Wajah Kuntilanak

Adakah di jaman modern seperti sekarang ini yang masih takut dengan hantu? Apalagi di negara Hong Kong tempat kita mengais dolar ini adalah salah satu negara maju dengan fasilitas tehnologi yang luar biasa canggih. Eits…tapi jangan salah lho...

Mengais Rezeki Tambahan Dihari Libur

Kebebasan BMI (Buruh Migran Indonesia) Hong Kong yang mempunyai waktu libur sepekan sekali dan public holiday, banyak di manfaatkan BMI untuk mengais rejeki tambahan dengan berjualan. Walau sebenarnya BMI berjualan itu...

Tahun Baru

Gulir waktu kian menganga Menapak batas semesta Kerlip bintang tebarkan cahaya di gelap langit Memoles indah angkasa luas...

Tapak Perjalanan

Jelajahi tapak perjalanan masa lalu Seraya merajut harap pada sisa waktu Bermuhasabah Berbenah Berjuang dan berusaha menggapai yang belum tercapai...

Desaku

Kumandang adzan di ujung fajar Hembusan angin semerbak bau bawang Gemericik air dan cicit kenari di pematang ladang Mengukir indah bingkai kenangan...

Rabu, 29 Januari 2014

Maafkan Aku, Ibu


Oleh: NH. Lulu
        Embun ini meleleh tatkala kuingat wajahnya. Kerutan-kerutan di wajahnya yang kian melebar, melukis kenangan perjalanan waktu. Dan dibalik tangan kasarnya, tersimpan sejuta perjuangan yang telah ia korbankan untukku. Kini betapa aku merindukannya, perpisahan ini membuatku memahami arti kebersamaan dan kedekatan.
        Maafkan Miftah Bu, betapa perilaku Miftah selama ini sangat melukai hatimu. Sekarang Miftah sudah sadar, sudah bisa menerima kenyataan ini. Kenyataan tentang hidup yang memang sudah digariskan oleh Allah.
        “Miftah, yuk pulang.” ajak Tika seraya berdiri menenteng tas tangannya, membuyarkan lamunanku tentang ibu. Ceramah Ustad Rosyid siang ini sungguh menggedor hati kecilku. Mengingatkanku tentang kesalahan yang pernah kulakukan kepada ibu.
        Tepat setelah pengumuman kelulusan SMA, ibu mengungkapkan rasa bangganya kepadaku yang berhasil memperoleh nilai bagus dan termasuk lima besar. Tapi saat itu pula ibu meminta maaf kepadaku karena tidak bisa membiayai kuliahku.
Aku sangat kecewa kepada ibu. Hati ini sangat terluka, hingga tak sengaja aku mendiamkannya berminggu-minggu.
Impianku untuk melanjutkan kuliah pupus terhalang biaya, dan sejak saat itu hubunganku dengan ibu jadi renggang. Jika tidak ada sesuatu yang penting, aku tidak akan bicara dengannya. Entah dari mana datangnya kebencian ini, hingga aku tidak berdaya untuk menakhlukkannya. Semakin lama, aku semakin tidak kerasan di rumah. Apalagi jika melihat teman-teman sebayaku yang bisa melanjutkan kuliah, kekecewaanku kepada ibu semakin dalam dan curam.
Sampai suatu hari aku memutuskan untuk pergi dan bersembunyi dari kenyataan. Aku memutuskan untuk merantau agar bisa pergi sejauh mungkin dari sesuatu yang telah membuatku kecewa.
Dan sampailah aku di Negeri Beton ini. Negeri yang banyak di datangi oleh kaum hawa dari negeriku. Negara dengan segala kemegahan dan kecanggihan teknologinya. Tetapi karena kecanggihan itu pulalah, banyak hamba Allah yang tidak sadar diperdaya oleh kenikmatan dunia sehingga lupa akan Tuhan dan hakikat hidup yang sesungguhnya.
Ternyata, mencari nafkah itu tidak semudah yang aku bayangkan. Bahkan sangat sulit. Apalagi bekerja ikut orang, harus tunduk dan patuh dengan peraturan majikan. Namun, ketika dalam kesulitan itulah aku mulai sadar. Aku sadar atas kesalahan yang tak segaja aku lakukan selama ini kepada ibu.
Jika majikan yang hanya menggajiku saja mewajibkanku tunduk dan patuh, gimana dengan ibu? Ibu tidak hanya memberiku uang, tapi melahirkan dan membesarkanku, mendidik dan menyayangiku. Bagaimana mungkin aku bisa membencinya hanya karena dia tidak bisa menyekolahkanku ke perguruan tinggi. Sungguh bodohnya aku. Durhakanya aku ini sebagai seorang anak.
Malam itu langit begitu pekat. Bulan pun enggan memancarkan cahayanya. Aku menangis tersedu, menyesali kebodohan yang aku lakukan. Air mata yang jatuh berlinangan seakan tak cukup untuk menebus kesalahanku.
Ah, andai aku bisa memutar waktu, inginku menghapus jalanan yang berliku. Namun, bukankah sejatinya hidup itu memang berliku dan penuh masalah.
***
Pagi-pagi setelah tuan dan nyonya berangkat kerja, aku segera menelepon ibu. Meminta maaf kepadanya. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi. Aku akan menyayanginya dengan setulus hati dan berbakti kepadanya.
Sejak saat itu, setiap akhir pekan aku selalu menelepon ibu. Aku juga sering SMS-an sama ibu. Komunikasi yang sempat renggang antara aku dan ibu kembali lancar. Bahkan kini telah tumbuh tunas-tunas kerinduan.
Benar kata orang jika surga itu di bawah telapak kaki ibu. Sejak hubunganku dengan ibu membaik dan semakin lancar, hidupku pun semakin indah. Pekerjaanku di sini juga menjadi mudah dan gajiku menjadi berkah. Senyum ibu laksana cahaya surga yang mendamaikan dan menyejukkan. Indah nian elok.
“Kamu baik-baik saja, Miftah?”
“Iya, Tik. Aku ingat ibu. Betapa kita sebagai anak harus berbakti kepada kedua orang tua, seperti yang tadi dijelaskan oleh Ustad Rosyid.” jawabku sambil berjalan keluar gedung pengajian.
“Aku juga sedih, jika melihat banyak teman-teman di sini yang lupa dengan keluarga di rumah. Seperti yang banyak diberitakan di koran dan majalah.” timpal Tika.
“Mereka pasti mempunyai alasan kenapa mereka bisa seperti itu. Semoga saja mereka segera mendapat hidayah dan sadar.”
Di bawah terik sinar matahari dan lalu-lalang kendaraan di sepanjang jalan, Aku dan Tika terus berjalan melewati restoran terbuka yang berada tepat di sebelah penyebrangan jalan. Di sana ada segerombolan orang cina sedang makan siang. Sepertinya mereka satu keluarga. Ada dua orang lanjut usia yang rambutnya mulai beruban, sepertinya mereka adalah orang tua dari keluarga tersebut. Ada juga satu anak balita dan satu gadis kecil kira-kira baru berusia 9 tahun, mereka pasti cucu nenek dan kakek itu.
Tanpa segaja aku mengawasi mereka. Ada gelak tawa terdengar dari pembicaraan mereka. lalu kulihat gadis kecil yang cantik itu mengapit selembar sayur untuk sang nenek. Sang nenek menyambutnya dengan senang dan mengucapkan terima kasih. Senyumnya lebar, matanya berbinar. Sang nenek begitu bahagia.
Begitulah orang tua, bagi mereka kebahagian itu sangat sederhana.  Mereka sudah cukup senang dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh anak dan cucunya. Orang tua tidak pernah mengharap imbalan apa-apa dari seorang anak, selain hanya kasih sayang yang tulus seperti yang telah mereka berikan kepada anaknya. Orang tua juga ikut bahagia jika melihat anak-anaknya bahagia.

Yuen Long, 20 September 2013


Dimuat Majalah Iqro bulan Januari 2014

Sabtu, 18 Januari 2014

Pernikahan Beda Negara


Oleh NH. Lulu

        Pernikahan lintas negara (beda negara) sudah tidak lagi menjadi hal yang tabu lagi bagi masyarakat modern sekarang ini. Meskipun belum ada perlindungan khusus dalam pernikahan beda Negara, tetapi banyak juga pasangan pria dan wanita yang tetap melakukan pernikahan tersebut.
        Seringkali kita melihat berita di televisi atau koran tentang berita pernikahan beda negara di kalangan artis. Namun, ternyata pernikahan beda negara tidak hanya terjadi di kalangan artis, melainkan di segala lapisan masyarakat. Bahkan, sekarang semakin marak pernikahan antara TKI (Tenaga Kerja Indonesia) dengan pria luar negeri. Biasanya mereka menikah dengan majikan atau kerabat majikan tempat mereka bekerja.
        Contohnya di Hong Kong, negara tempat kita bekerja sekarang. Banyak kita jumpai teman-teman TKI yang menjalin hubungan dengan pria berkebangsaan Pakistan, India, atau pria bule.
        Pada hari Minggu, mayoritas pekerja asing di Hong Kong mendapatkan hak libur. Hari itulah banyak kita jumpai teman-teman TKI berkencan dengan pasangannya di taman-taman, mal, atau di tempat-tempat hiburan malam yang ada di Hongkong.
        Minat pria bule terhadap TKI sekarang juga semakin meningkat. Mereka tidak segan-segan menikahi TKI bila sudah merasa cocok setelah menjalani masa pacaran.
        Alasan yang mendasari pernikahan beda negara sangatlah kompleks. Salah satunya karena sudah terlanjur cinta. Pasangan yang sudah terlanjur jatuh cinta dan merasa cocok untuk menjalani hidup bersama, biasanya mereka akan memutuskan untuk menikah.
        Alasan lain, bisa saja mereka memutuskan menikah karena masalah ekonomi. Bisa saja TKI itu sedang terbelit utang, atau keluarganya di Indonesia sedang membutuhkan uang, sehingga mencari suami bule berkantong tebal agar bisa membantu memperbaiki perekonomian keluarga. Ada juga yang memang sengaja pengen nyari bule kaya raya agar bisa menaikkan derajatnya dalam masyarakat. Atau, karena kekecewaan terhadap pacar atau suami di Indonesia, sehingga menimbulkan kebencian terhadap pria dari negaranya sendiri, dan memilih menjalin hubungan dengan pria dari negara lain.
        Terlepas dari belum adanya perlindungan khusus tentang pernikahan beda negara, agama juga melarang keras pasangan pria dan wanita untuk melakukan pernikahan jika keduanya menganut agama dan kepercayaan yang berbeda.
        Perlu diketahui, bahwa pernikahan beda negara atau menikah dengan orang asing adalah suatu hal yang sangat pelik. Belum lagi perbedaan bahasa, budaya, gaya hidup dan pola pikir. Permasalahan imigrasi, perjanjian pranikah, KDRT(kekerasan dalam rumah tangga), tantangan dari negara (kebijakan, aturan hukum dan perundang-undangan), pandangan masyarakat, maupun keluarga sendiri.
        Menurut Pasal 26 ayat (1) dan ayat (3) UU kewarganegaraan Indonesia, apabila hukum negara asal si suami (WNA) memberikan kewarganegaraan kepada pasangan akibat perkawinan campuran (beda negara), maka istri yang WNI dapat kehilangan kewarganegaraan Indonesia, kecuali jika dia mengajukan pernyataan untuk tetap menjadi WNI.
        Peraturan ini sangat perlu diperhatikan sebelum kita menikah dengan pria asing. Jangan sampai kita kehilangan kewarganegaraan Indonesia. Oleh karena itu, sebelum memutuskan untuk melakukan pernikahan tersebut, ada baiknya dipikirkan terlebih dahulu, bekali pengetahuan yang cukup. Tentu saja, semua itu dimaksudkan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Apalagi, tidak sedikit wanita yang akhirnya menjadi korban.
        Banyak wanita yang ditelantarkan begitu saja oleh suami, sehingga kebingungan mencari bantuan. Belum lagi jika sudah mempunyai anak dan suami tidak mau mengakui, bagaimanakah nasib sang anak? Atau jika kita menikah dengan pria Pakistan yang bekerja di Hong Kong, kemudian pria itu kembali ke negara asal sementara kita masih di Hong Kong dan ternyata pria itu tidak kembali lagi, bagaimana nasib kita?

        Nah, sebelum kita bergaul dengan pria asing, sebelum terjerat pencintaan beda Negara, sebelum memutuskan menikah, yuk, pikirkan terlebih dahulu baik buruknya. Kita harus selektif dan cakap dalam memilih pasangan hidup. Hidupmu ada di tanganmu. Ini semua kembali pada diri kita masing-masing. 

Dimuat di Tabloid Apakabar Plus


Jumat, 17 Januari 2014

Fenomena Korupsi di Indonesia


Oleh:NH. Lulu
Tahun 2013 baru saja kita tutup dengan catatan buruk tentang korupsi. Jujur, membaca berita tentang korupsi membuat saya geram. Begitu banyak kasus korupsi di Indonesia yang mencuat ke permukaan, baik yang skala kecil sampai yang milyaran rupiah. Dalam hati saya bertanya-tanya masih adakah pejabat pemerintah yang jujur dan amanah di negera kita Indonesia?
Korupsi adalah menyelewengkan (menggelapkan) uang negara (perusahaan). Pelaku korupsi disebut koruptor. Seorang koruptor melakukan kecurangan untuk mengambil keuntungan pribadi yang sebesar-besarnya sehingga merugikan pihak lain (masyarakat).
Banyaknya koruptor di negara kita merupakan salah satu penyebab masalah kesejahteraan rakyat. Bahkan, bagi saya pribadi, koruptor adalah penjahat nomor 1 yang harus dibasmi dari muka bumi. Mengapa? Karena keberadaan meraka sangat-sangat merugikan orang lain. Kejahatan seorang koruptor itu klise, maksudnya sebelum terungkap, pelaku koruptor itu seperti orang baik-baik, terhormat, manusia yang mengabdi  dan membela negara (perusahaan). Namun di belakang, sebenarnya koruptor itulah yang menyebabkan permasalahan dan kehancuran suatu negara (perusahaan).
Hukum positif yang kurang tegas dan konsisten, serta implementasi peraturan perundang-undanganan tidak berjalan semestinya merupakan salah satu penyebab orang melakukan korupsi. Acapkali, para pelaku korupsi diberikan hukuman dibawah standar hukuman penjara dan denda yang tercantum dalam undang-undang anti korupsi. Alhasil hukum dianggap “loyo” tidak membuat si pelaku jera.
Sulit dimungkiri, aktivitas sehari-hari seorang pejabat berhubungan dengan masalah yang ujung-ujungnya bertali-temali dengan uang. Lalu muncullah mindset yang melenceng. Dimana keinginan memanfaatkan keadaan yang menguntungkan itu sangat sayang untuk dilewatkan. Akibatnya, segara cara dihalalkan untuk mewujudkan apa yang diinginkan.
Sikap apatis masyarakat yang cuek, diam ketika melihat tindak korupsi—karena bukan kita yang dirugikan—dan norma agama yang semakin luntur, juga dapat memicu seseorang untuk melakukan korupsi.
Pemerintah sendiri dalam mengatasi masalah terpelik di negara ini masih belum menunjukkan hasil yang maksimum. Justru selama ini yang mengungkap kasus-kasus korupsi adalah LSM-LSM (lembaga swadaya masyarakat).
Korupsi di negara Indonesia sudah parah dan merajalela. Karena itu, Indonesia perlu belajar dari Cina, yang berani melakukan perombakan besar untuk menumpas korupsi di negaranya. Di Cina dilakukan pemutihan sejak tahun 1997. Semua koruptor yang melakukan korupsi langsung dijatuhi hukuman mati.
Seperti Xiao Hongbo, pria berusia 37 tahun yang bekerja sebagai manajer cabang Bank Konstruksi Cina (salah bank BUMN), itu dihukum mati Pengadilan Sichuan pada 2001, karena telah merugikan bank itu senilai Rp 3,9 miliar.
Xu Maiyong divonis mati oleh Mahkamah Agung Cina terbukti menerima suap jutaan dolar. Vonis mati atas dirinya jatuh pada 2011. Vonis mati ini sebagai bukti, pemerintah Cina berlaku keras terhadap korupsi. Xu dieksekusi pada Juli 2011.
Sejenak, mari kita melihat fenomena kemiskinan di negara kita. Banyak anak-anak jalanan yang mengais rezeki dengan cara mengamen, baik di bus kota atau di lampu merah. Banyak keluarga miskin yang tinggal di rumah-rumah kardus atau di kolong jembatan, dan masih banyak contoh-contoh kemiskinan yang lain.
Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Itulah kalimat yang tepat untuk mengungkapkan fenomena kehidupan yang terjadi di negara kita. Para konglomerat dan pejabat negara semakin kaya dan berkuasa, sementara rakyat miskin semakin sengsara dan teraniaya.
Kenapa bisa seperti itu? Jawabannya, karena kekayaan dan kekuasaan berada di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak berakhlak. Banyak pejabat yang melakukan korupsi uang negara untuk memperkaya diri sendiri, sehingga rakyat yang merugi. Mereka para penguasa, telah merampas kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Kemiskinan dan kejahatan memang tidak akan pernah habis dalam tatanan suatu negara, tapi setidaknya kita harus berusaha untuk menekan dan meminimalkan. Untuk itu, mari mulai dari diri sendiri. Mulai dari sekarang, jadilah manusia yang jujur dan amanah dalam melaksanakan tugas. Dari hal sekecil mungkin, seperti halnya jujur dalam membelanjakan uang majikan ketika kita belanja ke pasar, agar kita semua terhindar dari tindakan korupsi yang merugikan orang lain.

Dimuat di Tabloid Apakabar Plus Edisi#21 Thn VIII*11-24 Januari 2014