewa kepada ibu. Hati ini sangat terluka, hingga tak sengaja aku mendiamkannya
berminggu-minggu.
Impianku
untuk melanjutkan kuliah pupus terhalang biaya, dan sejak saat itu hubunganku
dengan ibu jadi renggang. Jika tidak ada sesuatu yang penting, aku tidak akan
bicara dengannya. Entah dari mana datangnya kebencian ini, hingga aku tidak
berdaya untuk menakhlukkannya. Semakin lama, aku semakin tidak kerasan di
rumah. Apalagi jika melihat teman-teman sebayaku yang bisa melanjutkan kuliah,
kekecewaanku kepada ibu semakin dalam dan curam.
Sampai
suatu hari aku memutuskan untuk pergi dan bersembunyi dari kenyataan. Aku
memutuskan untuk merantau agar bisa pergi sejauh mungkin dari sesuatu yang
telah membuatku kecewa.
Dan
sampailah aku di Negeri Beton ini. Negeri yang banyak di datangi oleh kaum hawa
dari negeriku. Negara dengan segala kemegahan dan kecanggihan teknologinya.
Tetapi karena kecanggihan itu pulalah, banyak hamba Allah yang tidak sadar
diperdaya oleh kenikmatan dunia sehingga lupa akan Tuhan dan hakikat hidup yang
sesungguhnya.
Ternyata,
mencari nafkah itu tidak semudah yang aku bayangkan. Bahkan sangat sulit. Apalagi
bekerja ikut orang, harus tunduk dan patuh dengan peraturan majikan. Namun,
ketika dalam kesulitan itulah aku mulai sadar. Aku sadar atas kesalahan yang
tak segaja aku lakukan selama ini kepada ibu.
Jika
majikan yang hanya menggajiku saja mewajibkanku tunduk dan patuh, gimana dengan
ibu? Ibu tidak hanya memberiku uang, tapi melahirkan dan membesarkanku,
mendidik dan menyayangiku. Bagaimana mungkin aku bisa membencinya hanya karena
dia tidak bisa menyekolahkanku ke perguruan tinggi. Sungguh bodohnya aku. Durhakanya
aku ini sebagai seorang anak.
Malam
itu langit begitu pekat. Bulan pun enggan memancarkan cahayanya. Aku menangis
tersedu, menyesali kebodohan yang aku lakukan. Air mata yang jatuh berlinangan
seakan tak cukup untuk menebus kesalahanku.
Ah,
andai aku bisa memutar waktu, inginku menghapus jalanan yang berliku. Namun,
bukankah sejatinya hidup itu memang berliku dan penuh masalah.
***
Pagi-pagi
setelah tuan dan nyonya berangkat kerja, aku segera menelepon ibu. Meminta maaf
kepadanya. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengulangi kesalahan ini
lagi. Aku akan menyayanginya dengan setulus hati dan berbakti kepadanya.
Sejak
saat itu, setiap akhir pekan aku selalu menelepon ibu. Aku juga sering SMS-an
sama ibu. Komunikasi yang sempat renggang antara aku dan ibu kembali lancar.
Bahkan kini telah tumbuh tunas-tunas kerinduan.
Benar
kata orang jika surga itu di bawah telapak kaki ibu. Sejak hubunganku dengan ibu
membaik dan semakin lancar, hidupku pun semakin indah. Pekerjaanku di sini juga
menjadi mudah dan gajiku menjadi berkah. Senyum ibu laksana cahaya surga yang
mendamaikan dan menyejukkan. Indah nian elok.
“Kamu
baik-baik saja, Miftah?”
“Iya,
Tik. Aku ingat ibu. Betapa kita sebagai anak harus berbakti kepada kedua orang
tua, seperti yang tadi dijelaskan oleh Ustad Rosyid.” jawabku sambil berjalan
keluar gedung pengajian.
“Aku
juga sedih, jika melihat banyak teman-teman di sini yang lupa dengan keluarga
di rumah. Seperti yang banyak diberitakan di koran dan majalah.” timpal Tika.
“Mereka
pasti mempunyai alasan kenapa mereka bisa seperti itu. Semoga saja mereka
segera mendapat hidayah dan sadar.”
Di
bawah terik sinar matahari dan lalu-lalang kendaraan di sepanjang jalan, Aku
dan Tika terus berjalan melewati restoran terbuka yang berada tepat di sebelah
penyebrangan jalan. Di sana ada segerombolan orang cina sedang makan siang.
Sepertinya mereka satu keluarga. Ada dua orang lanjut usia yang rambutnya mulai
beruban, sepertinya mereka adalah orang tua dari keluarga tersebut. Ada juga
satu anak balita dan satu gadis kecil kira-kira baru berusia 9 tahun, mereka
pasti cucu nenek dan kakek itu.
Tanpa
segaja aku mengawasi mereka. Ada gelak tawa terdengar dari pembicaraan mereka.
lalu kulihat gadis kecil yang cantik itu mengapit selembar sayur untuk sang
nenek. Sang nenek menyambutnya dengan senang dan mengucapkan terima kasih.
Senyumnya lebar, matanya berbinar. Sang nenek begitu bahagia.
Begitulah
orang tua, bagi mereka kebahagian itu sangat sederhana. Mereka sudah cukup senang dengan perhatian dan
kasih sayang yang diberikan oleh anak dan cucunya. Orang tua tidak pernah
mengharap imbalan apa-apa dari seorang anak, selain hanya kasih sayang yang
tulus seperti yang telah mereka berikan kepada anaknya. Orang tua juga ikut
bahagia jika melihat anak-anaknya bahagia.
Yuen
Long, 20 September 2013
Dimuat Majalah Iqro bulan Januari 2014





aamiin, smoga impianmu tercapai untuk selalu membahagiakan ibu.
BalasHapusamin.....
BalasHapus