Oleh: NH. Lulu
Sejak kecil aku begitu lincah juga bandel, orang tuaku khawatir melihat perkembanganku yang seperti anak lelaki. Aku paling suka nonton film action dan film kungfu. Waktu masih sekolah aku juga ingin ikut olahraga bela diri tapi orang tua melarangku, namun keinginan itu tak begitu saja surut dari hatiku.
Hasrat ini terus menggebu, mendesau-desau dalam darahku, sampai akhirnya pada suatu sore ketika aku libur kerja, kutemukan selebaran tentang latihan taekwondo. Bagai menemukan berlian jatuh hatiku senang bukan kepalang, segera kuhubungi nomer telepon yang tertera dalam kertas itu dan aku mendaftar ikut latihan hari itu juga.
Betapa semangatnya aku selama ikut latihan taekwondo sampai teman-temanku yang lain terheran-heran.
“Sindu, aku heran denganmu, baru beberapa kali ikut latihan tapi sudah hafal beberapa jurus, kamu juga selalu semangat setiap kali latihan.” Ujar Rina teman latihanku.
“Iya Rin, dari dulu aku ingin ikut olahraga bela diri, tapi baru kesampaian sekarang,” jelasku bersemangat.
Sejak ikut latihan taekwondo, setiap libur kerja pada hari Minggu, waktuku hanya untuk taekwondo, aku tidak mau membuang waktuku untuk jalan-jalan atau sekedar shoping. Aku ingin serius latihan agar aku cepat bisa, mimpiku menjadi wanita tangguh di taekwondo membumbung tinggi membakar semangatku untuk selalu giat latihan. Terbukti ketika mengikuti event lomba, aku berhasil mendapat juara, senangnya tak terkira pengorbanan dan keseriusanku dalam latihan terbayar kontan hari itu juga.
Perlahan tapi pasti, aku mengukir prestasi demi prestasi. Para guru dan teman-temanku kagum akan keberhasilanku hingga akhirnya aku dipercaya menjadi seorang pelatih taekwondo.
***
“Anak-anak, sebelum kita mulai latihan hari ini, mari kita pemanasan terlebih dahulu.” Panduku kepada anak didikku.
“Siap Guru!” Koor anak didikku bersemangat.
Tak mau kalah, aku pun ikut pemanasan melenturkan otot-otot tulangku. Mengayun-ayunkan tangan ke depan ke belakang, mematahkan kepala ke kiri dan ke kanan. Setelah tiga puluh menit pemanasan kami mulai latihan, semangat anak didikku selama latihan taekwondo mengingatkanku pada masa-masa dulu ketika awal aku ikut latihan taekwondo. Wajah-wajah mereka yang masih bingung, dan canggung dalam gerakan taekwondo seperti cermin wajahku 10 tahun yang lalu.
Sepuluh tahun terjun di taekwondo membuat aku tak bisa lepas darinya, aku tidak bisa meninggalkan taekwondo walau hanya sehari, rasanya ada sesuatu yang kurang dan hilang jika hari Minggu aku nggak ke class taekwondo, perasaan hampa merajaiku.
“Guru, Minggu kemaren kok nggak ngajar, kemana? Latihan jadi nggak semangat kalau nggak ada Guru Sindu,” cecar anak didikku.
Lelehan peluh dan helaan nafas tersengal-sengal dihembuskan Randai, anak didikku yang sebentar lagi akan mengikuti ujian naik peringkat. Sudah dua bulan dia mengundur ikut ujian, karena dia belum hafal jurus-jurusnya, tapi dia tidak pernah putus asa, dia sangat antusias dan bersemangat.
Latihan hari ini selesai tepat pukul 7 malam, aku bersama guru pengajar lainnya briefing sebentar untuk mengevaluasi pertemuan kali ini dan setengah jam kemudian ruangan ini sudah kosong.
***
Aku berjalan gontai menuju stasiun kereta, hatiku gelisah, sesekali aku menoleh kebelakang dan sekitar. Kutatap jalanan yang aku tapaki setiap hari Minggu, rembulan dan gemintang menemaniku setiap kali pulang latihan. Hatiku semakin pilu, ketika wajah Sembara, calon suamiku hadir dalam ingatanku.
Akankah Sembara mampu menggantikan mereka? Anak didikku, guru-guru pengajar dan master-masterku di taekwondo. Mereka telah mendarah daging dalam tubuhku, sulit untuk melepaskan kenangan bersama mereka. Tapi, disisi lain aku juga ingin menikah, kembali ke kampung halaman dan membina sebuah rumah tangga. Aku sudah menemukan calon suami dan dia sangat mencintaiku.
Malam semakin larut, semilir angin dingin menerpa wajahku, sunyi dan hening. Sudah beberapa hari ini aku gelisah sejak Sembara menyuruhku pulang dan menikah.
“Dek, kalau sudah finish kontrak, segera pulang. Kita menikah, apa Dek Sindu tidak kepingin hidup dengan Kang Mas? Dua belas tahun Dek Sindu di Hongkong, sekarang sudah saatnya pulang dan hidup di rumah bersama keluarga.” Pinta Sembara dalam sambungan telepon sebulan yang lalu.
Tak kuasa setetes bulir bening keluar dari ujung kelopak mataku, aku ingin menikah dengan Sembara, tapi aku juga tidak ingin meninggalkan taekwondo. Keputusan telah kusepakati, Sembara sedang menunggu kepulanganku, tapi apakah dia tahu perasaanku? Apakah teman-teman dan anak didikku mengerti kegelisahan dan ketidakrelaanku meninggalkan mereka. Adakah yang tahu, besarnya cintaku pada taekwondo….
***
Pagi masih berselimut kabut, fajar mengintip di ufuk timur, semburat jingga perlahan merayap menembus kaca jendela rumah majikanku. Aku sedang membereskan kamar sebelum pergi berlibur, hari ini adalah hari terakhir aku melatih taekwondo, karena besok sore aku akan pulang ke Indonesia.
Palembang, semua orang-orang tercinta menungguku disana. Orang tuaku, saudaraku, dan calon suamiku. Tapi hatiku sedih meninggalkan anak didikku di taekwondo. Taekwondo sudah menjadi separuh dari tubuhku, jadi jika aku meninggalkan taekwondo berarti aku meninggalkan separuh dari tubuhku.
Dear My Lovely
Anak-anakku di taekwondo
Salam hangat penuh cinta
Hal yang paling membahagiakan adalah saat-saat bersama kalian, berada diantara komunitas yang penuh dengan semangat dan penuh perjuangan. Kalian anak didikku yang telah menjadi bagian dari kehidupanku, walau guru sekarang tidak bisa mendampingi kalian latihan taekwondo, tapi guru selalu mendo’akan kalian. Guru akan selalu merindukan kalian, pesan guru cuma satu, teruslah berprestasi dan berbagi ilmu dengan sesama. Guru akan selalu mengenang kalian dan guru tunggu kabar bahagia dari kalian.
Goodluck!
Love you my lovely….
Guru,
Sindu Rahmawanti
Sepucuk surat kutinggalkan untuk anak didikku sebelum kakiku melangkah dari tempat perjuangan. Tempatku mengukir prestasi dan menggapai mimpi, tempatku mengajar dan berbagi ilmu. Tempat yang ingin selalu kukunjungi, tapi akankah aku bisa kembali lagi.
Kini, semua telah terbingkai rapi dalam album kenangan di dalam sanubari. Pesawat Garuda Airline telah membawaku pergi jauh ke ujung daratan bumi pertiwi, tanah kelahiran saksi perjuangan ibu melahirkan seorang bayi lucu bernama Sindu.
Yuen Long, 29 November 2012