Selasa, 21 Oktober 2014

Semburat Jingga


Semburat Jingga

Empat tahun silam, kutinggalkan buah hatiku bersama neneknya. Membawa luka dan kepedihan yang teramat, kakiku melangkah pergi, meninggalkan Nanda dan Marsya yang terus melambai.
Butiran air mata terus bergulir pecah berderai di senja yang kian tenggelam. Detik waktu seakan berlari membawaku pergi jauh ke tempat yang sangat asing. Tempat yang kemudian merubahku menjadi wanita lain.
Perubahan kecil dimulai saat aku masih di penampungan. Penampilanku yang agak tomboy dan pemberani, ternyata membuat yang lain tertarik denganku. Satu persatu dari mereka menaruh perhatian terhadapku. Mereka berkenalan dan ingin menjadi temanku.
Karena terlalu disegani, aku pun merasa hebat hingga lupa diri. Aku lupa tujuan awalku pergi meninggalkan rumah, meninggalkan kedua anakku. Bahkan aku sempat berbohong bahwa aku masih single.
Perubahan demi perubahan terus menutup jati diriku, menjadikan diriku wanita liar dan bebas. Apalagi di Hong Kong, sudah tak terhitung manusia yang menjadi korban mode dan pergaulan bebas sepertiku.
Sekarang, di negara asing ini, aku biasa dipanggil Raka, seperti nama cowok. Sesuai dengan penampilanku yang tomboy, rock n’roll. Namun, meski aku berpenampilan tomboy, aku tidak tertarik untuk berpacaran sesama jenis. Tak terhitung cewek-cewek centil yang mendekatiku, semua aku tolak. Pernah juga mereka sampai cakar-cakaran berebut perhatianku.
“Wuihhh…Raka, mantap sekali penampilanmu hari ini. Apakah kau ingin hadir ke pesta pertunangannya Rendi dan Lusi?”
        “Ya, tapi sebelum kesana aku ada urusan sebentar.” Aku meninggalkan teman-temanku bersama pasangan-pasangan mereka sesama jenis. Sesampainya di taman belakang Central Library Hong Kong, HP-ku berdering. Kukira dari Linda yang sudah menungguku terlalu lama, tapi ternyata bukan.
Privat Number!
        Ku-reject panggilan itu karena aku tak sudi mengangkat telefon dari orang yang tak kukenal. Namun, sampai tiga kali HP-ku terus berdering.
        “Wai. Pinko a?” jawabku ketus menanyakan siapa gerangan yang menelefonku dengan privat number.
        “Ma, Ma, ini Nanda Ma.”
        “Maaf salah sambung.” hampir kumatikan telefon itu, tapi suara di sebrang sana memberondongku tanpa jeda.
        “Ma…ini Nanda, jangan dimatiin Ma!” hening sebentar, lalu anak sulungku melanjutkan kalimatnya. “Sudah lama Mama tidak menelefon Nanda, dan Dek Marsya. Apa yang terjadi dengan Mama? Nanda kangen Ma!” deg! Aku seperti kejatuhan bogem tepat di jantungku. Nafasku tercekat, saluran pernafasan dalam tubuhku menjelma ruang hampa udara. Aku hampir limbung, tapi aku berusaha untuk menguasai diri. Aku melangkah ke kursi kayu di ujung taman, seraya mendengarkan keluhan buah hatiku.
        “Pulanglah Ma, kami tak butuh uang, tapi kami butuh kasih sayang Mama. Nanda malu melihat penampilan Mama. Teman-teman mengejek Nanda, mereka bilang ‘Mamanya Nanda tomboy kayak preman’. Nanda ingin Mama pulang. Nanda sayang Mama….” Klik. Suara Nanda terputus.
Ah…mungkin pulsanya habis. Nanda, dari mana kau tahu keadaan Mama, Nak. Siapa yang memberitahumu nomer HP Mama? Hatiku bergejolak, terjadi perang bathin yang dasyat di hatiku.
Tak kusangka, Nanda telah beranjak dewasa. Dia tumbuh menjadi anak lelaki yang cerdas dan peka terhadap lingkungan. Aku malu dengannya. Bocah yang baru berusia 10 tahun, bisa lebih tegar dariku. Jika anak lelaki sekecil itu bisa merasa malu, bagaimana denganku.
Ya Allah…kenapa aku bisa seperti ini.
Dretttt…dreeettt…dreeettt…HP-ku bergetar, panggilan masuk dari Linda. Aku sudah tak bersemangat lagi untuk menemuinya, ku-reject panggilan darinya lalu kumatikan HP. Aku hanya ingin sendiri, mengenang masa lalu. Mengenang buah hatiku, orang tuaku dan keluargaku yang lain. Hati ini teriris-iris, sakit. Segumpal penyesalan seketika datang menyesakkan hati.
Matahari sudah mulai menyengat, aku masih duduk termangu. Memutar memori, mencari jejak, dan impian yang telah lama hilang. Hingga matahari berubah jingga di ujung barat, semburatnya memancarkan bayangan bocah berusia 6 dan 4 tahun yang terus melambai. Aku seperti memasuki mesin waktu 4 tahun silam. Senja yang menjadi saksi kepergianku, kini telah mengingatkanku untuk kembali. Pada senja yang sama air mata ini tumpah dalam senandung rindu. Nanda, Marsya, Mama akan segera pulang Nak!
***
        Rumah majikanku sudah gelap. Tuan dan nyonya sudah masuk ke kamar masing-masing. Tiba saatnya aku mandi. Kupandangi cermin di depanku, terlihat wajah lelaki gaul dengan gaya rocker. Lama kupandangi wajah itu, jariku meraba perlahan, lalu menghapus make-up yang melekat di wajah itu. Kupencet facial foam, lalu kucuci mukaku.
Kini, wajah di cermin itu berubah menjadi seorang perempuan. Perempuan yang malang. Terlihat Kristal bening mengalir deras di ujung matanya.
        Nanda, Mama takkan membuatmu malu lagi Nak. Sekarang takkan ada lagi yang mengejekmu karena penampilan Mama. Mama akan segera pulang, sayang. Mencintai dan menyayangimu.
***
        “Raka? Kau tak salah kostum hari ini?” tanya Rendi terkejut.
        “Iya, Ren. Saya ingin berubah. Oh iya maaf, kemaren aku tak datang ke acaramu.”
      “Wow! Surprise! Ini akan menjadi berita besar buat anak-anak. Tapi nggak masalah Ka, ini adalah pilihan.”
    “Ok, aku pergi dulu ya.” kutinggalkan Rendi dan Lusi yang masih tercengang melihat penampilanku yang mencoba menjadi wanita feminim. Mereka pasti merasa sangat aneh, sama seperti yang kurasakan. Malah, aku sendiri merasa seperti banci. Ah…biarlah, aku hanya ingin berubah. Ingin menjadi wanita seutuhnya.
        Kakiku terus melangkah. Menyisir jalan yang sangat asing. Belum pernah kulewati jalan ini, meski sudah 4 tahun aku bekerja di Hong Kong, tepatnya di daerah Wan Chai. Sesekali kubertanya pada anak Indonesia yang kebetulan lewat, hingga aku sampai di sini. Tempat yang kucari, Masjid Ammar Wan Chai. Aku ingin bersujud dan memohon ampun kepadaNya, Sang Pemilik Kehidupan.

Yuen Long, 3 September 2014. 21:04 p.m.
(Cerpen Juara 3 lomba menulis cerpen islami di milad FKMPU tahun 2014) 

2 komentar: