Oleh:
NH. Lulu
“Sedih banget Sri, rasanya pengen segera
pulang.” tutur Lia di seberang telepon. Aku menghela nafas, asaku melayang ke masa
lalu. Saat situasi yang sama dulu pernah kualami. Ketika ibu sakit dan aku
berada jauh di tanah rantau. Ingin rasanya segera terbang pulang dan menemui
ibu, tapi kenyataannya tak semudah itu. Banyak sekali berbagai alasan yang
memaksaku harus bertahan. Meski sedih, inilah kenyataan yang tak mampu
dipungkiri.
“Sabar, Lia. Do’akan anakmu biar cepat
sembuh.” hiburku kepada sahabat lama yang dulu tinggal di sebelah rumahku, saat
aku masih berkerja di Hong Kong.
Aku melangkah menuju jendela kamar.
Memandangi rerumputan hijau yang yang tumbuh subur di halaman rumah.
Pucuk-pucuknya tertutup embun yang berkilauan oleh sinar fajar. Bocah-bocah
berseragam merah putih berlarian menuju sekolah.
Lia, perjuanganmu untuk keluarga tak
akan sia-sia. Lihatlah itu, salah diantara bocah-bocah yang berlarian, ibu
mereka juga berada jauh di rantau. Ibu mereka sama sepertimu, bekerja di luar
negeri untuk membantu keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya. Engkau adalah
satu di antara ribuan pahlawan yang sedang berjuang untuk negeri ini.
Sepertiku yang dulu berjuang untuk
mencari modal masa depan. Mencari penghidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
Enam tahun aku perjuangkan kehidupan yang sekarang kujalani. Kehidupan yang
layak dan bisa berbagi dengan yang lain.
Aku sama sepertimu Lia. Seperti para
buruh migran lainnya yang bersusah payah di negeri orang untuk mencari sesuatu
yang diinginkan. Rela bersakit-sakit menahan tikaman perasaan yang entah
datangnya dari diri pribadi atau orang lain.
Rela tunduk dan patuh pada peraturan
majikan untuk memperjuangkan impian. Terkadang direndahkan dan dilecehkan.
Namun, kita harus bangkit. Maju pantang mundur. Karena hidup kita berada di
tangan kita.
“Udah siap Mbak? Ini kan hari pertama training
menjahit untuk karyawan baru di pabrik.” tanya Luna, menyadarkanku dari
lamunan.
“Oh iya, semua udah siap, tolong modul
yang kemaren kamu print, bawa keruang
training ya.”
“Ok, siap Mbak. Semoga training hari ini
lancar dan sukses. Kalau butuh bantuan, panggil aku aja.” Luna berlalu
meninggalkan kamar untuk mengambil modul training menjahit di ruang kerjanya.
Pagi
ini akan ada lima orang gadis muda lulusan SMP yang mengikuti training. Training
yang segajaku selenggarakan untuk menjaring anak-anak muda yang putus sekolah
dan membutuhkan pekerjaan.
Cita-citaku untuk bisa membangun usaha
dan menyediakan lapangan pekerjaan bagi golongan masyarakat menengah ke bawah,
kini sudah mulai terlihat perkembangan yang signifikan. Rencana membangun usaha
ini sebenarnya sudah kurintis sejak masih bekerja sebagai seorang buruh migran
di Hong Kong.
Sejak awal Luna sangat mendukung
rencanaku, walau sebelumnya ibu dan bapak sangsi dengan rencanaku.
Sejak lima tahun yang lalu ketika aku masih
bekerja di Hong Kong, aku mengabdikan diri untuk mewujudkan impianku membangun
pabrik garmen ini. Di waktu-waktu senggang kugali bakat terpendam yang ada pada
diriku, dan berlatih menjahit. Di hari libur aku ikut kursus menjahit dan sulam,
agar bakatku semakin berkembang.
Kini tiga tahun sudah pabrik
garmen ini berdiri. Harapanku kedepannya pabrik ini bisa menopang perekonomian
keluarga, juga bisa membantu menyediakan lapangan pekerjaan sehingga akan
mengurangi angka pengangguran negeri ini, terutama pengangguran di sekitar
tempat tinggalku.
***
“Selamat pagi. Selamat bergabung
kawan-kawanku semua, mari kita belajar bersama.” sapaku sambil membagikan modul
kepada peserta training. Training ini saya bikin tidak terlalu formal. Saya
ingin menciptakan suasana akrab, sehingga peserta training akan lebih nyaman
dalam belajar.
“Oh iya Mbak, kenalkan nama saya
Wina. Saya sama sekali belum tahu apa-apa tentang jahit-menjahit.”
“Oh, itu tak masalah Wina, itulah
tujuan saya menggelar training ini. Saya ingin kawan-kawan yang belum bisa,
tapi berminat untuk belajar, silahkan kita belajar bersama di sini. Siapa tahu
kalian ada teman lain yang berminat, silahkan ajak mereka ke sini, entar siapa
diantara kalian yang bisa cepat menguasai materi, kalian akan saya angkat
menjadi karyawan di pabrik ini.”
“InsyaAllah, terima kasih Mbak
Asri.” jawab Wina dan 4 peserta yang lain. Senangnya hatiku hari ini bisa
berbagi dengan mereka. Inilah sesuatu yang kuinginkan selama ini, bisa berbagi
dan membuka lapangan pekerjaan sehingga mereka tak usah jauh-jauh bekerja ke
luar negeri untuk mencari pekerjaan.
Memang, tidak ada salahnya
bekerja di luar negeri, tapi jika di dalam negeri ada lapangan pekerjaan,
tentunya semua orang pun memilih untuk bekerja di negeri sendiri, sehingga bisa
berkumpul dengan keluarga.
Pukul 12 siang training selesai.
Aku segera ke ruang kerja Luna. Dia masih berkutat di depan komputer mengurus
dokumentasi pabrik dan menghandel penjualan secara online.
Aku
salut kepada adikku yang bersedia membantuku mengelola pabrik ini. Walau
sebenarnya minat dia di bidang lain. Aku juga salut kepada karyawan-karyawan
lainnya yang bergabung di pabrik ini. Latar belakang mereka semua rata-rata
sama denganku, bukan lulusan sarjana. Namun, semangat mereka dan kegigihan
merekalah yang membuat pabrik ini semakin meningkat dari hari ke hari.
Dengan
kreatifitas dan inovasi-inovasi baru yang kami lakukan untuk usaha ini.
Sekarang pabrik ini sudah mempunyai sepuluh karyawan dan menghasilkan prodak
pakaian yang semakin berkualitas. Aku yakin, dengan tekad dan kegigihan yang
tinggi pabrik garmen ini akan semakin besar dan berkembang.
Yuen Long, 14 Oktober 2013
Juara 2 Lomba Menulis Cerpen yang diadakan Perpus BAI (Bintang Al-Ikhlas) Hong Kong





siip,terus berbagi mbak!
BalasHapusSippp...do'ain ya :-)
BalasHapussemoga isi tulisannya benar juga bisa jadi kenyataan..aamiin.
BalasHapusterus berkarya.
Amin, Makasih ya Kak :-)
BalasHapus