Rabu, 29 Januari 2014

Maafkan Aku, Ibu


Oleh: NH. Lulu
        Embun ini meleleh tatkala kuingat wajahnya. Kerutan-kerutan di wajahnya yang kian melebar, melukis kenangan perjalanan waktu. Dan dibalik tangan kasarnya, tersimpan sejuta perjuangan yang telah ia korbankan untukku. Kini betapa aku merindukannya, perpisahan ini membuatku memahami arti kebersamaan dan kedekatan.
        Maafkan Miftah Bu, betapa perilaku Miftah selama ini sangat melukai hatimu. Sekarang Miftah sudah sadar, sudah bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan tentang hidup yang memang sudah digariskan oleh Allah.
        “Miftah, yuk pulang.” ajak Tika seraya berdiri menenteng tas tangannya, membuyarkan lamunanku tentang ibu. Ceramah Ustad Rosyid siang ini sungguh menggedor hati kecilku. Mengingatkanku tentang kesalahan yang pernah kulakukan kepada ibu.
        Tepat setelah pengumuman kelulusan SMA, ibu mengungkapkan rasa bangganya kepadaku yang berhasil memperoleh nilai bagus dan termasuk lima besar. Tapi saat itu pula ibu meminta maaf kepadaku karena tidak bisa membiayai kuliahku.
Aku sangat kecewa kepada ibu. Hati ini sangat terluka, hingga tak sengaja aku mendiamkannya berminggu-minggu.
Impianku untuk melanjutkan kuliah pupus terhalang biaya, dan sejak saat itu hubunganku dengan ibu jadi renggang. Jika tidak ada sesuatu yang penting, aku tidak akan bicara dengannya. Entah dari mana datangnya kebencian ini, hingga aku tidak berdaya untuk menakhlukkannya. Semakin lama, aku semakin tidak kerasan di rumah. Apalagi jika melihat teman-teman sebayaku yang bisa melanjutkan kuliah, kekecewaanku kepada ibu semakin dalam dan curam.
Sampai suatu hari aku memutuskan untuk pergi dan bersembunyi dari kenyataan. Aku memutuskan untuk merantau agar bisa pergi sejauh mungkin dari sesuatu yang telah membuatku kecewa.
Dan sampailah aku di Negeri Beton ini. Negeri yang banyak di datangi oleh kaum hawa dari negeriku. Negara dengan segala kemegahan dan kecanggihan teknologinya. Tetapi karena kecanggihan itu pulalah, banyak hamba Allah yang tidak sadar diperdaya oleh kenikmatan dunia sehingga lupa akan Tuhan dan hakikat hidup yang sesungguhnya.
Ternyata, mencari nafkah itu tidak semudah yang aku bayangkan. Bahkan sangat sulit. Apalagi bekerja ikut orang, harus tunduk dan patuh dengan peraturan majikan. Namun, ketika dalam kesulitan itulah aku mulai sadar. Aku sadar atas kesalahan yang tak segaja aku lakukan selama ini kepada ibu.
Jika majikan yang hanya menggajiku saja mewajibkanku tunduk dan patuh, gimana dengan ibu? Ibu tidak hanya memberiku uang, tapi melahirkan dan membesarkanku, mendidik dan menyayangiku. Bagaimana mungkin aku bisa membencinya hanya karena dia tidak bisa menyekolahkanku ke perguruan tinggi. Sungguh bodohnya aku. Durhakanya aku ini sebagai seorang anak.
Malam itu langit begitu pekat. Bulan pun enggan memancarkan cahayanya. Aku menangis tersedu, menyesali kebodohan yang aku lakukan. Air mata yang jatuh berlinangan seakan tak cukup untuk menebus kesalahanku.
Ah, andai aku bisa memutar waktu, inginku menghapus jalanan yang berliku. Namun, bukankah sejatinya hidup itu memang berliku dan penuh masalah.
***
Pagi-pagi setelah tuan dan nyonya berangkat kerja, aku segera menelepon ibu. Meminta maaf kepadanya. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Aku akan menyayanginya dengan setulus hati dan berbakti kepadanya.
Sejak saat itu, setiap akhir pekan aku selalu menelepon ibu. Aku juga sering SMS-an sama ibu. Komunikasi yang sempat renggang antara aku dan ibu kembali lancar. Bahkan kini telah tumbuh tunas-tunas kerinduan.
Benar kata orang jika surga itu di bawah telapak kaki ibu. Sejak hubunganku dengan ibu membaik dan semakin lancar, hidupku pun semakin indah. Pekerjaanku di sini juga menjadi mudah dan gajiku menjadi berkah. Senyum ibu laksana cahaya surga yang mendamaikan dan menyejukkan. Indah nian elok.
“Kamu baik-baik saja, Miftah?”
“Iya, Tik. Aku ingat ibu. Betapa kita sebagai anak harus berbakti kepada kedua orang tua, seperti yang tadi dijelaskan oleh Ustad Rosyid.” jawabku sambil berjalan keluar gedung pengajian.
“Aku juga sedih, jika melihat banyak teman-teman di sini yang lupa dengan keluarga di rumah. Seperti yang banyak diberitakan di koran dan majalah.” timpal Tika.
“Mereka pasti mempunyai alasan kenapa mereka bisa seperti itu. Semoga saja mereka segera mendapat hidayah dan sadar.”
Di bawah terik sinar matahari dan lalu-lalang kendaraan di sepanjang jalan, Aku dan Tika terus berjalan melewati restoran terbuka yang berada tepat di sebelah penyebrangan jalan. Di sana ada segerombolan orang cina sedang makan siang. Sepertinya mereka satu keluarga. Ada dua orang lanjut usia yang rambutnya mulai beruban, sepertinya mereka adalah orang tua dari keluarga tersebut. Ada juga satu anak balita dan satu gadis kecil kira-kira baru berusia 9 tahun, mereka pasti cucu nenek dan kakek itu.
Tanpa segaja aku mengawasi mereka. Ada gelak tawa terdengar dari pembicaraan mereka. lalu kulihat gadis kecil yang cantik itu mengapit selembar sayur untuk sang nenek. Sang nenek menyambutnya dengan senang dan mengucapkan terima kasih. Senyumnya lebar, matanya berbinar. Sang nenek begitu bahagia.
Begitulah orang tua, bagi mereka kebahagian itu sangat sederhana.  Mereka sudah cukup senang dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh anak dan cucunya. Orang tua tidak pernah mengharap imbalan apa-apa dari seorang anak, selain hanya kasih sayang yang tulus seperti yang telah mereka berikan kepada anaknya. Orang tua juga ikut bahagia jika melihat anak-anaknya bahagia.

Yuen Long, 20 September 2013


Dimuat Majalah Iqro bulan Januari 2014

2 komentar: