Senin, 15 September 2014

Pemburu Mimpi

Hari ini Wandi dilantik menjadi TNI, dan Ari sudah dari tahun lalu bekerja di kantor DPR. Mereka berdua telah membuktikan kebenaran peramal itu. Peramal yang tak sengaja kami temui saat bermain di pasar sore ketika kami masih duduk di bangku SMP. Sekelebat peristiwa itu berputar dalam memoriku. Kami empat sekawan—Aku, Wandi, Ari dan Surya diramal tentang masa depan kami. Surya si kriting diramal akan jadi seorang makelar. Ari si kutu buku akan menjadi perangkat desa. Wandi si tubuh kekar akan jadi TNI, dan aku yang paling apes. Aku diramalkan hanya akan menjadi tukang bakso keliling.

Aku hanya diam. Speechless. Percaya tak percaya, juga takut jika peramal itu benar.

Entahlah, kenapa sekarang aku teringat dengan ramalan itu. Aku pun selalu galau dibuatnya. Setidaknya peramal itu ada benarnya, walau nggak seluruhnya benar. Bukannya aku percaya dengan peramal, tapi tanpa sengaja aku tersugesti tentang ramalan itu. Apalagi setelah ramalan itu menjadi nyata pada kehidupan ketiga sahabatku.

Ari menjadi anggota DPR yang berarti lebih dari sekadar perangkat desa. Surya sudah menekuni profesi makelar bersama bapaknya. Wandi sekarang dilantik menjadi TNI. Tapi aku? Sudah sebulan aku nganggur. Sejak pabrik tekstil tempatku bekerja gulung tikar, aku belum mendapatkan pekerjaan baru.

Aku menjadi pesimis, tak bergairah menjalani hidup, jika akhirnya hanya akan menjadi tukang bakso.

Dalam sunyi, aku masih sering berkhayal tentang salju. Saat gerimis datang, salju pun tak diundang masuk dalam imajinasiku. Kapan aku bisa bekerja di negara yang terdapat salju? Rasanya itu tidak mungkin. Dari mana aku mendapatkan biaya untuk bekerja kesana, jika sekarang saja aku tak punya penghasilan.

Mungkinkah ucapan peramal itu akan menjadi kenyataan? Kemaren Om Supri menawariku untuk jualan bakso gerobak, tapi aku belum menerima tawarannya. Oh Tuhan, apakah memang takdirku menjadi tukang bakso?

Sore ini pertama kalinya aku jualan bakso. Setelah kupikir-pikir daripada aku nganggur, tak apalah aku jualan bakso keliling. Buat apa gengsi kalau memang ini sudah takdirku.

“Bakso…!!! Bakso…!!!” teriakku sambil mendorong gerobak keliling kampung.
“Mas…Mas…beli baksonya.” panggil seorang gadis dari depan rumahnya. Entah mengapa tiba-tiba aku jadi malu. Aku benar-benar malu pada gadis itu. Ternyata tak mudah untuk menakhlukan rasa gengsi ini. Hatiku merutuk diriku sendiri yang tak berguna, aku benci dengan takdirku yang hanya bisa jadi tukang bakso.

Setelah selesai membuatkan dua mangkok bakso untuk gadis itu, aku segera pergi. Kudorong gerobak dengan terburu-buru. Langkahku berhenti di ujung desa, tepat di samping jembatan sungai irigasi.

Awan hitam masih bertengger di langit. Sesekali kilatan cahaya terpancar disertai gelugur guruh. Angin bertiup kencang menggoyangkan dahan-dahan pepohonan. Malam yang mencekam.

Pukul satu dini hari, setelah membereskan gerobak dan membersihkan diri, aku beringsut dibawah selimut kumal yang biasa menemani malam-malamku. Di luar, langit perlahan menebar rinai air hujan. Semilir air, masuk menembus celah dinding kayu kamarku. Masih dengan harapan bermimpi dengan salju, kurapalkan do’a-do’a sebelum tidur.

