Wajah Kuntilanak

Adakah di jaman modern seperti sekarang ini yang masih takut dengan hantu? Apalagi di negara Hong Kong tempat kita mengais dolar ini adalah salah satu negara maju dengan fasilitas tehnologi yang luar biasa canggih. Eits…tapi jangan salah lho...

Mengais Rezeki Tambahan Dihari Libur

Kebebasan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong yang mempunyai waktu libur sepekan sekali dan public holiday, banyak di manfaatkan BMI untuk mengais rejeki tambahan dengan berjualan. Walau sebenarnya BMI berjualan itu...

Tahun Baru

Gulir waktu kian menganga Menapak batas semesta Kerlip bintang tebarkan cahaya di gelap langit Memoles indah angkasa luas...

Tapak Perjalanan

Jelajahi tapak perjalanan masa lalu Seraya merajut harap pada sisa waktu Bermuhasabah Berbenah Berjuang dan berusaha menggapai yang belum tercapai...

Desaku

Kumandang adzan di ujung fajar Hembusan angin semerbak bau bawang Gemericik air dan cicit kenari di pematang ladang Mengukir indah bingkai kenangan...

Rabu, 28 Januari 2015

Ngidam Kopi

Kopi lebih berarti daripada Doi. Hmmm…apa ya maksudnya? Saya kok jadi bingung. Duh pusiiingggggg…(niru gaya Peggy melati harum mewangi sepanjang hari). Kopi memang sering bikin orang pusing, apalagi bagi pecandu kopi. Sehari saja tak minum kopi, rasanya keliyengan oey!
Dua sahabat karib ini bernama Eka dan Putri, dara muda yang hobi fashion dan dunia jahit menjahit. Pada minggu siang yang kelewat cerah, pasalnya matahari begitu garang dan panas hingga suhu mencapai 35 derajat. Ditambah ujian kursus menjahit yang bikin otak mendidih membuat Eka dan Putri kian tersiksa. Bahkan Eka nyaris pingsan karena tadi pagi belum minum kopi. Saat jam istirahat tiba, Eka bergegas membeli kopi dan segera meminumnya. Seperti orang kesurupan, mak cliiiiiing…matanya bersinar. Kepala yang tadi berputar-putar mendadak berhenti.
Menyaksikan perubahan drastis Eka yang disebabkan dengan segelas kopi, Putri hanya geleng-geleng kepala.
“Ka, aku pengen banget minum starbuck café.” ucap Putri dengan gayanya yang polos dan lugu.
Kini giliran Eka yang geleng-geleng kepala mendengar ucapan Putri. Pasalnya sudah 6 tahun Putri bekerja di Hong Kong sekali pun ia belum pernah mencicipin minuman favorit yang harganya pun tak mahal-mahal amiiitttt. Ternyata ada juga orang ngidam Starbuck Café. Hahahahha…
dimuat Koran SUARA edisi Vol.V No. 250 23 Januari 2015

Senin, 12 Januari 2015

RENUNGAN 2015


“Move On”, Jadilah Pengusaha


Kita baru saja memasuki 2015. Momentum pergantian tahun yang sekaligus menandai lembaran baru dalam kehidupan kita. Sejenak saya tertegun menghitung angka yang sudah saya habiskan di negara Hong Kong ini. Delapan tahun bukanlah waktu yang singkat. Padahal, awal pertama kerja di sini saya berencana hanya ingin bekerja dua tahun saja. Namun, seperti inilah kenyataan hidup yang kadang tidak sesuai dengan rencana.
        Tidak dipungkiri kerja dengan gaji sebulan Rp 6 juta (kurs 1500) adalah suatu hal yang sangat melenakan. Bayangkan saja di Indonesia, gaji Rp 6 juta adalah gajinya pegawai, pejabat, bahkan masih banyak pegawai dan pejabat pemerintah yang gajinya lebih rendah. Tetapi, sampai kapan kita akan terlena? Tidakkah kita ingin hidup dekat bersama keluarga di rumah? Bersama sanak-saudara? Merawat orangtua yang sudah renta? Mendidik dan membesarkan buah hati tercinta?.
        Mungkin pembaca ada yang bernasib sama dengan saya? Atau, malah lebih lama? Sudah bertahun-tahun bekerja tapi uang habis begitu saja tak tahu rimbanya? Atau sudah punya ini pengen itu? Sepertinya, gaji kita setiap bulan selalu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan.
        Di sini saya hanya ingin mengajak teman-teman untuk bermuhasabah, merenung, dan memulai merajut kembali mimpi-mimpi awal kepergian kita merantau. Mungkin selama ini kita terlena dengan gemerlap kehidupan Hong Kong yang menyilaukan. Kita larut dalam pola hidup konsumtif dan serba wah. Atau, kita pernah tertipu jutaan rupiah oleh bisnis bodong.
        Saatnya kita bangun, melihat masa depan. Kita harus merubah mindset dan segera move on. Tidak selamanya kita bisa bekerja ikut orang. Tubuh kita yang sekarang masih sehat akan semakin ringkih dan menua seiring waktu yang terus bergulir. Kita tidak tahu, musibah atau cobaan sakit yang mungkin sewaktu-waktu akan menimpa kita. Sudah sering diberitakan di koran, teman BMI yang meninggal karena sakit? Tidakkah kita merasa takut? Bagaimana nasib keluarga kita jika musibah itu menimpa kita? Karenanya, marilah kita memulai menyiapkan diri untuk menghadapi semua itu.
        Pandai-pandailah mengatur keuangan, hilangkan sifat konsumtif, biasakan menabung, dan bekali diri dengan ilmu sehingga kita tidak salah pergaulan dan mudah ditipu oleh orang.
        Saya yakin, di sini masih banyak BMI yang sudah “karatan” kerja bertahun-tahun tapi masih belum berani pulang, dengan berbagai macam alasan. Saya sendiri beralasan karena masih belum cukup modal. Nah, apa alasan Anda?
        Apa pun jawaban Anda, saya berharap teman-teman tidak sedang terlena. Semoga teman-teman sedang berusaha dan berupaya menyiap diri untuk pulang. Menyiapkan mental untuk segera keluar dari zona aman dan siap berjuang di kampung halaman.
        Indonesia merindukan kita. Keluarga, orangtua, anak dan suami butuh perhatian dan uluran tangan kita. Tidakkah kita mendengar berita tentang perekonomian Indonesia yang masih jauh terbelakang? Pergaulan dan moral anak-anak muda yang sangat memprihatinkan. Akankah kita membiarkan anak-anak penerus bangsa rusak karena kurangnya pengawasan dan pendidikan dari orangtua? Akankah kita biarkan pasar Indonesia dikuasai negara lain karena prodak dalam negeri tidak dapat bersaing? Permasalahan-permasalahan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah. Kita, sebagai WNI, juga harus ikut andil dalam mengatasi permasalahan tersebut.
        Sekarang saatnya kita harus perduli dengan nasib bangsa Indonesia. Ayo kita ubah mindset untuk menjadi pengusaha. Menjadi bos. Sehingga bisa membantu memperbaiki perekonomian Indonesia. Kita harus bisa bersaing menghasilkan prodak yang berkualitas sehingga tidak perlu mengimpor dari negara lain. Saatnya kita benar-benar teliti dalam mendidik anak yang merupakan generasi muda penerus bangsa. Anak tidak hanya membutuhkan uang, tetapi perlu kasih sayang, pendidikan, dan pengawasan yang baik dari kedua orangtua, keluarga dan lingkungannya.
Pekerjaan kita saat ini merupakan batu loncatan untuk memperbaiki keadaan dan perekonomian keluarga. Karenanya, kita jangan terlena dan berlama-lama di sini. Jadikan Hong Kong tempat mencari modal dan menimba ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya, setelah itu, mari pulang dan memulai membangun impian.
        Dewasa ini, di Hong Kong banyak sekali seminar dan workshop kewirausahan. Pelatihan-pelatihan wirausaha seperti Mandiri Sahabatku, Pendidikan Usaha Mikro BRI, atau yang sudah siap untuk usaha bisa bergabung di business gathering Apakabar Plus. Di sini banyak info tentang berbagai bisnis waralaba yang terpercaya dan sudah banyak berkembang di seluruh daerah di Indonesia.

        Sekarang, masihkah terlena dengan gaji Rp 6 juta atau ingin jadi pengusaha untuk masa depan yang lebih bahagia? Yuk segara pulang, back for good!

dimuat Tabloid Apakabar Plus Edisi#21 Thn IX*10-23 Januari 2015