Malam yang indah. Langit menyebarkan salju-salju lembut ke daratan tempatku berpijak. Dingin menelusup di sela-sela jaket, menusuk kulit. Gigi-gigiku gemeretak. Sesekali kulipat tanganku kedepan agar lebih hangat. Namun, tetap saja terasa dingin.

Aku berjalan bersama seorang teman baru yang masih agak asing. Dalam waktu 15 menit kami sampai di tempat kontrakan. Dia segera masuk kedalam. Namun, entah mengapa kakiku berhenti di tengah padang salju. Pekarangan rumah kontrakan yang agak luas, tertutup sempurna oleh salju yang sudah dua hari turun.

Aku mendongak ke atas, membiarkan salju-salju menciumi wajahku. Kurentangkan kedua tangan, membiarkan angin menerpa tubuhku. Mendekap erat dalam dingin. Kunikmati dingin yang menjalar sampai ke ulu hati. Aku tersenyum, teringat sahabat karib pemburu mimpi, Surya, Ari, dan Wandi.

Kami selalu melakukan hal ini ketika hujan turun. Di tengah padang ilalang, di bawah air hujan yang deras mengguyur bumi. Aku selalu berkhayal air itu adalah salju. Setelah itu mereka bertiga akan mengejekku.

“Salju nenek moyangmu!” ucap mereka serempak sambil menengul kepalaku. Aku menyeringai. Mereka tahu, aku tergila-gila dengan salju, hingga mereka menjulukiku cucunya Mbah Juju.

Aku masih tak percaya dengan apa yang aku lakukan saat ini. Benarkah ini salju? Seperti inikah dinginnya salju? Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah hamparan salju. Loteng-loteng perumahan, jalan raya, pepohohan, semua tertutup salju.

Tuhan, apa aku sedang bermimpi? Aku memukul kepalaku mencoba membuktikan bahwa ini hanya mimpi, tapi aku marasakan sakit. Masih tak percaya, kucubit lengatku, ada bekas merah dan sakit yang kurasakan. Ini sungguh nyata.

Aku tidak sedang bermimpi, aku benar-benar sedang bersama salju. Salju yang selama ini ingin kutemui. Kini aku bukan cucunya Mbah Juju lagi, penyakit gila itu sudah tak melekat lagi padaku, karena aku telah menemukan penyembuhnya yaitu salju. Sekarang aku benar-benar berada di padang salju, seperti khayalanku di masa lalu.

Kakakku yang bekerja di Taiwan membiayaiku untuk bekerja di Korea. Dia meminjamkan uangnya kepadaku untuk biaya proses ke Korea dengan persyaratan aku akan mengembalikan uangnya setelah aku bekerja.

Dengan segala keuletan dan semangatku dalam belajar bahasa Korea, dalam satu tahun aku telah berhasil melewati proses pemberangkatan yang lumayan sulit. Diantara kawan satu desa yang ikut ujian bahasa korea, hanya aku yang lulus. Padahal mereka belajar bahasa lebih lama dariku. Mungkin, inilah takdir Tuhan untukku. Nikmat dari sebuah kesabaran dan perjuangan.

Aku telah rela memilih menjadi tukang bakso daripada harus menganggur dan bergantung pada orang lain. Dan sekarang, syukurlah Tuhan mengabulkan doa dan impianku untuk bekerja di negara penghasil salju.

Sekarang aku baru seminggu di Korea, bekerja di pabrik Samsung Electronics, perusahaan pembuat perangkat elektronik terbesar di dunia yang berkantor pusat di Seocho Samsung Town di Seoul, Korea Selatan. Bak gayung bersambut. Salju langsung menyambut kedatanganku. Rindu yang mengendap selama 25 tahun mencair sudah. Mimpi terbesar dalam hidupku terwujud menjadi nyata.

Note: Cerpen ini spesial buat teman-teman di kampung halaman

Lau Fhau Shan, 29 Mei 2014 

1 komentar: